HomeCelotehFadli Tak Puas Pada Polisi?

Fadli Tak Puas Pada Polisi?

Kecil Besar

“Ketika engkau dihasut dan di pikiranmu terpaut, terjadilah pertempuran hati. Sejenak engkau terdiam, berselimut tanda tanya: ada apa, kenapa, mengapa?” – Netral, Pertempuran Hati


PinterPolitik.com

Tahun depan bakal jadi tahun yang tersuram untuk DPR RI. Bukan kenapa-kenapa ya, soalnya selama 5 tahun ini, lembaga legislatif itu selalu menjadi center of gravity – keren juga istilahnya hehe – dan menjadi sorotan utama pemberitaan politik nasional.

Tokoh-tokoh pimpinannya emang selalu mengundang kontroversi hati. Publik tentu ingat bagaimana kiprah “Papa” Setya Novanto sebagai Ketua DPR yang akhirnya berujung benjol sebesar bakpao di dahi dan sel tahanan di Lapas Sukamiskin.

Lalu ada pula kiprah duo Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah dan Fadli Zon yang terkenal keras dalam pernyataan-pernyataan politik serta kritik mereka terhadap pemerintah. Keduanya ini kompak banget, bisa lah dibandingkan dengan Upin dan Ipin. Hehe, pizzz bang.

Nah, tahun depan akan jadi tahun tersuram karena kemungkinan besar nggak ada lagi suara-suara keras dari pimpinan DPR. Papa Setnov udah pasti masih di penjara ya. Kecuali kalau doi lagi pengen makan Nasi Padang. Upppss. Hehehe.

Lalu, Fahri nggak maju jadi anggota DPR lagi. Sementara Fadli kemungkinan besar nggak akan ada di kursi pimpinan dewan. Mungkin karena alasan itulah Fadli memanfaatkan banget momen-momen di sisa masa kekuasanya.

Hal ini tampak dari pernyataan terbarunya yang menilai pengungkapan fakta-fakta kerusuhan 22 Mei 2019 oleh pemerintah mengandung bias.

“Harusnya lebih holistis. Jangan menjadi satu versi”, begitu kata Fadli.

Duh, Bang, yang membeberkan fakta-fakta itu kan polisi ya. Jadi Bang Fadli nggak puas nih sama kinerja kepolisian? Upps. Hehe.

Tapi, apa yang dibilang Fadli ada benarnya kok. Soalnya, seperti yang disampaikan oleh Amnesty International Indonesia, ada beberapa hal yang kurang lengkap dari penjelasan yang diberikan oleh pihak kepolisian.

Baca juga :  Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Misalnya terkait korban yang tewas dan pelaku yang melakukan penembakan di malam hingga dini hari kerusuhan tersebut, tak ada penjelasan yang lengkap tentang itu. Menurut Amnesty International, polisi gagal mengungkap hal yang penting untuk para keluarga korban, yaitu seperti apa konteks kejadian yang kala itu terjadi.

Wih, bener juga sih yang dibilang Amnesty International. Soalnya yang bikin heboh kerusuhan 22 Mei 2019 lalu emang terkait korban jiwa itu. Masa publik tidak mendapatkan kejelasan terkait hal itu?

Apa perlu nyewa Sherlock Holmes dan Watson buat menyelidiki serta membuka semua tabir kegelapannya?

Atau sekalian panggil Batman aja kali ya, biar doi bisa bilang: “It’s not who I am underneath, but what I do that defines me.”

Yang nggak ngerti artinya, silahkan di-Googling ya. Google nggak diblokir Kemenkominfo kok. Lagian ada VPN juga. Uppps. Hehehe. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Amien Ingin Anaknya Jadi Menteri Jokowi?

“Intinya supaya tidak ada lagi cebong dan kampret, sehingga yang ada tinggal cebong bersayap, artinya sudah akur.” – Amien Rais PinterPolitik.com Pertemuan Prabowo dan Amien Rais...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

Mega-SBY, A Birthday and Three Funerals

“Taufiq mendukung SBY usai terpilih sebagai presiden untuk kedua kalinya. Begitu pula SBY di kemudian hari menginstruksikan kadernya di kursi parlemen untuk memilih Taufiq...

Di Balik Nadiem Menteri Jokowi

Sehari setelah pelantikan presiden, Jokowi memanggil sejumlah pihak ke Istana yang ditengarai sebagai calon-calon menteri yang akan mengisi kabinet pada periode kedua kepemimpinannya. Di...

Menyoal RUU Masyarakat Hukum Adat

RUU Masyarakat Hukum Adat menjadi salah satu rancangan undang-undang yang masuk ke dalam Prolegnas Prioritas DPR. Meski begitu, lambatnya pemrosesan RUU ini bisa jadi...

Hari Rabu: Jokowi’s Best Day?

“It’s the best day ever!” – SpongeBob Squarepants, “Best Day Ever” (2006) PinterPolitik.com Buat kalian yang kini bisa disebut sebagai generasi milenial, pasti pernah tuh ngalamin rasanya nggak sabar menunggu-nunggu...

Menyingkap Ngabalinisasi ala Rocky Gerung

Rocky Gerung menyebut para ketum parpol koalisi tengah alami Ngabalinisasi. Apa sebenarnya arti kata Ngabalinisasi?

More Stories

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.