HomeNalar PolitikKoalisi Trisula Batal di Jatim

Koalisi Trisula Batal di Jatim

Kecil Besar

PAN sudah merapat ke kubu Khofifah, sedangkan PKS dan Gerindra memilih di samping Gus Ipul. Koalisi ‘trisula maut’ tersebut gagal di Jatim. 


PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]emilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim) terus mengalami perubahan alur. Koalisi antara Gerindra, PAN dan Pe-ka-es sudah dipastikan batal. PAN telah memutuskan untuk mengusung Khofifah dan Emil Dardak. Sementara itu, Pe-ka-es dan Gerindra malah merapatkan diri ke kubu Gus Ipul. Otomatis, koalisi ‘trisula maut’ pecah kongsi dan impian ‘politik sendiri’ ala Gerindra batal.

Sebenarnya manuver yang dilakukan oleh Gerindra, PAN maupun Pe-ka-es cukup mengejutkan. Soalnya ketiga partai ini dan Gerindra sudah diidentikkan sebagai tiga serangkai yang sulit terpisahkan. Bahkan koalisi ini terbukti sukses pada Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Tapi, mengapa di Jatim malah memuutskan untuk berpisah? Hm, di sini saya sering merasa bingung.

Namanya politik apa aja bisa terjadi. Hari ini bisa aja mesra-mesraan, besok belum tentu demikian. Hari ini saling sikut, besok malah berubah jadi pengikut. Iya memang aneh tapi nyata lho. Konon, dalam berpolitik hanya satu hal yang nggak berubah yaitu kepentingan. Makanya, nggak heran kalau banyak yang bilang kalau politik dan kepentingan itu seperti ‘motor dan bensin’, berbeda rupa namun saling melengkapi.

Lantas manuver yang dilakukan oleh Gerindra, PAN dan Pe-ka-es menjelang Pilgub Jatim, apakah ada indikasi demikian? Itu sudah pasti. Mungkin saat di Jakarta kemarin, mereka bisa menang karena punya kandidat yang ‘kuat’. Tapi, kalau di Jatim mereka kayak-nya nggak punya sosok yang mumpuni untuk diusung.

Baca juga :  Djojohadikusumo-Baswedan Bertemu di 33

Maka, mau nggak mau, suka nggak suka, enak nggak enak, mereka perlu banting setir atau pecah kongsi. Tentu ini bertujuan agar mereka nggak kehilangan suara di Jatim. Saya pikir sah-sah aja sih, soal manuver yang dilakukan oleh ketiga ‘trisula maut’ ini. Yah, nggak papa kalau ada yang ngecap sebagai ‘kutu loncat’, dari pada ujung-ujung ‘mati kutu’ di Jatim. Emang mau kayak gitu? (K-32)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

PDIP dan Gerindra Ngos-ngosan

PDI Perjuangan dan Gerindra diprediksi bakal ngos-ngosan dalam Pilgub Jabar nanti. Ada apa ya? PinterPolitik.com Pilgub Jabar kian dekat. Beberapa Partai Politik (Parpol) pun mulai berlomba-lomba...

Arumi, ‘Srikandi Baru’ Puan

Arumi resmi menjadi “srikandi baru” PUAN. Maksudnya gimana? PinterPolitik.com Fenomena artis berpolitik udah bukan hal baru dalam dunia politik tanah air. Partai Amanat Nasional (PAN) termasuk...

Megawati ‘Biro Jodoh’ Jokowi

Megawati tengah mencari calon pendamping Jokowi. Alih profesi jadi ‘biro jodoh’ ya, Bu? PinterPolitik.com Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu laksana lilin yang bernyala. Lilin...