HomeNalar PolitikNgapain Takut Sama Teroris?

Ngapain Takut Sama Teroris?

Kecil Besar

“Ngapain takut sama teroris, bukankah teroris adalah bagian dari kita?” kata Presiden Joko Widodo.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]P[/dropcap]residen Joko Widodo (Jokowi) memang sosok yang unik, kelewat unik malah. Salah satunya karena sering melemparkan guyonan di depan publik. Dalam penutupan Rapat Koordinasi Nasional Kamar Dagang Indonesia (Kadin) 2017 kemarin, ia menyoroti penolakan sekelompok masyarakat terhadap kebijakan bebas visa masuk Indonesia dengan sedikit guyon.

“Orang negara lain dibuka kok kita enggak buka. Katanya ada teroris, kan terorisnya dari kita,” kata Jokowi yang disertai tawa para hadirin. Namun komentar ini memantik banyak tanggapan dari netizen. Ada yang bilang guyonan Jokowi dialamatkan pada seluruh masyarakat Indonesia, tapi ada juga yang mengatakan kalau seorang presiden tidak layak berbicara begitu, soalnya bisa diterima dunia sebagai pernyataan resmi dari seorang kepala negara.

Memang candaan pakde Joko agak aneh, tapi ada benarnya juga. Memang benar kan teroris bagian dari kita, sama seperti kita, manusia yang masih bernapas, masih suka ngupil, masih ngigau, dan yang pasti sama-sama diciptakan Tuhan. Buktinya banyak warga Indonesia yang gabung dengan ISIS.

So what? Kenapa harus baperan? Buktinya sampe sekarang teroris belum bisa masuk ke Indonesia kan? Ngapain mencemaskan yang belum terjadi? Justru yang perlu kita cermati adalah maksud dibalik guyonan ini. Pakde Joko sepertinya sengaja guyon tentang teroris biar kita pada mikir, jadi jangan baper lalu jadi hatters dadakan. Sebab guyon teroris itu tersirat tujuan lain.

Guyon teroris hanya sebagai bumbu untuk membuat wacana bebas visa laku keras di bursa politik. Terutama mengenai kemungkinan investasi positif dan negatif yang datang dari timur maupun barat. Investasi ini tentu akan mendatangkan dampak yang baik dan juga buruk.

Baca juga :  "Sell Indonesia" dan Spirit 1928

Termasuk risiko dari tujuan pengadaan visa gratis yang bertujuan agar para investor asing masuk ke Indonesia. Sisi positifnya, berpotensi meningkatkan perekonomian dan pembangunan di Indonesia. Tapi sisi buruknya, Neolib, angka kemiskinan dan kejahatan Indonesia pasti akan semakin tumbuh subur.

Semoga aja bangsa ini tak dijual ke pihak asing, terutama Tiongkok yang hingga saat ini memang getol berinvestasi di Indonesia. Terbukti sudah berkali-kali Warga negara Tiongkok tertangkap masuk ke Indonesia tanpa identitas yang lengkap, maksudnya apa coba?

Yahh, Ini hanya sekedar timbang- menimbang dan antisipasi di masa depan. Sekarang tergantung dari kebijakan dan keputusan pakde Joko aja. Kita yang cuma modal sandal jepit dan kaos oblong, bisa apa? (K-32)

 

 

 

 

 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

PDIP dan Gerindra Ngos-ngosan

PDI Perjuangan dan Gerindra diprediksi bakal ngos-ngosan dalam Pilgub Jabar nanti. Ada apa ya? PinterPolitik.com Pilgub Jabar kian dekat. Beberapa Partai Politik (Parpol) pun mulai berlomba-lomba...

Arumi, ‘Srikandi Baru’ Puan

Arumi resmi menjadi “srikandi baru” PUAN. Maksudnya gimana? PinterPolitik.com Fenomena artis berpolitik udah bukan hal baru dalam dunia politik tanah air. Partai Amanat Nasional (PAN) termasuk...

Megawati ‘Biro Jodoh’ Jokowi

Megawati tengah mencari calon pendamping Jokowi. Alih profesi jadi ‘biro jodoh’ ya, Bu? PinterPolitik.com Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu laksana lilin yang bernyala. Lilin...