HomeCelotehPBNU Tak Setuju, Ma’ruf Terbukti Lemah?

PBNU Tak Setuju, Ma’ruf Terbukti Lemah?

Kecil Besar

“Nahdlatul Ulama membersamai pihak-pihak yang berupaya mencari keadilan dengan menempuh jalur konstitusional dengan mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi”. – Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU


PinterPolitik.com

Pasca demonstrasi yang berujung pada kerusuhan, banyak pihak yang memutuskan untuk menggunakan jalur konstitusional lewat judicial review untuk menggugat UU Cipta Kerja yang beberapa hari lalu disahkan oleh DPR.

Salah satunya adalah yang akan dilakukan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dalam keterangan resminya, pimpinan ormas Islam terbesar di Indonesia ini mengimbau masyarakat untuk menahan hasrat turun ke jalan mengingat pandemi Covid-19 belum selesai.

PBNU menyebutkan bahwa upaya hukum adalah jalur terbaik dan terhormat dalam mencari keadilan. PBNU juga menggarisbawahi bahwa UU Cipta Kerja jelas merugikan rakyat kecil dan cenderung menguntungkan kelompok kapitalis.

NU secara khusus juga menyoroti pasal yang mengatur sektor pendidikan yang di dalamnya disebut berpotensi melahirkan komersialisasi pendidikan.

Demikian pun dengan sektor ketenagakerjaan utamanya terkait sistem kontrak kerja yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi para buruh atau pekerja. Pun halnya dengan persoalan produk halal yang masih perlu dibahas lagi lebih lanjut ketentuannya.

Hmm, wait. Ini PBNU nggak salah nih? Bukannya Wakil Presiden Ma’ruf Amin pernah menyatakan persetujuannya pada produk hukum ini? Pada Februari 2020 lalu, Ma’ruf emang sempat bilang bahwa UU Cipta Kerja punya dampak positif bagi perekonomian Indonesia dan mendorong agar proses legislasinya bisa segera selesai.

Artinya, kalau PBNU masih bisa dianggap sebagai entitas yang menyatu dengan garis politik Ma’ruf Amin sebagai mantan orang nomor satu di organisasi tersebut, harusnya kebijakan tentang UU Cipta Kerja ini bisa didukung kan ya? Upps.

Yang jelas, ada 2 hal yang bisa disimpulkan dari kebijakan yang diambil oleh PBNU ini.

Pertama, boleh jadi memang ada penurunan pengaruh Ma’ruf Amin di pemerintahan Presiden Jokowi. Bisa dibilang kekuatan politiknya melemah. Habisnya kalau posisi Ma’ruf masih kuat, harusnya sikap politik NU akan jadi titik tawar persoalan politik ini.

Kedua, di sisi yang sebaliknya, boleh jadi ini sebetulnya adalah cara PBNU untuk meredam eskalasi konflik. Mengajak masyarakat untuk menempuh jalur judicial review tentu jadi jalan yang jitu untuk meredam aksi demonstrasi. Artinya, PBNU dan pemerintah memang masih ada dalam hubungan segaris dan langkah judicial review ini hanya menjadi semacam strategi politik semata.

Hmmm, entahlah teori mana yang lebih masuk akal. Yang jelas, jika benar posisi Ma’ruf Amin di pemerintahan masih kuat, maka UU Cipta Kerja ini adalah ajang pembuktiannya. Dan hingga saat ini publik masih belum mendengar pendapat dari sang wapres.

Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor ‘Receh’ Jokowi

“Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.” PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono ‘Si Pengguncang’ Dunia

“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

“Kamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kita”. – Odysseus, dalam film “Troy” PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

Ma’ruf Amin yang Dirindukan

“I miss you, I miss you” – blink-182, grup band pop-punk asal Amerika Serikat PinterPolitik.com Tahun 2020 baru saja dimulai dengan memasuki awal bulan Januari. Namun,...

Prabowo vs Ma’ruf ‘Panaskan’ Tangsel

“Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih” – Jenderal Soedirman, Jenderal Revolusi Indonesia PinterPolitik.com Adakah di sini yang nge-fans sama Cristiano Ronaldo...

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

More Stories

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk — tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...