HomeTrending

Trending

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Obat Bius Termurah

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Paradoks Elite Genderuwo Lokal

“Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli! Apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu!” ~ Wiji Thukul PinterPolitik.com Wakil Ketua Tim...

Jokowi Milenial Dan Intoleransi

“Hidupku dibayangi zat abadi. Zat itu menganugerahiku sebuah imajinasi. Syukurku sampai hari ini imajinasi itulah yang setia membantu menafkahi hidup dan tubuhku pun merespon...

The Impact of the U.S. Midterms Election on U.S.-Indonesia Relations

In the U.S. midterm elections this week, Democrats took control of the House of Representatives, the U.S. lower house of Congress, for the first...

Megawati Pensiun, Akhir Digdaya PDIP

Megawati mengaku “malu”, kini ia adalah ketua umum partai tertua di Indonesia. Seribu pertanyaan membentang, akan seperti apa nasib PDIP jika putri Soekarno itu...

PSI Partai Unicorn?

"PSI yang saya lihat sedang berjuang keras menjadi unicorn dalam dunia kepartaian Indonesia, di Tanah Air kita. Modalnya adalah semangat dan kerja keras," Jokowi PinterPolitik.com Unicorn...

More Stories

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Obat Bius Termurah