HomeCelotehSilat Djarot di Ronde Pendek

Silat Djarot di Ronde Pendek

Kecil Besar

Om Djarot bilang lebih baik Gubernur Jakarta dipilih oleh DPRD. Menangis darah lah kalian pejuang demokrasi!


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]B[/dropcap]elakangan, beberapa kebijakan yang direncanakan oleh Om Djarot Saiful Hidayat mendadak menuai kontroversi hati masyarakat – pinjam istilah Vicky Prasetyo biar kelihatan keren.

Lihat saja, rencana Om Djarot melarang sepeda motor di kawasan Sudirman misalnya membuat pengguna sepeda motor ketar-ketir. Kebijakan ini seolah menjadi perang terbuka antara orang kaya dan orang miskin – kelompok pemobil vs kelompok pemotor.

Lalu, Om Djarot juga berencana untuk mewajibkan setiap pemilik mobil untuk memiliki garasi. Kalau tidak punya garasi? Mobil yang diparkir sembarangan akan diderek, sedang yang baru dibeli tidak akan dikeluarkan STNK-nya. Lha, habis mobil sekarang makin murah harganya, Dul, DP-nya saja sebelas dua belas sama harga apartemen Meikarta.

Dua program itu sebenarnya punya tujuan agar Jakarta makin tertib dan bebas macet. Tapi, masalahnya transportasi umum kita kualitasnya belum baik di kota ini.

Lihat Singapura yang saat ini transportasi umumnya terbaik nomor 8 di dunia.

Jakarta? Peringkat 5 di dunia, tetapi sebagai yang terburuk.

Jalur Trans Jakarta koridor 13 Ciledug-Tendean misalnya, tingginya bukan main. Lebih cocok dipakai buat syuting Uji Nyali. Lama-lama bisa disewa buat olahraga bungee jumping juga.

Lalu, saat semua orang ribut-ribut tentang PKI, lagi-lagi Om Djarot malah melemparkan usulan nyeleneh bin ajaib. Menurut Om Djarot, Gubernur Jakarta sebaiknya kembali dipilih oleh DPRD. Pemilihan langsung bikin gaduh, jadi kata Om Djarot biar DPRD saja yang pilih.

Oke, fine! Sekalian saja seperti zaman Orba, presiden saja yang tunjuk langsung gubernur-nya. Beres. Sekalian saja presidennya pimpin negara selama 32 tahun lagi, biar mereka yang tewas pada 1998 menangis darah di kuburan karena demokrasi kita tidak ada hasilnya!

Sebenarnya, aneh juga melihat kepemimpinan Om Djarot. Saya sendiri menganggap Om Djarot sedang terkena sindrom ‘orang kuasa baru’ alias OKB – bukan ‘orang kaya baru’ ya seperti bos First Travel.

Bagaimana tidak, Om Djarot dikasih kekuasaan di ibukota dengan kewenangan yang luar biasa besar, anggaran yang tiap tahunnya mencapai Rp 70 triliun, dan posisi yang strategis di ibukota. Untuk diketahui, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta pada tahun 2016 mencapai Rp 2.177 triliun – atau hampir 20 persen PDB nasional.

Dengan semua kekuasaan itu, Om Djarot hanya punya masa waktu berkuasa selama kurang lebih 6 bulan! 6 bulan, tong! Atau hanya 10 persen dari  lama waktu berkuasa gubernur. Ibaratnya seperti acara-acara di TV, orang boleh belanja apa saja secara gratis di supermarket, tetapi hanya boleh belanja dalam 1 menit!

Itulah yang terjadi pada Om Djarot. Akibatnya, pertanyaan yang muncul adalah ‘gua mesti ngapain nih, beli apa dulu, bikin apa dulu’. Kelihatan lah akhirnya ketika uji coba pelarangan motor dibatalkan. Gubernurnya kagok membuat kebijakan dan tidak direncanakan dengan matang.

Tinggal sebulan lagi Om Djarot berkuasa dan entah jurus silat apa lagi yang akan ia buat.

Sementara itu, dua sejoli berkaca-mata – yang satu dengan potongan rambut baru ala-ala anak ospek  – makin tidak sabar mengambil alih kemudi. Apalagi di tengah mesin reklamasi yang mulai dipanaskan oleh Menko Kemaritiman, rasa-rasanya makin tidak sabar untuk segera ospek dan membiarkan laut yang sudah ditimbun itu kembali didiami oleh ikan-ikan yang bosan pada asinnya air laut teluk Jakarta yang keruh.

“Jiah, makin puitis kau kayak Taufiq Ismail yang men-demagogikan PKI, Dul”.

Makan dulu, tong. Terus mandi lah. Badan kau baunya kayak selokan, sama seperti selokan Jakarta yang sepertinya terakhir kali dibersihkan oleh gubernur yang kau penjara itu. (S13)

 

 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Wiranto Pelanggar HAM?

Wiranto diduga terlibat namun bukan sebagai eksekutor, akan tetapi sebagai orang dibalik layar tragedi tersebut, hal itu dikarenakan posisinya pada masa itu sebagai Panglima...

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Giring Ingin Balik Nyanyi Lagi?

Video Ketum PSI Giring Ganesha nyanyikan lagu Nidji tersebar di media sosial. Apakah Giring ingin balik nyanyi lagi dan lupakan politik?

Melirik Romantisme TGB-Somad

Netizen mendukung Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Dr. Zainul Majdi dan Ustadz Abdul Somad untuk maju sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2019. PinterPolitik.com Gubernur Nusa...

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.