HomeCelotehSepeda Jokowi vs Kuda Prabowo

Sepeda Jokowi vs Kuda Prabowo

Kecil Besar

Balapan beberapa saat lagi akan dimulai!


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]M[/dropcap]inggu pagi yang cerah, rumah di sudut gang itu sudah riuh oleh suara televisi. Abdul bela-belain bangun pagi untuk menonton balapan dengan tajuk “Sepeda vs Kuda di Setengah Musim”.

“Di sudut merah, mengendarai sepeda balap – yang bisa didapatkan dengan menyebut 5 nama ikan – pria yang telah berlatih dari barat sampai ke timur dengan dukungan kelompok balap KKR alias Koalisi Kok Ribut: Paakkk-deee”.

Begitulah suara keras komentator di televisi.

 “Dan di sudut biru, mengendarai kuda berjenis lusiano – yang kalau mau punya, harus gadai sertifikat tanah, rumah, perhiasan, BPKB motor, ijazah dan surat nikah karena harganya Rp 3 miliar per ekor – pria yang latihan di area rumahnya sendiri dengan dukungan KKK alias Koalisi Kok Kabur, Jeeeenn-deralll”.

Abdul bersemangat! Sayang, tidak ada pop corn untuk menemani, yang ada hanya singkong rebus sisa semalam. Maklum, ekonomi lagi lesu dan daya beli melemah!

“Balapan ini adalah uji kecepatan dan ketangkasan.”

“Kedua pebalap telah bersiap-siap! Tiga, dua, satuu!” Doorrr! Suara pistol menandai dimulainya perlombaan.

“Kita saksikan, pemirsa, kedua pebalap saling susul. Pakde terlihat mengayuh dengan cepat! Sementara Jenderal tidak mau kalah, memecut kudanya agar berlari cepat”.

“Pakde sejauh ini masih unggul!”

“Wow, terlihat ada seorang pebalap mendekati Pakde! Ah, dia adalah Papamin Tasaham – nama yang aneh pemirsa. Tapi, ahhh, sayang sekali, Papamin terjatuh! Walaupun jatuh, ia bangkit kembali dan melanjutkan pertandingan. Terlihat penonton membentangkan spanduk bertuliskan ‘Freeport’ – entah apa artinya itu.”

 “Lalu, muncul lagi seorang pebalap berbaju kotak-kotak mendekati Pakde. Ia membawa spanduk bertuliskan ‘tangkap maling-maling’.”

“Dan, ahhh, sayang sekali, pemirsa! Ia juga terjatuh dengan keras dan terluka parah. Pakde sampai harus melambat gara-gara itu. Terlihat penonton berpakaian putih-putih dengan tulisan ‘212’ bersorak-sorai!”

“Akibat insiden itu, akhirnya Jenderal berhasil melewati Pakde! Terlihat juga ada dua orang yang menunggang satu kuda dengan spanduk bertuliskan ‘Oke-Oce’ – entah apa artinya. Di belakangnya juga ada pria berpakaian putih-putih yang begitu bersemangat berteriak-teriak – wah, kayak orator demo kelihatannya!”

“Jenderal melaju dengan kecepatan penuh! Ow ow ow, ada lubang menghadang di depan! Jenderal berhasil menghindar dua lubang itu yang kelihatan bertuliskan ‘Per Puor Mas’ dan ‘Rekla Masi’!”

“Tapi, sayang, Oke-Oce terjatuh ke dalam lubang Rekla Masi! Dan, ahh, pria berpakaian putih-putih membelokkan kudanya ke luar arena! Wah, dia kaburr?”

“Wow, Pakde akhirnya bisa menyusul! Walaupun demikian, lubang-lubang rintangan di depannya juga menanti!

“Pakde berhasil melewati lubang pertama bertuliskan ‘Pe Ka’i’, lubang kedua bertuliskan ‘5.000 senjata’ juga dilewati, dan …! Ahh, sayang sekali roda sepeda nyangkut di lubang ketiga bertuliskan ‘Petu Gaspartai’!”

“Kesempatan Jenderal untuk menyusul? Dan, ahayy! Sayang pemirsa, kuda Jenderal terjatuh! Tampaknya kelelahan! Apa nggak dikasih makan dan minum? Habis modal mungkin?”

“Wasit SMRC, CSIS, Median dan KedaiKopi memutuskan pertandingan dihentikan dengan hasil keunggulan Pakde. Perlombaan akan dilanjutkan di 2019”.

Plakkk!

Baca juga :  MBG dan Runtuhnya 'Republik Tepung'

Sebuah sandal jepit mengenai tangan Abdul. Pendekar berdaster berdiri di ujung pintu!

“Woi, Dul! Nonton tipi pelan-pelan! Didemo orang sekelurahan nanti! Mandi sana, badan lu bau roket ilmuwan bodong. Ciee, yang pedekate cewek!”

Busyet, bini gue dah jadi kayak pendekar silat!

(S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.