HomeCelotehRizieq ‘Cawapres Tameng’ Jokowi

Rizieq ‘Cawapres Tameng’ Jokowi

“Renas 212 berikhtiar agar tokoh Islam diberikan proporsi yang sesuai. Saya kira Habib (Rizieq) sebagai pemimpin dan penentu umat Islam Indonesia akan bagus apabila berdampingan dengan Jokowi,” ~ Koordinator Renas 212 JPRI, Muhamad Nasir.


PinterPolitik.com

[dropcap]M[/dropcap]enjelang tahun Pemilu, dukungan terhadap Capres tertentu tidak melulu loh datang dari Partai Politik. Ada kalanya dukungan datang dari relawan bentukan masyarakat secara swadaya. Ya seperti Relawan Nasional 212 Jokowi Presiden Republik Indonesia (Renas 212 JPRI) ini. Loh tapi kok namanya ada embel-embel 212 ya.

Meski ada angka 212 dalam nama relawan pendukung Jokowi ini, bukan berarti relawan ini lantas berafiliasi dengan gerakan 212 yang itu loh. Ya, meskipun demikian pengurus Renas 212 JPRI gak menampik pernah mengikuti aksi bela Islam 212 tempo lalu itu. Lah gak berafiliasi tapi pengurusnya juga alumni 212, ini gimana toh, eike jadi pucing pala barbie ni.

Kata Koordinator Renas 212 JPRI, Muhammad Nasir, angka 212 itu bermakna dua kali sebagai Walikota Solo, satu kali sebagai Gubernur DKI, dan Insya Allah nanti sebagai Presiden RI yang kedua kalinya. Sa ae lau nyocokin filosofinya, hahaha. Tapi gegara ada angka 212-nya eike tetep bingung bedain sama yang gerakan Bela Islam 212 yang asli. Wedew.

Meski bukan berasal dari asal muasal yang sama, siapa sangka dua-duanya mengidolakan tokoh Islam yang sama. Siapa lagi coba kalau bukan Habib Rizieq Shihab. Uniknya nih, Renas 212 JPRI mendukung Imam Besar Front Pembela Islam ini untuk menjadi Cawapres Jokowi di Pilpres 2019. Mantap Jiwa. Jokowi-Rizieq? Mmm, boleh juga lah ya.

Boleh nih ide Renas 212 JPRI dijadikan momentum bagi masyarakat agar gak terpecah belah lagi. Kan secara selama ini masyarakat melihat sosok Rizieq dikesankan sebagai pihak antagonis dari Presiden Jokowi. Ya kayak gak akur gitu deh. Dengan adanya ide ini, kan isu itu bisa mereda. Kan lumayan Rizieq bisa jadi tameng Jokowi kalau ada isu agama yang dipolitisir. Buahahaha.

Karena bagaimanapun juga sebenarnya Jokowi sebagai kepala Pemerintahan itu tetap membutuhkan sosok agamis sebagai pendamping untuk merangkul basis pemilih umat Islam. Ya itu karena dalam satu sudut pandang tertentu, Pemerintah harus memiliki baik “gembala” maupun “tukang daging”. Seperti halnya yang dikatakan filsuf Voltire (1694-1778): “Governments need to have both shepherds and butchers.” (K16)

Baca juga :  Saatnya Jokowi Tinggalkan Relawan "Toxic"?
spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Membaca Pengaruh Jokowi di 2024

Lontaran ciri-ciri pemimpin yang pikirkan rakyat seperti kerutan dan rambut putih dari Jokowi jadi perbincangan. Inikah cara Jokowi relevan di 2024?

Zulhas dan Bisnis Jastip Menjanjikan

Nama Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) disebutkan Prof. Karomani soal kasus penitipan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila).

PDIP Bakal Gabung KIB?

“Jadi warnanya tidak jauh dari yang ada di bola ini (Al Rihla)” – Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar PinterPolitik.com Demam Piala Dunia 2022 Qatar rupanya...

Saatnya Jokowi Tinggalkan Relawan “Toxic”?

“Kita gemes, Pak, ingin melawan mereka. Kalau mau tempur lapangan, kita lebih banyak” –  Benny Rhamdani, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI)  PinterPolitik.com Si vis...

Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

“Ganjar itu jadi Gubernur (Jateng) jangan lupa, baik yang pertama dan kedua itu, justru panglima perangnya Puan Maharani,” –   Said Abdullah, Ketua DPP...

PDIP vs Relawan Jokowi, Rebutan GBK?

Usai acara Gerakan Nusantara Bersatu di GBK, PDIP tampak tidak terima relawan Jokowi bisa pakai GBK. Mengapa GBK jadi semacam rebutan?

PDIP Takut Jokowi “Dijilat”?

“PDI Perjuangan mengimbau kepada ring satu Presiden Jokowi agar tidak bersikap asal bapak senang (ABS) dan benar-benar berjuang keras bahwa kepemimpinan Pak Jokowi yang kaya...

More Stories

Data IDI Dengan Pemerintah Berbeda?

IDI dilaporkan data kematian Covid-19 yang berbeda dengan pemerintah. Sebut kematian telah sentuh angka 1000 sedangkan data pemerintah belum sentuh angka 600. Dinilai tidak...

MK Kebiri Arogansi DPR

"(Perubahan pasal UU MD3) sudah diputuskan hukum, iya kita sebagai negara hukum, ikut dan taat apa yang telah diputuskan MK yang final dan mengikat,"...

Gerindra ‘Ngemis’ Cari Teman

"Prioritas Gerindra tetap dengan PKS, PAN. Mungkin juga dengan Demokrat yang belum nyatakan sikap. Kita lihat PKB juga.Jadi kita akan merajut koalisi lebih intensif,...