HomeCelotehOtoriter, Jika Jokowi Tanpa Oposisi?

Otoriter, Jika Jokowi Tanpa Oposisi?

Kecil Besar

“Demokrasi kita akan terganggu karena berarti koalisi Jokowi itu akan jauh besar, mungkin di atas 90 persen kekuatan di parlemen”. – Sirojuddin Abbas, Direktur SMRC


PinterPolitik.com

Mati satu tumbuh seribu, sepertinya peribahasa tersebut juga berlaku untuk permasalahan politik yang ada di Indonesia.

Baru saja masalah sidang sengketa Pemilu selesai, sudah tumbuh lagi aja masalah rekonsiliasi kubu Prabowo yang katanya akan bergabung ke koalisi Jokowi.

Mulai dari Jokowi yang inisiatif ajak Prabowo rekonsiliasi, lalu katanya Prabowo akan menjadi Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres), dan juga rumor-rumor tentang Gerindra, Demokrat dan PAN yang ada kemungkinan untuk gabung ke pemerintah.

Memangnya kenapa sih Indonesia butuh oposisi? Kenapa nggak semuanya aja gabung ke kubu Jokowi, kan masyarakat lihatnya jadi adem tuh kalau pemimpin-pemimpin mereka masuk ke satu geng yang sama.

Tapi ternyata, ketidakhadiran oposisi itu tidak seindah yang dibayangkan loh.

Moeldoko tak rela Presiden dapat ancaman. Selengkapnya dalam tulisan berjudul "Jokowi dan Jebakan Simbol Negara" di Pinterpolitik.com

Posted by Pinter Politik on Thursday, May 16, 2019

Kalau mau dianalogikan, oposisi itu memiliki peran seperti vaksin dalam tubuh manusia. Wih. Kalo gitu oposisi bisa dianggap haram juga dong kayak vaksin yang beberapa waktu lalu sempat jadi perdebatan? Hehehe.

Meskipun vaksin bukan bagian alamiah dari tubuh manusia, namun fungsi utama vaksin adalah untuk mencegah dan menyerang penyakit-penyakit tertentu berkembang di dalam tubuh.

Agak mirip juga dengan oposisi, meskipun oposisi bukan bagian dari pemerintah, namun peran oposisi di DPR itu sangat besar dampaknya. Oposisi di dalam DPR dapat mengkritik pemerintah dan mencegah lahirnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang cenderung otoriter dan tidak berpihak kepada rakyat.

Baca juga :  Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Jadi oposisi bukan masalah halal atau haram lagi lah ya. Hehehe.

Kalau melihat ke belakang, bukannya waktu masa Orde Lama dan Orde Baru peran partai opsisi cenderung mandul dan tak berfungsi, sehingga melahirkan pemerintahan yang otoriter ya.

Hmm. Jangan-jangan inisiatif Jokowi melakukan rekonsiliasi dari awal itu karena memang bertujuan untuk menguasai oposisi kali ya?

Berarti kalau semua partai politik pada akhirnya bergabung dengan pemerintah, nggak ada lagi partai oposisi yang menjadi penyeimbang di DPR.

Kalau begini ceritanya, jangan-jangan bener lagi kata para pengamat politik yang bilang kalau Pak Jokowi itu neo-otoriter. Wah. Bisa-bisa sejarah pemerintahan masa lalu yang otoriter keulang lagi dong. Upss. (R50)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Ibu Kota Baru “Sarang” Pengembang?

“Mohon maaf saya baca naskahnya itu naskah ya power point dan gambar gambarnya itu banyak yang unik-unik lah. Masa disebut membangun hunian yang layak,...

Ahok Cawapres Anies di 2024?

“Menjadi seorang pejabat itu adalah pekerjaan yang mulia karena dengan jadi pejabat ada banyak orang yang bisa kita tolong.” – Basuki Tjahaja Purnama alias...

Rombak Direksi, Rini Membangkang Jokowi?

“Aku memberontak, maka itu aku ada.” – Albert Camus PinterPolitik.com Menteri BUMN Rini Soemarno dikabarkan kukuh mau merombak 4 direksi bank BUMN dan 1 anak perusahaan...