HomeCelotehMungkinkah Prabowo Dirikan Khilafah?

Mungkinkah Prabowo Dirikan Khilafah?

Kecil Besar

“Ada pertanyaan Prabowo ini katanya akan mengubah Pancasila menjadi sistem khilafah. Saya kira ini sesuatu yang sebetulnya geli bagi saya. Dari muda saya prajurit TNI, sumpahnya adalah membela tanah air berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.” – Prabowo Subianto


PinterPolitik.com

[dropcap]B[/dropcap]icara tentang isu kekhilafahan, entah mengapa membuat saya jadi kepikiran tentang musik-musik progresif metal.

Pasalnya, pada awal 2016 lalu, band progresif metal legendaris, Dream Theater mengeluarkan album berjudul Astonishing dengan total 34 lagu di dalamnya – sangat banyak untuk ukuran sebuah album. Jumlah itu sama dengan total kementerian yang ada saat ini. Eheem eheem, siapa ya yang dulu janjinya nggak banyak bikin kementerian? Uppps.

Balik ke konteks Astonishing, menariknya karya tersebut adalah sebuah konsep album yang terangkai dalam kisah tentang sebuah negara distopia, di mana musik dianggap sebagai hal yang tabu dan digantikan oleh Noise Machines (Nomacs).

Masyarakat hidup dalam rezim yang opresif yang cenderung menekan orang-orang yang diberi perbedaan dibandingkan yang lainnya, termasuk yang punya kemampuan bermusik.

Konteks negara di mana satu-satunya hiburan masyarakat adalah Nomacs itu seolah mirip-mirip dengan konsep khilafah, katakanlah jika demokrasi diibaratkan dengan musik.

Sulit untuk melihat sosok Hashim Djojohadikusumo – sang adik yang beragama Kristen – akan mau jor-joran mengeluarkan dana untuk pemenangan sang kakak, jika khilafah adalah hal yang ingin dibangun Prabowo. Share on X

Yang jelas, mungkin tak banyak orang akan mau berlama-lama mendengar ke-34 lagu Dream Theater tersebut – kecuali fans-fans garis keras band tersebut. Tetapi, kalau soal khilafah, mungkin akan ada banyak orang yang tahan untuk berbicara berlama-lama tentangnya – entah yang menolak konsep tersebut, maupun yang menyetujuinya.

Baca juga :  Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Isu khilafah memang menjadi salah satu konsen isu yang belakangan sering muncul di berbagai pemberitaan jelang Pilpres 2019 dan entah bagaimana ceritanya, isu ini seolah menempel dengan Prabowo Subianto.

Mungkin karena mantan Danjen Kopassus itu didukung oleh beberapa partai Islam serta ormas-ormas garis keras. Atau mungkin karena yang bikin isu kampanye itu kebanyakan nonton Doraemon, jadi imajinasinya meningkat 10 kali lipat! Hmmm, tapi positif sih kalau imajinasi tinggi, soalnya jadi makin kreatif. Hadeh.

Nah, kabar terbaru datang dari aksi Prabowo saat kunjungannya ke Cianjur, Jawa Barat yang disebut-sebut menumpang mobil milik Ketua Gerakan Reformis Islam (GARIS) yang pernah mendaku sebagai eks Presiden ISIS Indonesia, Chep Hernawan.

Prabowo disorot karena dah dah dah dari atas mobil yang ada sunroof-nya itu yang ternyata kepunyaannya orang yang pernah pro khilafah. Jadilah Prabowo makin dibilah pro khilafah.

Aksi tersebut membuat kampanye hitam terhadap Prabowo makin keras bergulir, terutama di kalangan kelompok nasionalis dan non-muslim. Banyak pesan berantai dan seruan-seruan politik yang mengajak masyarakat untuk tidak memilih kandidat yang didukung oleh kelompok-kelompok pendukung khilafah – secara tidak langsung: jangan memilih Prabowo.

Bahkan ada isu yang menyebutkan bahwa jika Prabowo menang, maka akan ada upaya “penggulingan” terhadap dirinya yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pro khilafah.

Lha, memangnya mungkin Prabowo mendirikan negara berbentuk khilafah itu?

Jika yang dibicarakan adalah secara personal, maka sulit untuk melihat hal tersebut bisa terjadi. Pasalnya, Prabowo berlatar belakang keluarga pluralis ala Barat. Ibu Prabowo dan saudara-saudaranya banyak yang non-muslim.

Sulit untuk melihat sosok Hashim Djojohadikusumo – sang adik yang beragama Kristen – akan mau jor-joran mengeluarkan dana untuk pemenangan sang kakak, jika khilafah adalah hal yang ingin dibangun Prabowo.

Baca juga :  Menyikap Tubir Milbus

Lalu, bagaimana dengan kelompok-kelompok di sekitarnya? Hal itu juga akan cukup sulit terjadi. Pasalnya, jika Prabowo terpilih dan memegang kontrol penuh atas kekuasaan, maka sulit untuk melihat ia mengingkari latar belakang personalnya. Apalagi, secara konstitusional, mengubah sistem negara tak semudah membalikkan telapak tangan.

Artinya, memang sangat mungkin isu ini adalah kontra-propaganda untuk melawan isu PKI yang kerap digunakan untuk menyerang Jokowi.

Lagian, Prabowo mana tahu itu mobilnya siapa. Dia mah sibuk dah dah dah aja.

Yang jelas, mungkin ada baiknya, para pendukung masing-masing kandidat mendengarkan album Astonishing milik Dream Theater. Sebab bagaimanapun juga, musik – seperti halnya demokrasi – adalah hal yang telah diperjuangkan secara berdarah-darah dan terlalu sayang untuk dihilangkan begitu saja. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.