HomeNalar PolitikShowcase Prabowo dari Sunroof Mobil

Showcase Prabowo dari Sunroof Mobil

Kecil Besar

Prabowo seperti punya cara khas untuk menyapa para pendukung yang menyambut kedatangannya.


Pinterpolitik.com

[dropcap]S[/dropcap]unroof dan lautan massa. Pemandangan tersebut kerap menjadi hal utama yang dapat dilihat dari roadshow kandidat presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto ke berbagai daerah. Hampir setiap kampanye Prabowo selalu menampilkan visual sang jenderal melambaikan tangan dari atap mobil kepada hamparan massa yang menyambutnya di jalanan.

Sajian visual seperti itu baru-baru ini terjadi lagi ketika mantan Danjen Kopassus tersebut berkampanye di Riau. Sebelumnya, warga Cianjur dan Madura sudah lebih dahulu menerima lambaian tangan Prabowo dari atap mobil yang ditumpanginya.

Memang, gaya ini kerap dikiritik oleh kubu yang berlawanan dengannya. Perkara mobil mewah yang ditumpangi, hingga aksi yang dilakukan Prabowo di atap mobil kerap jadi bahan pergunjingan kelompok tersebut. Meski begitu, hal ini tidak membuat Ketua Umum Partai Gerindra itu meninggalkan gaya khasnya tersebut.

Terlihat bahwa Prabowo konsisten melakukan kampanye dari sunroof mobil sambil menyapa pendukungnya tersebut. Lalu, mengapa cara seperti ini yang dipilih oleh kandidat nomor urut 02 itu? Adakah efek khusus yang bisa ditimbulkan dengan gaya menyapa seperti ini?

Gaya yang Konsisten

Politisi memang punya gayanya sendiri dalam menyapa para pendukungnya. Bagi Prabowo, melambaikan tangan dari atap mobil boleh jadi adalah cara yang dianggap paling favorit. Gaya seperti ini tergolong konsisten ia pertontonkan ke publik dari waktu ke waktu.

Jika ditarik ke belakang, Prabowo telah mempertontonkan gaya seperti ini pada Pilpres 2014 lalu. Kala itu, mantan Pangkostrad ini berdiri dari atas sunroof  mobil bersama dengan ketua-ketua umum partai pengusungnya, seperti Anis Matta dan Aburizal Bakrie.

Langkah seperti ini kemudian berlanjut di gelaran Pilpres tahun ini. Gaya Prabowo dari atas sunroof mobil bahkan sudah dipraktikkan jauh sebelum masa kampanye. Kala sang jenderal mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), hal ini sudah ia pertontonkan.

Gaya tersebut kemudian ia lanjutkan dalam berbagai rangkaian kampanyenya ke daerah-daerah. Pulau Madura misalnya menjadi gambaran bagaimana ia mempertontonkan gaya ini semaksimal mungkin. Kala itu, masyarakat Madura benar-benar mengisi jalan di mana Prabowo dan iring-iringannya melakukan konvoi.

Hal serupa juga ia pertontonkan di Jawa Barat beberapa waktu yang lalu. Ada kisah-kisah berlainan dari gaya ini saat ia lakukan di Jabar. Di Subang misalnya, Prabowo sampai harus membuka baju saat melakukan hal tersebut. Sementara itu di Cianjur, Prabowo sempat jadi berita karena ia menegur pengawal VVIP yang menyertainya.

Baca juga :  Anies dan Dark Side of The Moon

Terlihat bahwa ada rangkaian pola yang dilakukan Prabowo dari langkah kampanye tersebut. Kandidat nomor urut 02 tersebut akan menaiki mobil, melaju dengan iring-iringan, lalu membuka sunroof seraya menyapa pendukungnya yang memenuhi jalanan. Setelah itu, ia akan melakukan orasi atau pidato politik untuk membakar semangat para pendukung yang menyambutnya tersebut.

Efek Menyapa Massa

Gaya menyapa publik seperti ini sebenarnya bukanlah orisinil milik Prabowo seorang. Banyak pemimpin dunia yang menyapa lautan pendukungnya dari atas sunroof mobil. Hal ini terutama mereka lakukan ketika sedang dalam sebuah rally atau pengerahan massa. Presiden Amerika Serikat (AS) yang pernah tertangkap kamera melakukan hal ini adalah Jimmy Carter dan Gerald Ford.

Sebagaimana disebut dalam kasus pemimpin-pemimpin di atas, langkah seperti ini umumnya dilakukan dalam sebuah rally. Dalam kadar tertentu, langkah yang dilakukan Prabowo dalam beberapa waktu terakhir ini dapat digolongkan ke dalam hal tersebut.

Prabowo sunroof

Menurut Keith R. Sanders dan Lynda Lee Kaid, ada beberapa kegunaan dan efek dari rally semacam ini. Kehadiran massa dalam langkah kampanye seperti ini diperlukan untuk reinforcing atau memperkuat kembali komitmen dari massa pendukungnya.

 

Pada titik tersebut, gaya komunikasi seperti itu sebenarnya tidak banyak dimaksudkan untuk menggaet massa atau pendukung baru. Hal ini terkait dengan sifat dari gaya komunikasi ini yang umumya dihadiri oleh massa partisan atau yang sudah berkomitmen dan tidak rentan terkena perubahan perilaku.

Tak hanya itu, menurut Sanders dan Kaid, rally seperti ini juga dapat memiliki efek lain berupa pseudo-event. Kandidat yang melakukan kampanye dengan massa tumpah ruah ini dapat mendapatkan paparan media yang signifikan. Berdasarkan temuan mereka, masyarakat cenderung akan lebih aktif secara komunikasi di mana mereka akan membaca dan menonton liputan berita terkait hal tersebut. Tak hanya itu, mereka juga akan membicarakan rally tersebut kepada teman-teman mereka.

Unsur pseudo-event ini akan terpapar dengan baik jika gaya kampanye tersebut dapat diatur dengan baik. Selain itu, pidato yang disiapkan oleh kandidat juga perlu disampaikan secara dramatis untuk mencapai tujuan seperti ini.

Menjadi Showcase

Berdasarkan kondisi tersebut, terlihat bahwa ada efek yang bisa ditimbulkan dari gaya Prabowo dan sunroof mobil. Ada upaya untuk mengatur psikologi massa dengan melakukan komunikasi politik di hadapan lautan manusia tersebut.

Di satu sisi, boleh jadi ada  yang mengartikan bahwa fenomena itu menggambarkan bahwa Prabowo sosok yang kharismatik. Para pendukung Prabowo juga bisa saja mengartikan bahwa itu adalah gambaran bagaimana Prabowo mampu menjadi magnet bagi masyarakat.

Baca juga :  Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Akan tetapi di sisi yang lain, merujuk pada pandangan Sanders dan Kaid, ada efek khusus yang dihadirkan dari kampanye dengan lautan massa pendukung tersebut. Ada unsur reinforcing yang dapat diraup melalui gaya menyapa massa dari atas atap mobil.

Melalui lambaian tangan Prabowo dari sunroof mobilnya, masyarakat yang sudah berkomitmen untuk memilihnya akan semakin kuat komitmennya. Apalagi, hal ini masih ditambah dengan pidato Prabowo tatkala turun dari mobil yang membakar semangat para penggemarnya tersebut.

Secara spesifik, gaya kampanye seperti itu umumnya banyak dilakukan di daerah yang tergolong menjadi basis suaranya. Daerah-daerah seperti Madura, Jabar, dan Riau dikenal sebagai lumbung suaranya di Pilpres 2014. Kehadiran Prabowo melalui rally-nya seolah menjadi caranya untuk mempertegas bahwa daerah tersebut masih harus jadi miliknya.

Selain itu, gaya seperti ini juga mampu menghadirkan visual yang memukau saat terekam atau terpotret oleh media. Melalui langkah ini, Prabowo dapat mengarahkan lampu sorot masyarakat kepada dirinya melalui kemampuannya menghadirkan massa dengan jumlah tak sedikit.

Terlihat bahwa media massa maupun media sosial terus-menerus membicarakan aksi Prabowo dari atas mobilnya tersebut. Tak hanya sekadar terekspos, melalui hamparan massa yang begitu banyak, visual kampanye Prabowo yang tersaji di media membuatnya terlihat lebih menarik. Hal ini tentu belum termasuk dengan peserta rally yang kemudian membicarakan fenomena tersebut kepda temannya.

Sunroof mobil jadi showcase Prabowo untuk menguatkan dukungan massanya. Share on X

Hal-hal tersebut dapat menjadi gambaran bahwa sunroof mobil telah menjadi sarana bagi Prabowo untuk melakukan showcase bagi dirinya. Dari atap mobil ia telah memperkuat ikatan dari pendukungnya, sehingga semakin militan bergerak demi dirinya. Selain itu, ia juga berhasil menggambarkan diri sebagai kandidat yang digilai massa melalui sorotan media massa dan media sosial.

Tentu, pada akhirnya, hasil dari gaya kampanye ini masih harus ditunggu hingga 17 April mendatang. Yang jelas, sapaan Prabowo dari atap mobilnya telah membuat fenomena baru di mana ia bisa menghadirkan massa yang tumpah ruah di jalanan yang dilewati. (H33)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Hakim sudah membaca putusannya. Tapi jauh sebelum itu, publik sudah selesai bersidang di kepala masing-masing.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...