HomeCelotehMenanti Nasib Trotoar Jakarta

Menanti Nasib Trotoar Jakarta

Kecil Besar

Sebagai Gubernur Jakarta Baru, Anies-Sandi sepertinya akan merombak trotoar di seputaran Thamrin agar dapat digunakan motor beroda dua. Waduh, bagaimana nasib pejalan kaki nantinya ya?


PinterPolitik.com

“Jakarta sebetulnya merupakan kota menarik di mana membutuhkan banyak kegiatan untuk aktif.”

[dropcap]S[/dropcap]ebagai Ibukota negara, Jakarta seharusnya tak hanya ramai dengan kendaraan bermotor dan sesaknya polusi udara. Jakarta seharusnya juga memiliki tempat yang untuk melakukan berbagai aktivitas sosial budaya, terutama di saat akhir pekan.

Setidaknya itulah menurut Tim Althoff, seorang peneliti dari Stanford University. Berdasarkan penelitian, ia mengkategorikan Jakarta yang dihuni sekitar 10 juta jiwa, sebagai gambaran poster kesengsaraan para pejalan kaki.

Bagaimana tidak, dari total jalan sepanjang 4.500 mil, hanya tujuh persen atau 7.200 kilometer saja yang memiliki trotoar. Sisanya, umumnya hanya jalan setapak yang memanfaatkan penutup selokan dan lebarnya pun hampir tidak mencapai satu meter.

Di era Bang Ahok dan Bang Djarot, trotoar di sepanjang jalan protokol kemudian dibuat lebih manusiawi. Setidaknya cukup lebar dan disediakan bangku taman untuk beristirahat. Sayangnya, kondisi nyaman ini kemungkinan akan segera berakhir.

Sebagai Gubernur DKI Jakarta yang baru, Anies Baswedan sepertinya tidak menganggap penting trotoar bagi pejalan kaki. Sebab ia ingin mengubahnya menjadi jalan khusus kendaraan beroda dua.

Herannya, pernyataannya ini tidak selaras dengan ocehan wakilnya, Bang Sandi. Trotoar, baginya, merupakan lahan kosong yang harus dimanfaatkan untuk beraktivitas sosial dan budaya, termasuk berjualan.

Jawaban yang enggak sinkron satu sama lain ini, akhirnya cukup membuat ramai media sosial. Baik pro kontra kebijakannya, hingga ketidakkompakan keduanya sendiri. Untungnya, Bang Anies terkenal pandai berkelit. Ia pun berdalih kalau rancangannya lagi digodok, jadi meminta warga enggak nyinyir dengan imajinasinya dia dulu.

Berbicara tentang imajinasi, memang semua orang punya versinya sendiri-sendiri. Tapi mengubah trotoar yang lebarnya tidak lebih dari dua hingga dua setengah meter menjadi jalan bagi kendaraan roda dua dan pejalan kaki saja, sudah enggak masuk logika.

Apa ia ingin menyatukan pejalan kaki dengan pengendara roda dua? Mengimajinasikan saja rasanya sulit. Tapi yah mau gimana lagi, mungkin inilah gambaran Jakarta yang sesungguhnya. Jakarta ala Althoff yang tidak ramah bagi para pejalan kaki. Kita tunggu saja, bagaimana hasil imajinasi Bang Anies atas hak para pedestrian ini. (R24)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...