HomeCelotehMemahami Politik Melalui Language Games

Memahami Politik Melalui Language Games

Kecil Besar

Sering kali tidak berlakunya politik naratif di tataran politik praktis mungkin membuat kita geram. Akan tetapi, adanya perbedaan antara politik normatif dan politik praktis tersebut dapat kita pahami dengan lebih baik menggunakan konsep language games atau permainan bahasa.


PinterPolitik.com

Seperti kata pepatah “tak dikenal maka tak sayang,” maka pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan diri kepada pembaca sekalian. Nama saya adalah Muhammad Musfi Romdoni atau biasa dipanggil Musfi. Tapi kalau lagi ke tempat laundry pakaian atau ke tempat service motor, saya kerap memperkenalkan diri sebagai Dani supaya lebih mudah dieja. Hehe

Saya sebelumnya berkuliah di jurusan ilmu filsafat di Universitas Indonesia. Sedikit banyaknya, latar belakang pendidikan tersebut mempengaruhi berbagai tulisan saya di PinterPolitik. Oh iya, sebelumnya saya adalah salah satu penulis di kolom In-Depth di PinterPolitik. Itu looo, artikel yang bacanya bikin rada males karena panjang dan bikin pusing.

Tidak hanya memperkenalkan diri, pada kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, rekan-rekan, dan para pembaca sekalian yang sudah membaca, memberikan like, ataupun membagikan tulisan saya selama ini.

Kendati tentunya masih terdapat kekurangan dari berbagai sisi dalam tulisan saya, tapi bukankah “tiada gading yang tak retak”? Justru karena berbagai kekurangan tersebut lah yang memberikan saya ruang untuk terus memperbaiki dan mengembangkan tulisan ke depannya.

Tidak hanya saya, bahkan para pemikir besar seperti para filsuf nampaknya juga memiliki kesadaran akan pengembangan diri yang serupa. Misalnya saja filsuf besar logika, Ludwig Wittgenstein. Filsuf yang disebut oleh fisikawan mahsyur, Stephen Hawking sebagai filsuf paling terkenal di abad 20 ini, dengan lapang dada menyadari terdapat kesalahan dalam magnum opus atau karya terbesarnya, Tractatus Logico-Philosophicus.

Judul bukunya aja udah rumit banget kan? Tidak hanya judulnya, isinya juga bukan main rumitnya. Tapi, buku tersebut bukan rumit karena isinya penuh dengan kontradiksi, melainkan karena gaya penulisan buku tersebut yang tidak berbentuk deskriptif, melainkan berbentuk seperti daftar isi atau poin per poin. Oleh karenanya, tidak hanya karena kontennya yang memang begitu berat, melainkan juga karena gaya penulisan dalam buku tersebut yang menambah kerumitan tersendiri di dalamnya.

Menariknya, kendati Wittgenstein dikenal sebagai sosok yang keras kepala – karena terlalu pintar sepertinya. Ia dengan lapang dada mengakui kesalahan gaya penulisan dalam magnum opus-nya, Tractatus Logico-Philosophicus. Pengakuan tersebut ditulisnya di bagian pembukaan dalam bukunya yang banyak menginspirasi para filsuf kontemporer, yakni Philosophical Investigations.

Dalam pengakuannya tersebut, Wittgenstein menulis bahwa dirinya telah begitu angkuh atau sombong karena telah memaksakan pemikirannya dalam Tractatus Logico-Philosophicus untuk dipahami atau diterima oleh banyak orang. Ia kemudian menyadari bahwa gaya penulisannya dalam buku tersebut telah membuat banyak orang kebingungan dan terjadilah misinterpretasi yang tidak terhindarkan.

Benturan Politik Praktis dengan Politik Normatif

Menariknya, konteks pemikiran Wittgenstein ini, khususnya dalam Philosophical Investigations yang menjelaskan tentang language games atau permainan bahasa, dapat membantu kita untuk memahami terkait mengapa terjadi perbedaan yang sering kali berbenturan antara politik normatif dengan politik praktis.

Mengacu pada language games yang menekankan pada setiap bahasa memiliki aturan mainnya tersendiri, itu berkonsekuensi bahwa aturan main dalam politik praktis seyogyanya memang harus dipahami berbeda dengan aturan main dalam politik normatif yang kerap kita baca di buku-buku ataupun kita dengar di kelas-kelas.

Akan tetapi, itu tidak menandakan bahwa antar bahasa, yaitu bahasa politik praktis dan politik normatif lantas tidak dapat diperbandingkan. Menurut Wittgenstein, kendati memiliki aturan main tersendiri, bahasa-bahasa tersebut tetap dapat saling mengoreksi atau berkomunikasi satu sama lain.

Artinya adalah, memang harus disadari bahwa politik praktis bernaung di bawah konsep gain power atau keinginan untuk memperoleh kekuasaan, namun harus dipahami juga kalau politik normatif dapat mengkritik politik praktis tersebut, dan begitu pula sebaliknya. Bagi Wittgenstein, kendati terdapat aturan main tersendiri, akan terdapat hal-hal yang membuat tiap-tiap bahasa dapat berkomunikasi seperti objek pembahasan yang sama – yang pada konteks ini adalah dinamika politik.

Penjelasan Wittgenstein bahwa terdapat aturan main di setiap bahasa, tidak berarti bahwa bahasa-bahasa tersebut berdiri masing-masing, melainkan sebatas untuk menjelaskan bahwa terdapat konsep yang menaungi setiap bahasa itu sendiri.

Seperti kata Wittgenstein: ”If we spoke different language, we would perceive a somewhat different world.

Maksudnya adalah, setiap bahasa akan memberikan sudut pandang tertentu dalam melihat dunia. Mereka yang menggunakan kacamata politik normatif tentu melihat politik secara normatif atau ideal. Namun, mereka yang menggunakan kacamata politik praktis, akan melihat politik secara oportunis.

Pada akhirnya, kita sepertinya memang harus bersikap realistis atau lumrah terkait dinamika politik yang terjadi. Suka tidak suka, bagi mereka menjalankan politik praktis, gain power adalah hal yang tidak dapat dihindarkan.

Ya, sekian dulu sepertinya perkenalan diri saya ataupun sedikit mengenal pemikiran Wittgenstein. Hehe

Sampai jumpa di tahun baru, semoga momentum pergantian tahun ini membawa kita ke arah yang lebih baik.

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Wiranto Pelanggar HAM?

Wiranto diduga terlibat namun bukan sebagai eksekutor, akan tetapi sebagai orang dibalik layar tragedi tersebut, hal itu dikarenakan posisinya pada masa itu sebagai Panglima...

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Giring Ingin Balik Nyanyi Lagi?

Video Ketum PSI Giring Ganesha nyanyikan lagu Nidji tersebar di media sosial. Apakah Giring ingin balik nyanyi lagi dan lupakan politik?

Melirik Romantisme TGB-Somad

Netizen mendukung Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Dr. Zainul Majdi dan Ustadz Abdul Somad untuk maju sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2019. PinterPolitik.com Gubernur Nusa...

More Stories

Ini Strategi Putin Meraih Stabilisasi?

Oleh: Muhammad Ferdiansyah, Shafanissa Arisanti Prawidya, Yoseph Januar Tedi PinterPolitik.com Dalam dua dekade terakhir, nama Vladimir Putin telah identik dengan perpolitikan di Rusia. Sejak periode awal...

Pesta Demokrasi? Mengkritisi Pandangan Pemilu

Oleh: Noki Dwi Nugroho PinterPolitik.com Sejak kemerdekaannya pada Agustus 1945, pendiri bangsa Indonesia berkonsensus untuk menjadikan wilayah bekas jajahan Kerajaan Belanda yang bernama Hindia Belanda ini...

Meretas Riwayat Beasiswa Supersemar

Beasiswa Supersemar sukses mencetak ribuan alumni cemerlang. Mereka terdiri atas lulusan S1, S2, S3, bahkan di antaranya ada yang telah menjadi guru besar. Tidak...