HomeCelotehMedia Indonesia, Media Siapa?

Media Indonesia, Media Siapa?

Kecil Besar

“Sua, sua, sua, suara berita, tertulis dalam koran,” – Iwan Fals, Sugali


Pinterpolitik.com

Aksi demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil selama dua hari berturut-turut beberapa waktu lalu membuka mata masyarakat lebar-lebar bahwa negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Jika merujuk pada, tajuk yang digunakan kelompok tersebut saat ini reformasi sedang dikorupsi.

Media-media kemudian menangkap fenomena ini di tajuk-tajuk utama mereka. Halaman depan surat kabar besar semacam Kompas dan Koran Tempo tampak tak mau berjarak dengan tuntutan masyarakat.

Harian Kompas misalnya menulis tajuk utama berjudul Suara Mahasiswa Didengar, sementara Koran Tempo menggaungkan tajuk Adu Kuat untuk menggambarkan masifnya gelombang mahasiswa dengan pemerintahan Jokowi yang seakan tak peduli dengan tuntutan masyarakat.

Di luar itu, ada juga media seperti Tirto yang di editorialnya secara terang-terangan menunjukkan dukungan kepada aksi Gejayan Memanggil.

Nah, di antara keberpihakan pers kepada isu publik tersebut, ternyata masih ada aja surat kabar yang malah jadi corongnya pemerintah. Kalau tidak percaya, coba lihat harian Media Indonesia, dengan percaya diri tak peduli suara hati pembeli, mereka menulis Demonstrasi Tidak Relevan Lagi.

Serius nih headline Media Indonesia semacam ini? Kenapa media malah jadi corongnya kepentingan pemerintah dan pernyataannya Wiranto? Jadi, Media Indonesia ini medianya siapa?

Kalau dari segi kepemilikan, kita semua bisa mengerti sih kenapa media tersebut menulis demikian. Kan, pemiliknya Surya Paloh adalah Ketua Umum Partai Nasdem, salah satu penyokong utama pemerintahan Jokowi. Selain itu, partai ini juga jadi salah satu tulang punggung DPR yang berpotensi meraup banyak kenikmatan dari berbagai RUU yang dibuat.

Sedih sih kalau melihat kondisi ini. Bukan hanya karena media tersebut gak lagi berada di sisi rakyat, tetapi juga kalau melihat sejarah Surya Paloh dan media-media yang ia komandoi.

Dulu, di era Orde Baru, Surya pernah berhadapan dengan rezim ketika Harian Prioritas miliknya dicabut izinnya karena terlalu kritis kepada pemerintah. Selain itu, Media Indonesia juga tergolong lebih kritis ketimbang banyak media lain di era itu. Padahal, ia sebenarnya punya kedekatan dengan Keluarga Cendana.

Ironis ya, Surya yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu, meski dekat dengan rezim, ia tidak takut untuk mengritik pemerintah. Eh sekarang, media yang ia pimpin justru tidak kritis diduga karena terlalu dekat rezim. Ckckckck.

Saat media-media besar berpihak pada publik, Media Indonesia justru malah berpihak pada pernyataan Pak Wiranto. Hmmm. Share on X

Yang membuatnya tambah menyedihkan adalah, dalam kiriman yang beredar di media sosial, ada tindakan aparat kepolisian yang melakukan larangan kepada pewarta untuk merekam. Wah, masak Media Indonesia justru berpihak ke sisi yang justru melemahkan kerja-kerja jurnalisme sih?

Idealnya sih, Media Indonesia bisa balik lagi ke eranya zaman dulu, kritis dan tak ragu mengritik rezim. Ya, kalau kayak gini sih jangan salahkan kalau banyak yang berpaling ke media lain, seperti misalnya ke ehm ehm Pinterpolitik.com hehehe. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Di Balik Nadiem Menteri Jokowi

Sehari setelah pelantikan presiden, Jokowi memanggil sejumlah pihak ke Istana yang ditengarai sebagai calon-calon menteri yang akan mengisi kabinet pada periode kedua kepemimpinannya. Di...

Menyoal RUU Masyarakat Hukum Adat

RUU Masyarakat Hukum Adat menjadi salah satu rancangan undang-undang yang masuk ke dalam Prolegnas Prioritas DPR. Meski begitu, lambatnya pemrosesan RUU ini bisa jadi...

Hari Rabu: Jokowi’s Best Day?

“It’s the best day ever!” – SpongeBob Squarepants, “Best Day Ever” (2006) PinterPolitik.com Buat kalian yang kini bisa disebut sebagai generasi milenial, pasti pernah tuh ngalamin rasanya nggak sabar menunggu-nunggu...

Menyingkap Ngabalinisasi ala Rocky Gerung

Rocky Gerung menyebut para ketum parpol koalisi tengah alami Ngabalinisasi. Apa sebenarnya arti kata Ngabalinisasi?

Kemelut FPI Bukan PKI

"Tidak ada ketentuan pidana yang melarang menyebarkan konten FPI karenanya siapa pun yang mengedarkan konten FPI tidak dapat dipidana. Sekali lagi objek larangan adalah...

Formula Bang Oma di Balai Kota

Pelantikan Anies – Sandi mendatang siap digoyang Soneta. Goyang, Bang~ PinterPolitik.com Kalau darah muda sang Ksatria Bergitar itu masih meledak-ledak, mungkin saja dia bakal begadang ke...

Peleton Beringin Sepakat Tolak Azis

“Dalam hidupku, saya tidak pernah belajar sesuatu dari seorang yang selalu setuju denganku.” PinterPolitik.com Surat sakti mandraguna Papa mengawali kisah baru yang bernasib pilu yaitu tak...

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...