HomeCelotehHendropriyono, Hedonisme, dan Filsafat

Hendropriyono, Hedonisme, dan Filsafat

Kecil Besar

“Katakan padaku filosofi apa yang akan kau selami. Amarah dan dendam tak bisa lagi untuk kita warisi,” – Glenn Fredly feat. Monita Tahalea dan Istiqamah Djamad, Filosofi dan Logika


Pinterpolitik.com

Demonstrasi mahasiswa terkait dengan sejumlah RUU bermasalah beberapa waktu lalu tampaknya masih menyisakan banyak kisah ya. Salah satu yang teranyar adalah pernyataan dari mantan Kepala BIN AM Hendropriyono.

Menurut Pak Hendropriyono, demonstrasi yang ada belakangan ini cuma ekspresi dari kelompok masyarakat hedonis. Wah, kok jadi terkait ke hedonisme ya?

Mahasiswa yang berdemo tampak tak terima dengan label hedonis yang diberikan oleh sang jenderal. Menurut mereka, kalau mereka hedonis mereka tidak akan turun ke jalan. Mereka berdemo justru karena mereka peduli dengan rakyat, jadi menurut mereka salah kalau dilabeli hedonis.

Hey, tapi tahu apa kita-kita ini kalau dibandingkan dengan Pak Hendropriyono? Selama ini mungkin kita hanya mengenal Pak Hendro sebagai sosok dengan pengalaman militer segudang. Tapi, sebenarnya beliau ini punya cukup dasar loh untuk bilang gitu.

Hedonisme ini kan salah satu bahasan yang masuk dalam dunia filsafat. Kata hedonisme ini berasal dari bahasa Yunani yaitu hedone yang berarti kesenangan. Hedonisme ini sering kali dikaitkan dengan ajaran bahwa kesenangan adalah tujuan akhir dari hidup manusia.

Mahasiswa kok protes dibilang hedonis? Share on X

Nah, Pak Hendropriyono ini sendiri adalah seorang guru besar di intelijen dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) dengan kekhususan filsafat intelijen. Tidak tanggung-tanggung, beliau ini adalah profesor intelijen pertama di dunia. Selain itu, beliau ini juga menulis buku berjudul Filsafat Intelijen Negara Republik Indonesia.

Dari dua hal itu aja terlihat kalau Pak Hendropriyono ini punya latar belakang dalam dunia filsafat. Soal hedonisme dan cabang-cabang lain dalam filsafat pasti bukan hal yang asing buat beliau.

Baca juga :  Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Jadi ya, kita bisa apa kalau di hadapan penyandang gelar guru besar dengan kekhususan filsafat intelijen seperti Pak Hendro? Mau label apa aja yang diberikan oleh mantan Kepala BIN ini ya bebas-bebas aja, wong beliau ini profesor kok, filsafat lagi.

Ya pada akhirnya, mahasiswa atau siapapun memang harus banyak mengalah, kan tidak punya kuasa dan tidak punya gelar. Terima saja kalau diberi label dari yang lebih punya posisi.

Sedih sih, tapi mau bagaimana lagi, memang nasib jadi rakyat ya memang selalu dipandang rendah. Makanya, jadi profesor dong. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...