HomeCelotehArief ‘Perusak Citra’ MK

Arief ‘Perusak Citra’ MK

Kecil Besar

“Kalau saya sih menilai (pelantikan Arief) enggak tepat. Artinya presiden enggak sensitif dengan dua pelanggaran sebelumnya.” ~ Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Desmond J Mahesa.


PinterPolitik.com

[dropcap]D[/dropcap]unia hukum Indonesia baru saja ditelanjangi usai dilantiknya kembali Arief Hidayat sebagai Hakim Konstitusi (MK) pada di Istana Negara, Selasa (27/3). Arief Hidayat ditetapkan kembali menjadi hakim konstitusi oleh DPR untuk periode kedua 2018-2023.

Padahal sebelum ini, hakim MK yang satu ini sudah memiliki track record yang buruk. Terbukti Arief pernah pelanggaran kode etik sebanyak dua kali. Hadeuh cape deh. Apa gak ada hakim lain yang pantas mengisi kekosongan posisi di MK? Helow! Masa hakim yang kayak gini yang dilantik lagi.

Coba deh kita flashback dua pelanggaran Arief. Pertama, Arief terbukti melanggar etik dan mendapat sanksi ringan akibat membuat surat titipan (katebelece) kepada mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Widyo Pramono. Semacam nepotisme zaman baheula gitu deh. Wadezig.

Kedua, Arief bertemu dengan pimpinan Komisi III DPR di Hotel MidPlaza, saat proses seleksi calon hakim konstitusi berlangsung 2017 lalu. Pertemuan tersebut diduga berkaitan dengan pemilihan hakim konstitusi perwakilan DPR dan pemilihan Ketua MK. Jiah, gaya-gaya ada tempelannya ini sih.

Tapi nyatanya, di tengah derasnya desakan mundur terhadap Arief, dia tetap dilantik tuh menjadi Hakim MK untuk periode kedua. Pelantikan ini secara gak langsung membuat Presiden Jokowi dipandang turut andil dalam pembusukan Makamah Konstitusi. Ya meski bukan ranah beliau sih untuk hal semacam ini.

Mekanisme itu sepenuhnya ada di internal MK dan DPR. Karena keduanya menganggap tidak ada kendala yang berarti, sudah merupakan kewajiban Presiden melantik Hakim MK tersebut. Tapi apapun itu, tetap aja pelantikan ini mencederai marwah kesucian MK. Ini mah udah Auto Dosa deh.

Baca juga :  Negara yang Belajar Berbicara Lewat Diam

Kalau hakim yang sudah tercoreng namanya karena sudah terbukti melakukan pelanggaran kode etik sebanyak dua kali, namun tetap dipaksakan dilantik dengan berbagai argumen, curiganya nih, jangan-jangan Arief sedang dipersiapkan sebagai pion Parpol dalam sengketa Pilkada 2018 nanti. Wedew. (K16)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

More Stories

Data IDI Dengan Pemerintah Berbeda?

IDI dilaporkan data kematian Covid-19 yang berbeda dengan pemerintah. Sebut kematian telah sentuh angka 1000 sedangkan data pemerintah belum sentuh angka 600. Dinilai tidak...

MK Kebiri Arogansi DPR

"(Perubahan pasal UU MD3) sudah diputuskan hukum, iya kita sebagai negara hukum, ikut dan taat apa yang telah diputuskan MK yang final dan mengikat,"...

Gerindra ‘Ngemis’ Cari Teman

"Prioritas Gerindra tetap dengan PKS, PAN. Mungkin juga dengan Demokrat yang belum nyatakan sikap. Kita lihat PKB juga.Jadi kita akan merajut koalisi lebih intensif,...