HomeCelotehAksi Rebutan Massa 212

Aksi Rebutan Massa 212

Kecil Besar

Adanya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan massa 212 menjadi sorotan, benarkah para demonstran di 212 itu tengah dipolitisasi?


PinterPolitik.com

“Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan.”

[dropcap]M[/dropcap]emasuki masa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak, sepertinya mulai membuat beberapa oknum ingin menggunakan “kekuatan massa” 212 demi kepentingan pribadi, kelompok, maupun partai politik tertentu.

Jumlah manusia yang konon mencapai jutaan, dengan estimasi yang belum jelas berapa di depan angka nol-nya ini, memang bagaikan hidangan kebuli dengan daging kambing yang asap panasnya masih mengepul, bagi para oportunis. Hidangan yang sungguh menggiurkan, menjanjikan keuntungan, tak hanya uang tapi juga raihan suara.

Jadi bukan sulap bukan sihir, bila ada pribadi maupun kelompok yang tiba-tiba ngeluarin bendera dan  merasa punya hak untuk mewakili jutaan umat ini. Semakin dekat Pilkada, semakin banyak jumlah kelompoknya. Berupaya mencari celah untuk mengais rezeki yang barangkali saja nyangkut ke organisasi mereka.

Tapi jumlah kelompok yang menjamur dengan iming-iming massa 212 ini, pada akhirnya menimbulkan konflik di antaranya. Masing-masing pun mulai meneriakkan kalau merekalah para pemimpin 212 yang sejati. Tarik menarik pun terjadi, padahal orang-orang yang dulu ikutan ngumpul di jalanan itu, pun udah enggak peduli lagi.

Entah habis kepentok apa, Fahri Hamzah secara logis akhirnya menjelaskan kalau adanya kelompok-kelompok tersebut wajar terjadi. Jadi seharusnya sesama kelompok yang mengatasnamakan 212 secara sepihak ini, tak boleh saling berebut massa. Sebab orang-orang yang datang dari berbagai wilayah itu, punya tujuannya masing-masing dan tak mungkin hanya dikoordinir oleh segelintir kelompok saja.

Baca juga :  Kicepisme Pragmatis Politik

Sementara itu, kegeraman akan adanya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan umat Islam, datang dari Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak. Baginya, organisasi yang mengatasnamakan 212 tersebut sudah berusaha untuk mempolitisasi keikhlasan umat Muslim.

Ketidaksetujuan Dahnil dengan kelompok yang ingin menggunakan massa 212 ini, didasari dengan fakta bahwa umat Muslim yang datang dikarenakan adanya musuh bersama. Massa berkumpul karena rasa sakit hati yang sama, yaitu pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dinilai menistakan kitab suci mereka.

Sehingga bila ada sosok atau kelompok tertentu yang menyatakan massa yang berkumpul adalah massa “milik mereka”, maka tentu mereka telah menyalahgunakan keikhlasan umat Islam. Nah, kira-kira bagaimana ya sikap umat Muslim sendiri dengan adanya klaim sekelompok orang yang menasbihkan diri sebagai pemimpin mereka? (R24)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...