HomeRuang PublikMenyingkap Sportwashing dalam Laga Indonesia-Bahrain

Menyingkap Sportwashing dalam Laga Indonesia-Bahrain

Oleh Banyu Bening Winasis dan Probo Darono Yakti

Kecil Besar

Kontroversi ini memperpanjang daftar kritik terhadap wasit dari Timur Tengah, di tengah dugaan adanya bias dan pengaturan skor yang mempengaruhi jalannya pertandingan dalam kompetisi sepak bola internasional.


PinterPolitik.com

Pasca ditahan imbangnya Timnas Indonesia melawan Bahrain pada Kamis (10/10) lalu, hujatan  kritik datang pada wasit berkebangsaan Oman yang bertugas pada waktu itu Ahmed Abu Bakar Al Kaf. Pasalnya, Abu Bakar tidak kunjung meniupkan peluit panjang pasca pemain Indonesia membuang bola dari gawang, dan membiarkan pemain Bahrain menyerang sekaligus melanjutkan pertandingan sampai menit ke-99. 

Pada saat itu, Timnas Bahrain mampu melesakkan gol kedua yang membuat kedudukan berubah menjadi seri dari yang semulanya 2-1. Padahal sang wasit di menit ke-90 memutuskan bahwa perpanjangan waktu hanya 6 menit atau semestinya menit ke-96 pertandingan dapat diakhiri. 

Publik Indonesia terkejut dengan hasil ini dan berbondong-bondong melalui berbagai kanal media sosial meminta AFC untuk memberikan penjelasan termasuk dugaan adanya pengaturan skor. Ditahan seri ketika sudah dapat memastikan menang dari negara peringkat 76 dunia menurut rangking FIFA merupakan pil pahit yang menyakitkan. 

Kendati pertama kali dalam sejarah, Indonesia dapat lolos ke putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Catatan ini membuat daftar panjang persoalan internal yakni liga lokal yang masih belum terpecahkan dan isu naturalisasi dari keturunan Eropa pada pemain Timnas menjadi melebar ke persoalan eksternal bagi fans Timnas Garuda.

Seri Rasa Kalah

Keputusan wasit Ahmed Al-Kaf yang berasal dari Oman untuk melanjutkan pertandingan melewati batas waktu sangat jelas bertentangan Laws of the Game versi terbaru 2024/25 oleh the International Football Association Board (IFAB). Sebuah anomali mengingat sepanjang additional time tidak terjadi penguluran waktu dari para pemain. Adapun semisal pada babak pertama terjadi kesalahan pada additional time, menurut Laws of the Game bab tujuh tentang durasi pertandingan tidak diperkenankan untuk menambah waktu di babak kedua. 

Protes berdatangan dari pihak Timnas Indonesia mulai dari pemain hingga tim official memprotes keputusan wasit. Ketua Badan Tim Nasional Sumardji sendiri juga diusir keluar lapangan sehingga tidak dapat mendampingi laga Indonesia melawan Tiongkok di kemudian hari. Sebagaimana yang disampaikan sebelumnya, kecaman tentu juga mengalir di media sosial sampai netizen Indonesia bersikeras mencari akun Instagram agar pihak Meta dapat segera melakukan takedown terhadap akunnya.

Baca juga :  Mendayung di Antara Dua Kecerdasan

Kontroversi Wasit Asal Timur Tengah 

Dengan menghindari stereotip atau generalisasi, media lokal dan internasional menyoroti kontroversi ini dalam berbagai rupa kritik. Akun 433 membagikan meme satir berupa penjumlahan 90 ditambahkan 6 sama dengan 99 melalui nomor punggung pemain-pemain sepak bola terkenal. 

Tidak jarang tuduhan bahwa sang wasit telah mendapat jatah “uang minyak” menyeruak dan  menjadi bahan pembicaraan dari khalayak. Tercatat terdapat beberapa wasit kontroversial dari  Timur Tengah yang terindikasi dalam percobaan suap semisal Fahad Al Mirdasi asal Arab Saudi  yang menerima suap dan saat ini dihukum seumur hidup, selain itu Ali Sabah dari Irak yang  menerima gratifikasi seks untuk pengaturan skor pertandingan.

Wasit Ahmed Al-Kaf sendiri juga bukan kali pertama memimpin pertandingan yang melibatkan negara Timur Tengah pada gelaran yang ada di lingkup AFC. Sebelumnya Ahmed Al-Kaf pernah memimpin pertandingan antara Thailand melawan Arab Saudi pada gelaran Piala Asia U-23 2020. Pada saat itu keputusannya sangat merugikan Timnas Thailand mengingat adanya tendangan penalti yang dihadiahkan untuk Timnas Arab Saudi. 

Di kompetisi yang berbeda, Timnas Indonesia dan Timnas India pernah berhadapan dengan Timnas Qatar. Keduanya dirugikan dengan kontroversi keputusan wasit yang justru menguntungkan Timnas Qatar. Akhirnya, wasit-wasit asal Timur Tengah memiliki kecondongan untuk menguntungkan negara-negara sesama berasal dari Timur Tengah.

Neoliberalisasi Olahraga dan Dugaan Sportwashing

Konfederasi Sepak Bola seperti AFC dengan negara-negara Timur Tengah tidak ayalnya diibaratkan sebagai mafia sepak bola kelas kakap. AFC sebagai penyelenggara turnamen sepak  bola mulai dari Piala Asia hingga Kualifikasi Piala Dunia memiliki kecondongan untuk berpihak pada negara-negara Timur Tengah. 

Indikasi-indikasi yang ada mengarah pada kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif yang bertajuk sportwashing atau tindakan yang dilakukan oleh suatu pihak untuk mengalihkan perhatian dari praktik ilegal dengan cara mempromosikan acara dan tim olahraga. 

Baca juga :  "Sell Indonesia" dan Spirit 1928

Jauh daripada itu, perhelatan sepak bola besar sejatinya menutupi citra buruk Qatar dan Arab Saudi atas pelanggaran HAM dan kesejahteraan pekerja. Melalui gelaran olahraga sepak bola kedua negara dapat mengambil langkah diplomatis yang menabrak sekat norma dan etika yang ada, mengarahkan pada terjadinya neoliberalisasi olahraga.

Pakar globalisasi David Harvey sendiri mengartikan neoliberalisme sebagai proyek politik dalam rangka membangun keuntungan kapital yang tinggi dan memberikan kekuasaan bagi para elite ekonomi. AFC sendiri saat ini dipimpin oleh Putra Mahkota dan Perdana Menteri Bahrain yakni Salman Al-Khalifa yang tentu memiliki akses pada sumber daya finansial yang cukup kuat untuk mengondisikan tatanan sepak bola Asia secara luas.

Sepak Bola Dinodai Pengaturan Skor

Sepak bola sejak pembentukan FA di Inggris dan FIFA yang menaungi asosiasi yang ada di seluruh dunia mulanya jauh dari kepentingan ekonomi-politik. Semula sepak bola hanya persoalan teknis, yang mencakup cara permainan cerdik dan taktis untuk mencapai kemenangan bukan justru menentukan pemenang pertandingan sedari awal pertandingan. 

Melalui kejadian belakangan ini, sepak bola dirasa tercerabut arwahnya dari masyarakat luas karena kepentingan elite politik dan ekonomi yang berada di balik layar untuk mengendalikan jalannya pertandingan. 

Bagi Indonesia, kontroversi hasil seri dari wasit harus tetap dihadapi dengan kepala tegak. Refleksi bahwa Timnas Indonesia tidak bermain secantik dan serapi biasanya dari awal pertandingan dapat menjadi catatan penting. Shin Tae-Yong dkk. tentu tidak boleh lengah untuk memastikan kemenangan dan lolos, dengan tetap bermain bersih dan menorehkan hasil yang sempurna. 

Bangkitlah Garudaku, berkibarlah benderaku!


profil penulis
picture2

Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Ini Strategi Putin Meraih Stabilisasi?

Oleh: Muhammad Ferdiansyah, Shafanissa Arisanti Prawidya, Yoseph Januar Tedi PinterPolitik.com Dalam dua dekade terakhir, nama Vladimir Putin telah identik dengan perpolitikan di Rusia. Sejak periode awal...

Pesta Demokrasi? Mengkritisi Pandangan Pemilu

Oleh: Noki Dwi Nugroho PinterPolitik.com Sejak kemerdekaannya pada Agustus 1945, pendiri bangsa Indonesia berkonsensus untuk menjadikan wilayah bekas jajahan Kerajaan Belanda yang bernama Hindia Belanda ini...

Meretas Riwayat Beasiswa Supersemar

Beasiswa Supersemar sukses mencetak ribuan alumni cemerlang. Mereka terdiri atas lulusan S1, S2, S3, bahkan di antaranya ada yang telah menjadi guru besar. Tidak...