HomeNalar PolitikTrump Akan Biarkan Putin Serang NATO? 

Trump Akan Biarkan Putin Serang NATO? 

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini!

Donald Trump membayangkan akan ‘membiarkan’ Rusia menyerang NATO bila ia jadi presiden Amerika Serikat (AS) selanjutnya. Mengapa ia melempar narasi ini? 


PinterPolitik.com 

Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia bukan satu-satunya perhelatan politik yang layak untuk terus kita simak perkembangannya pada tahun ini. Di negara nun-jauh di sana, tepatnya di Amerika Serikat (AS), pergelaran Pilpres mereka yang rencananya akan dilakukan pada Bulan November 2024 juga sangat menarik untuk kita perhatikan. 

Walau nama para kontender calon presiden (capres) di AS belum diresmikan, publik sekiranya sudah memprediksi akan ada pertarungan ronde kedua antara Presiden petahana, Joe Biden dan mantan Presiden, Donald Trump. Tidak heran, kedua nama tersebut memang jadi yang paling populer baik di AS sendiri ataupun secara internasional. 

Namun, untuk saat ini, jika kita melihat perkembangan polling suara serta animo publik di media sosial, nama Trump sepertinya memiliki keunggulan dibanding Biden. Salah satu alasannya kerap diasumsikan karena mayoritas masyarakat AS menilai kini saatnya negara mereka memiliki pemimpin yang “lebih berani” dalam menyikapi dinamika geopolitik yang semakin menegangkan.  

Trump, kebetulan, sering menyuarakan narasi bahwa ia adalah pemimpin tegas yang sangat menjunjung kedigdayaan AS. 

Menariknya, beberapa hari terakhir Trump kembali berhasil menjadi buah bibir media. Hal ini karena saat ia berkampanye (10/2), Trump –dengan kontroversialnya- menyebut bahwa ia tidak akan melindungi Eropa (NATO, secara khususnya), bila Rusia melakukan serangan terhadap negara-negara rekan AS tersebut. 

Hal ini sontak memantik rasa kekhawatiran global, terlebih lagi kini Trump memiliki popularitas yang tinggi di AS. 

Lantas, menarik kemudian untuk kita pertanyakan, mengapa Trump mengatakan hal demikian, dan apakah mungkin Trump bawa AS ‘tinggalkan’ NATO bila ia terpilih menjadi presiden AS ke-47 nantinya? 

image 3

Populisme Anti-Perang? 

Perbedaan antara politik Indonesia dan politik AS adalah di AS topik geopolitik dan tensi global merupakan topik yang sangat potensial menjadi komoditas besar untuk menarik dukungan para calon pemilih. Hal ini salah satunya tentu karena kebijakan yang diterapkan oleh AS pasti akan berdampak luas hingga ke seluruh negara di dunia. 

Baca juga :  BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Dan, karena ini, besar kemungkinannya sebetulnya apa yang diucapkan para capres di AS tentang kebijakan luar negeri mereka adalah bagian dari kampanye politik mereka untuk menarik perhatian. Dan terkait perkataan Trump soal tidak akan membela NATO, tentu ada kemungkinan ini pun hanyalah bagian ‘janji politiknya’. 

Hal ini tidak mengherankan, mengingat kini tidak sedikit warga AS yang mulai mempertanyakan komitmen AS yang dinilai ‘berlebihan’ ke dunia internasional.  

Kita mengambil contoh hasil survei yang dilakukan Gallop pada November 2023, contohnya, mengungkap bahwa kini terdapat 54 persen populasi yang ingin mendorong pemerintah terus membela Ukraina dalam perangnya dengan Rusia, turun dari tahun 2022 yang memiliki skor 66 persen. Sementara, 43 persen masyarakat AS mengharapkan perang di Ukraina bisa selesai secepatnya meski Ukraina terpaksa harus mengalah ke Rusia. 

Alasannya tentu beragam, akan tetapi, salah satunya yang paling mencolok adalah orang yang mulai ragu AS terus beri dukungan ke Ukraina yakin bahwa dukungan militer dan finansial yang mereka berikan sudah terlalu banyak, dan lebih baik digunakan untuk kepentingan AS sendiri. 

Bila Trump memang menggunakan narasi ‘melepas’ NATO, maka bisa saja sebetulnya ini hanya salah satu bentuk dari politik populismenya. Trump menggunakan keresahan warga AS terhadap ketidakmampuan pemerintah sebelumnya plus NATO, dalam menyelesaikan masalah yang membuat keuangan AS ‘berdarah’. Ia lantas memberikan solusi yang menggambarkan dunia di mana warga AS tidak perlu membayar pajak untuk kepentingan pertahanan negara yang bahkan berada di benua yang berbeda dengan mereka. 

Tentu, bagi orang yang muak terhadap perang yang berkelanjutan, hal ini cukup menarik. 

Namun, masih ada satu pertanyaan yang perlu kita jawab. Apakah Trump benar-benar berani tinggalkan NATO jika jadi presiden AS nanti? 

Baca juga :  Fathimah Azzahra dan Warisan STOVIA
image 4

Terlalu Sulit? 

Walaupun Trump mungkin bisa dikatakan adalah salah satu presiden AS yang paling sulit ditebak, manuver untuk meninggalkan NATO dan menjadikan Eropa sebagai ‘musuh’ AS sepertinya terlalu sulit untuk dipercaya.  

Ada beberapa hal yang jadi dasar lasan sulitnya narasi AS hengkang dari NATO. 

Pertama, AS memegang peran yang unik dalam NATO, tidak seperti anggota lainnya –mereka bisa dikatakan merupakan tulang punggung utama dari aliansi ini. Sejak era Jenderal Dwight D. Eisenhower, panglima tertinggi NATO adalah AS.  

Militer AS tidak hanya memberikan kontribusi besar terhadap kemampuan keseluruhan (seperti finansial dan struktural) NATO, tetapi juga menjadi inti dari sebagian besar kekuatan militer sekutu NATO.  

Saat ini, lebih dari 100.000 personel darat, udara, dan laut AS ditempatkan di seluruh Eropa untuk memberikan dukungan langsung kepada NATO. Tentu, sumbangsih kekuatan yang besar tersebut tidak dilakukan sebagai sumbangan belaka, melainkan manifestasi dari kepentingan AS untuk menjadikan Eropa sebagai ‘lahan depan’ rumah yang aman. 

Bisa dibayangkan, kalaupun AS nekat mengeluarkan diri dari NATO, tentunya baik secara langsung atau tidak, manuver itu berpotensi menjadikan Eropa sebagai ancaman keamanan baru bagi AS, karena negara-negara Eropa yang berada di NATO akan merasa tidak ada ikatan lagi yang bisa membuat mereka tidak bisa menentukan pilihan sendiri. Bisa jadi, tanpa adanya AS di NATO justru membuat NATO berani ‘membelot’ ke Rusia, atau Tiongkok. 

Skenario ini tentu hanya salah satu dari sekian skenario lainnya yang bisa memberikan gambaran kepada kita bahwa narasi AS keluar dari NATO yang diucapkan Trump adalah hal yang hampir mustahil terjadi. Untuk sekarang, kita bisa mengatakan mungkin ini hanyalah bentuk kampanye populis Trump demi menyambut Pilpres 2024. (D74) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

PAL-PINDAD-PTDI: Trinitas Industrialisasi RI?

Ketika tiga BUMN pertahanan Indonesia mencetak rekor laba di momen bersamaan, pertanyaannya bukan lagi soal alutsista — melainkan apakah Indonesia akhirnya menemukan jalan industrialisasinya sendiri. 

Danantara OTW Beli Chelsea?

SWF dunia kini berbondong-bondong masuk industri olahraga. Akankah Indonesia ikut bermain?