HomeHeadlineThe "Keep Calm" Mualem

The “Keep Calm” Mualem

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Pencegatan kendaraan berplat Aceh di Sumatera Utara kembali memicu panasnya hubungan dua provinsi. Apakah seruan “keep calm” Mualem cukup untuk meredam api konflik ini?


PinterPolitik.com

“Biarlah kita diam saja, sabar saja. Biar orang lain yang berkicau” – Muzakir “Mualem” Manaf, Gubernur Aceh (30/9/2025)

Cupin duduk di warung kopi kecil di Banda Aceh, menatap layar ponselnya yang penuh notifikasi berita. Di depannya, gelas kopi tubruk yang sudah setengah dingin hanya jadi alasan untuk berlama-lama membaca isu terbaru tentang Sumatera Utara yang menghentikan kendaraan berplat “BL”.

Ia menggeleng pelan, merasa déjà vu dengan konflik lama antara Aceh dan Sumatera Utara yang dulu pernah heboh soal empat pulau. Sekarang persoalannya berbeda, tetapi rasanya sama panasnya, seolah percikan kecil bisa memantik api besar di antara dua provinsi.

Di tengah situasi ini, muncul Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem dengan ajakan agar masyarakat tetap tenang. Bagi Cupin, suara itu seperti angin sejuk yang berembus di antara panasnya perdebatan karena ia menyadari ajakan ini bukan sekadar kata-kata kosong melainkan strategi politik yang matang.

Cupin teringat cerita kakeknya tentang masa-masa konflik dulu dan bagaimana satu kata bisa memancing ribuan reaksi. Ia merenung apakah kali ini masyarakat Aceh dan Sumatera Utara akan memilih untuk saling menenangkan atau justru memperbesar pertikaian.

Bagaimana warganet Aceh dan Sumatera Utara bereaksi di media sosial ketika melihat isu ini menggelinding? Seberapa besar sebenarnya pengaruh suara Mualem untuk mengendalikan emosi publik yang sedang panas?

Narasi “Us vs. Them”?

Cupin menggulir linimasa Twitter dan Instagram yang penuh komentar dari kedua kubu. Setiap unggahan foto kendaraan “BL” yang disetop terasa seperti bensin yang disiram ke api karena komentar warganet semakin mempertebal batas “kami” dan “mereka”.

Menurut teori social identity yang dirumuskan Henri Tajfel dan John Turner, manusia punya kecenderungan alami untuk membagi diri dalam kelompok tertentu lalu membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain. Identitas ini memang memberi rasa kebersamaan, tetapi sekaligus membuka jalan bagi stereotip dan diskriminasi.

Plat nomor “BL” yang tadinya hanya tanda administratif kini menjelma simbol kebanggaan sekaligus batas wilayah. Tindakan pencegatan kendaraan dari Aceh dianggap pembatasan oleh kelompok sendiri dan dipahami sebagai provokasi oleh kelompok lain.

Cupin membaca komentar seperti “kami tidak akan tunduk” atau “kami jaga kedaulatan daerah” yang berseliweran di media sosial. Ia menghela napas panjang karena pola ini mengingatkannya pada bagaimana konflik sosial bisa tumbuh hanya dari narasi dan simbol yang terus digoreng.

Fenomena ini membentuk peta mental pembeda yang menempel di kepala banyak orang sehingga integrasi sosial makin sulit terwujud. Media sosial bukan lagi sekadar ruang komunikasi tetapi arena simbolik yang menegaskan jarak antardaerah.

Lalu bagaimana Mualem mampu menggeser narasi yang sedang terpolarisasi ini? Pendekatan seperti apa yang dapat menjelaskan strategi Mualem dalam membangun makna “tenang” supaya publik tidak semakin terbakar amarahnya?

Keep Calm” ala Mualem

Cupin menonton potongan video Mualem di ponselnya. Suara Mualem terdengar pelan tetapi mantap, mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan mengedepankan dialog.

Pendekatan ini bisa dijelaskan melalui symbolic interactionism, sebuah teori yang dipelopori George Herbert Mead dan dikembangkan Herbert Blumer yang memandang bahwa makna dibentuk melalui interaksi simbolik. Dengan mengucapkan “keep calm”, Mualem sedang mengirim simbol yang mengandung pesan pengendalian emosi, kestabilan, dan harmoni sosial.

Blumer dalam bukunya Symbolic Interactionism: Perspective and Method menulis bahwa makna tidak lahir begitu saja tetapi hasil interpretasi dalam konteks sosial tertentu. Melalui simbol ketenangan, Mualem berusaha merekonstruksi konflik Aceh dan Sumatera Utara agar dilihat sebagai peluang dialog, bukan perang identitas.

Cupin yang kini lebih sering mengirim pernyataan Mualem ke grup WhatsApp temannya merasa pesan itu membuat orang berhenti sejenak sebelum berkomentar. Ia menyadari bahwa strategi Mualem bukan hanya mengatur kata-kata tetapi juga mengatur citra Aceh sebagai pihak yang rasional dan bijak.

Strategi simbolik ini menenangkan banyak orang dan mengajak mereka melihat konflik dari sudut pandang lebih konstruktif daripada menambah kebencian. Cupin merasakan perubahan kecil di sekitarnya: diskusi yang tadinya panas mulai berubah jadi obrolan tentang solusi.

Dengan demikian ajakan “keep calm” Mualem bukan sekadar seruan moral tetapi strategi komunikasi yang nyata di tengah dinamika konflik antardaerah. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu berarti bicara keras tetapi justru menghadirkan ketenangan yang menstabilkan masyarakat.

Sebagai penutup Cupin menatap kembali layar ponselnya yang kini lebih banyak berisi tautan berita positif. Ia tersenyum kecil karena menyadari bahwa konflik yang kompleks pun bisa diredam melalui kekuatan simbol dan interaksi sosial yang tepat. (A43)


Baca juga :  Lapar yang Tidak Ikut Libur
spot_imgspot_img

#Trending Article

Wasit FIFA & Oknumisme Politik-Hukum?

Wasit FIFA bukan hanya pengadil lapangan — mereka adalah wajah yang paling mudah disalahkan dari ketidaksempurnaan sebuah sistem.

PDIP-Golkar, Drama Minerba Warisan Orba?

Sengkarut satir "bolu ketan" antara kubu PDIP dan Golkar di sektor ESDM tampaknya bukanlah sekadar adu mulut elite biasa. Ini adalah kelanjutan perang klasik dua titan dalam diskursus sumber daya sejak era Orba. Tentang menjadi si paling bersih di industri ekstraktif yang inheren kotor ini, Benarkah demikian? 

Kuasa Lepas Jokowifikasi

Wajah Jokowi kini muncul di meme, karakter fiksi, penyanyi Jepang, sampai kursi gaming. Siapa sebenarnya yang memegang kuasa atas wajah itu? 

Romain Molina, “Dagdigdug” Erick Thohir?

Balasan dua kata Romain Molina di media sosial memicu perbincangan publik soal sorotan yang selama ini menyelimuti sepak bola Indonesia, sekaligus membuka ruang refleksi soal betapa krusialnya tata kelola sepak bola menjelang mimpi besar Piala Dunia 2030.

Omertà, Sumpah Sakral Dilanggar Febrie?

Omertà bukan sekadar sumpah mafia untuk tutup mulut. Ia adalah teknologi kekuasaan yang menjaga jaringan tetap utuh melalui kesunyian dan loyalitas. Namun, sejarah menunjukkan, bangunan paling kuat sekalipun bisa mulai retak ketika satu sinyal muncul.

Imin dan Para Titisan Wiraraja

Prabowo menyindir Cak Imin: dulu berpisah, kini bersama lagi. Kenapa ada politisi yang seolah selalu bertahan di sisi pemenang? 

Pacul Mencoba Bersinar di “Penjara” Politik?

Julukannya Sang Komandan Korea, ia naik jabatan tapi kehilangan arena. Seperti dipenjara tetapi dalam konteks politik. Yang menarik bukan nasibnya, melainkan cara dia melawan nasib itu.

Bakrie, EV, dan Lumpur Lapindo

20 tahun berlalu, satu nama besar masih tak lepas dari lumpur Sidoarjo. Akankah persepsi ini terus menjadi warisannya?

More Stories

Kuasa Lepas Jokowifikasi

Wajah Jokowi kini muncul di meme, karakter fiksi, penyanyi Jepang, sampai kursi gaming. Siapa sebenarnya yang memegang kuasa atas wajah itu? 

Imin dan Para Titisan Wiraraja

Prabowo menyindir Cak Imin: dulu berpisah, kini bersama lagi. Kenapa ada politisi yang seolah selalu bertahan di sisi pemenang? 

Pramono Main “Presiden-presidenan”?

Sejumlah kebijakan Gubernur Pramono Anung tampak pantulkan program pemerintah pusat. Kebetulan teknokratis atau ada logika yang sengaja dipasang?