Dengarkan artikel ini:
Piala Dunia 2026 mengungkap pola berulang. FIFA menyelidiki dugaan pelecehan rasis terhadap YouTuber IShowSpeed oleh fans Argentina di Miami. Fans Argentina juga melempar bir ke pendukung Mesir dan mengibarkan bendera Israel ke pelatih Hassan yang pro-Palestina. Bahkan sesama negara Amerika Latin, dari Meksiko hingga Brasil, kerap mencap Argentina “sok Eropa” dan terkesan membenci tetangganya sendiri.
Dalam mitologi Yunani, Narcissus adalah pemuda yang begitu terpukau pada pantulan wajahnya sendiri di permukaan air hingga ia tak lagi mampu berpaling. Ia jatuh cinta pada gambar yang diciptakannya sendiri, bukan pada kenyataan, dan pada akhirnya tenggelam sambil mencoba memeluk bayangan wajahnya yang tak pernah nyata.
Argentina, dalam banyak hal, adalah Narcissus dari Amerika Latin. Sejak pertengahan abad ke-19, negara ini menatap cermin yang ia buat sendiri dan melihat wajah Eropa di sana, meski air yang dipantulkannya sebenarnya jauh lebih gelap dan lebih kompleks dari yang ingin diakuinya.
Pada 1878, Jenderal Julio Argentino Roca memimpin apa yang disebut Conquista del Desierto, kampanye militer yang membersihkan tanah-tanah selatan Argentina dari penduduk asli untuk membuka ruang bagi imigran Eropa. Ribuan orang asli Amerika – bangsa Indian dll – tewas atau terpaksa minggat dari tanah mereka. Ini bukan efek samping dari pembangunan bangsa Argentina modern. Ini adalah fondasinya.
147 tahun kemudian, di stadion-stadion Piala Dunia 2026, bayangan yang sama muncul kembali, kali ini dalam bentuk botol bir yang dilempar ke fans Mesir dan bendera Israel yang dikibarkan ke pelatih yang berduka atas Palestina.
Ketika Stadion Menjadi Cermin
Piala Dunia 2026 menghadirkan rangkaian insiden yang, jika dilihat sendiri-sendiri, mungkin bisa dianggap ulah oknum. Namun jika dilihat sebagai rangkaian, kejadian-kejadian itu membentuk pola. FIFA membuka investigasi atas dugaan pelecehan rasis terhadap YouTuber IShowSpeed – nama aslinya Darren Watkins Jr. – yang diduga dilakukan fans Argentina di Miami.
Beberapa hari kemudian, fans Mesir melaporkan bir dilempar ke arah mereka setiap kali Argentina kebobolan gol. Aksi itu jelas tak sopan dan tak menghargai karena alkohol dan bir adalah hal yang haram bagi warga Mesir yang mayoritas Muslim.
Di Atlanta, fans Argentina mengibarkan bendera Israel ke arah pelatih Hassan, yang dikenal luas membela Palestina, sebuah simbol yang dipilih bukan sebagai pernyataan politik yang tulus, melainkan sebagai alat untuk menyakiti secara spesifik.
Pola ini bukan baru. Pada Copa América 2024, video gelandang Enzo Fernández menyanyikan yel-yel rasis menargetkan pemain Prancis berkulit hitam menjadi viral. Wesley Fofana, rekan setimnya di Chelsea, menyebut aksi itu rasisme yang tak terkendali. Yang lebih mengejutkan, setelah Fernández meminta maaf, yel-yel itu justru semakin populer dinyanyikan di berbagai pertandingan di seluruh Argentina.
“Orang Meksiko datang dari suku Indian, orang Brasil dari hutan, tapi kami orang Argentina datang dari kapal. Dan kapal-kapal itu datang dari Eropa.” Ucapan Presiden Alberto Fernández pada 2021 itu bukan sekadar kesalahan diplomatik yang memicu kecaman dari seluruh Amerika Latin, melainkan pernyataan jujur, meski tidak disengaja, tentang bagaimana Argentina memosisikan dirinya di atas tetangga-tetangganya sendiri: sebagai yang lebih Eropa, yang bukan seperti yang lain.
Proyek “Memutihkan Bangsa”
Fondasi dari semua ini tertulis hitam di atas putih dalam Konstitusi Argentina tahun 1853. Pasal 25, yang dirancang oleh pemikir Juan Bautista Alberdi, secara eksplisit mewajibkan negara mendorong imigrasi dari Eropa. Alberdi merangkumnya dalam frasa yang menjadi doktrin nasional: “Gobernar es poblar”, sebuah doktrin yang artinya “memerintah adalah menghuni”, yang dalam praktiknya berarti mengisi tanah Argentina dengan orang Eropa untuk menggantikan penduduk asli dan keturunan Afrika yang sudah ada di sana. Pasal ini tidak pernah dicabut, bahkan setelah reformasi konstitusi 1949 dan 1994.
Proyek ini turut menyingkirkan jejak Afrika dari Argentina. Peneliti Alex Borucki dari UC Irvine, melalui basis data SlaveVoyages, menemukan bahwa jumlah budak Afrika yang tiba di kawasan La Plata hampir setengah dari jumlah yang tiba di Amerika Serikat. Fakta besar ini nyaris tak diketahui, bahkan oleh orang Argentina sendiri, karena negara secara sistematis menghapus keberadaan mereka dari sensus, dari kurikulum sekolah, dari narasi kebangsaan. Perang Triple Alliance pada 1860-an turut menghabisi banyak komunitas indigenous dan Afro-Argentina, membuat populasi yang tersisa semakin homogen secara rasial.
Argentina bukan satu-satunya negara yang pernah merancang komposisi rasnya secara hukum. Australia menjalankan White Australia Policy dari 1901 hingga awal 1970an, secara resmi membatasi imigrasi non-Eropa demi menjaga karakter rasial bangsa. Perbedaannya, Australia mencabut kebijakan itu. Sedangkan Pasal 25 Konstitusi Argentina, hingga Piala Dunia 2026 ini, masih kokoh bertahan.
Hasilnya, data INDEC 2006 mencatat lebih dari 95 persen orang Argentina kini mengidentifikasi diri sebagai keturunan Eropa, sebuah angka yang menurut studi genetik dari National Center for Biotechnology Information tidak sepenuhnya mencerminkan realitas biologis penduduknya. Argentina memutihkan dirinya dalam imajinasi jauh lebih berhasil dari yang terjadi dalam kenyataan.
Membaca Rasisme
Untuk memahami mengapa fans yang melempar bir ke pendukung Mesir bukan sekadar oknum mabuk, ada tiga kerangka teori yang saling melengkapi.
Dalam Cultural Identity and Diaspora (1990), Stuart Hall menulis bahwa identitas bukan sesuatu yang ditemukan, melainkan produksi yang terus dikonstruksi melalui narasi. Argentina tidak menjadi bangsa Eropa karena secara biologis demikian adanya, melainkan mendefinisikan dirinya sebagai bangsa Eropa melalui dua abad kebijakan, sensus, dan pendidikan, lalu menginternalisasi konstruksi itu sebagai kebenaran alami. Ketika seorang fans melempar bir ke pendukung Mesir, ia sedang mempertahankan narasi identitas itu, sebuah cara untuk berkata: kami berbeda, kami bukan seperti mereka.
Dalam Black Skin, White Masks (1952), Frantz Fanon, psikiater kelahiran Martinik, menganalisis bagaimana kolonialisme menanamkan hasrat pada sebagian penduduk terjajah untuk menjadi seperti penjajahnya, meninggalkan identitas asli demi status simbolis kulit putih. Argentina adalah kasus Fanonian – meminjam nama Fanon – yang ekstrem, bekas koloni Spanyol yang justru berusaha menjadi lebih Eropa dari penjajahnya sendiri. Fanon juga mencatat sesuatu yang relevan untuk kasus ini: mereka yang paling gigih mempertahankan hierarki rasial biasanya adalah mereka yang posisinya paling tidak aman dalam hierarki itu. Argentina, yang secara genetik jauh lebih beragam dari yang diakuinya, membutuhkan mitos “keputihan” justru karena “keputihan” itu sendiri rapuh.
Dalam The Origins of Totalitarianism (1951), Hannah Arendt menulis bahwa ideologi rasial yang paling berbahaya bukan yang diteriakkan di jalanan, melainkan yang tertanam diam-diam dalam institusi dan hukum. Pasal 25 Konstitusi Argentina yang berumur hampir 170 tahun adalah contoh nyata dari kebanalan rasisme semacam itu, sebuah preferensi rasial yang sudah begitu lama menjadi hukum dasar negara sehingga tidak lagi terlihat sebagai rasis, melainkan hanya dianggap kebijakan imigrasi biasa.
Kontinuitas ini masih hidup hari ini. Pada 2026 ini juga, pemerintahan Presiden Argentina Javier Milei memilih menentang resolusi PBB tentang pengakuan warisan perbudakan dan hak pemulihan bagi komunitas keturunan Afrika, menjadikan Argentina satu dari segelintir negara yang bersuara menentang konsensus internasional yang berkembang. Dari Pasal 25 tahun 1853 hingga meja perundingan PBB tahun 2026, pilihannya konsisten: tidak melihat, tidak mengakui, tidak mempertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, ironi terbesar dari semua ini adalah sang mega bintang Lionel Messi sendiri. Ia keturunan imigran Italia, bermain di Barcelona, dan menjadi simbol kebanggaan seluruh Amerika Latin, terlepas dari warna kulit siapa pun yang mengaguminya. Kejeniusannya di lapangan adalah bukti bahwa sepak bola bisa melampaui batas etnis dan geografis. Namun keindahan di lapangan tidak otomatis membawa keindahan di luar lapangan.
Sepak bola sering disebut cermin paling jujur bagi sebuah bangsa. Yang dipantulkan Argentina di Atlanta dan Miami bukan cermin yang nyaman untuk dilihat, tapi seperti Narcissus yang menolak berpaling dari airnya sendiri.
Seperti kata Nelson Mandela: “No one is born hating another person because of the color of his skin”, rasisme adalah sebuah kontruksi sosial dan tentu saja politik. (S13)


