HomeNalar PolitikSerangan Rusia Untungkan Trump?

Serangan Rusia Untungkan Trump?

Donald Trump terus memberikan kritik kepada Joe Biden. Ketidakcakapan Biden menangani konflik Ukraina menjadi cercaan utama. Apakah serangan Rusia ke Ukraina adalah panggung politik Trump? Jika benar, apakah ini berbuah kemenangan di Pilpres AS 2024?


PinterPolitik.com

“War does not determine who is right – only who is left.” – Bertrand Russell, filsuf Inggris

Bukan Donald Trump namanya jika tidak memberikan determinasi. Bahkan sebelum menjadi Presiden Amerika Serikat (AS), nama Trump telah menjadi perhatian berbagai akademisi politik dunia. Pada tahun 1992, dalam bukunya yang fenomenal The End of History and the Last Man, Francis Fukuyama telah memberi perhatian pada Trump. 

Di sana, Fukuyama menyebut Trump sebagai sosok arogan dengan membandingkannya dengan Leona Helmsley, pengusaha real estate AS yang dikenal berkepribadian flamboyan dan memiliki perilaku buruk sehingga dijuluki sebagai Queen of Mean (Ratu Jahat). 

Jika dalam The End of History and the Last Man, Fukuyama hanya menyebut nama Trump sebanyak dua kali, dalam buku Identitas: Tuntutan atas Martabat dan Politik Kebencian, nama Trump disebut lebih dari dua puluh kali. Jumlah itu tidak mengejutkan, mengingat buku Identitas adalah respons Fukuyama atas kemenangan mengejutkan Trump di Pilpres AS 2016. 

Kini, setelah tidak lagi menjabat sebagai Presiden AS, sosok Trump nyatanya tetap menjadi episentrum politik dunia. Apalagi, konflik Ukraina-Rusia yang berkepanjangan menjadi bulan-bulanan Trump untuk mengkritik kompetitornya, Joe Biden.

Biden yang memenangkan Pilpres AS 2020 dinilai Trump tidak kompeten dalam menangani konflik yang terjadi. Dalam berbagai kesempatan, Trump bahkan menyebut konflik ini tidak akan terjadi jika dirinya masih menjadi Presiden AS.

Di sini poinnya menjadi menarik. Apakah serangan Rusia ke Ukraina telah menguntungkan Trump secara politik? 

infografis ketimbang biden putin takut trump

Beban Besar Biden

Kim Beazley dalam tulisannya There’s a Good Reason We’re so Interested in the US Election menyebut terdapat ekspektasi besar dunia di balik Pilpres AS terkait dengan unilateralisme, kolegialitas, hingga kepemimpinan global. 

Menurutnya, terdapat sensitivitas yang tinggi terhadap kemungkinan pengaruh atau intervensi secara positif dari kepemimpinan AS, khususnya aspek politik domestik suatu negara. Bahkan adagium yang dikatakan Beazley, yakni “we own the US presidential election”, kini menjadi semakin relevan di semua negara.

Namun, dalam satu dekade terakhir, hegemoni serta kepemimpinan global AS mengalami reduksi dan tantangan seiring dengan kebangkitan luar biasa ekonomi Tiongkok. Bahkan tidak hanya Tiongkok, India juga digadang-gadang akan menjadi kekuatan ekonomi besar di kemudian hari.

Baca juga :  Mungkinkah Pilpres Hanya Satu Putaran? 

Menurut Beazley, kecenderungan pelemahan ini mulai muncul sejak berakhirnya era Bush, mulai terlihat kasat mata di era Barack Obama, dan semakin riil di bawah Trump. Dengan sikap Trump yang menarik diri dari panggung internasional, jamak dituding membuat kepemimpinan global AS berada di titik terendah.

Postulat yang dijabarkan Beazley kemudian membuat berbagai pihak menaruh perhatian besar di Pilpres AS 2020. Kemenangan Biden diharapkan membawa AS kembali menjadi pemimpin global, status yang diembannya sejak 75 tahun yang lalu.

Namun, harapan tersebut tengah mendapat tantangan hebat saat ini. Chris Megerian dalam tulisannya Ukraine crisis reshaping Biden’s presidency, menyebut serangan Rusia ke Ukraina telah membuka babak baru dan berbahaya bagi kepresidenan Joe Biden. Konflik ini benar-benar menguji Biden terkait visi membela demokrasi di tingkat global, dan mendorongnya menjadi pemain kunci untuk memulihkan keamanan Eropa.

Menurut Megerian, konflik Rusia-Ukraina benar-benar tantangan yang berbeda. Ini jauh berbeda dengan konflik dagang yang dibawa Trump bersama Tiongkok. Ini bukan lagi soal bagaimana AS menjaga Tiongkok tidak menantang status quo-nya, karena konflik Ukraina telah melibatkan negara-negara Uni Eropa.

Dalam mengatasi serangan Rusia, sejauh ini Biden memberikan berbagai sanksi ekonomi. Yang menarik, menurut Direktur Urusan Internasional Universitas Renmin, Wang Yiwei, sanksi ekonomi yang diberikan AS justru akan memperpanjang konflik di Ukraina. 

Alih-alih menurunkan tensi, sanksi ekonomi yang diberikan justru terlihat meningkatkan eskalasi. Eropa sendiri terbelah, Jerman yang begitu bergantung atas impor energi Rusia sama saja melakukan bunuh diri jika mengikuti langkah AS.

Saat ini, Vladimir Putin juga terlihat melawan balik melalui kebijakan Rubel-nya. Negara yang ingin membeli gas Rusia harus menggunakan mata uang Rubel. Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban telah menyatakan setuju atas kebijakan itu.

infografis blank new watermark

Keunggulan Komunikasi Trump 

Jika konflik terus berkepanjangan, dan negara-negara Uni Eropa mulai kehabisan kesabaran atas sanksi ekonomi AS, bukan tidak mungkin akan tercipta ketidakpercayaan yang meluas terhadap Biden dari pemimpin-pemimpin Eropa.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam wawancaranya dengan The Economist pada November 2019, bahkan secara terbuka menyebut AS berulang kali menunjukkan sikap tidak memihak Eropa. Tegasnya, sudah saatnya Eropa keluar dari bayang-bayang AS. 

Baca juga :  Seret Luhut dan Para Jenderal, Ganjar Frustasi?

Jika ketidakpercayaan meluas terjadi, itu lah momen besar bagi Donald Trump. Jika diperhatikan, ada satu keunggulan utama Trump dari Biden, yakni kemampuan komunikasi. 

Shari Graydon dan Sarah Neville dalam tulisannya Trump’s Terrifying Communication Effectiveness, menyebut ada empat poin mengapa komunikasi Trump begitu efektif. 

Pertama, Trump menghindari kata-kata rumit, serta membuat pernyataan secara singkat dan sederhana. Kedua, Trump memperkuat pesan-pesan kunci pernyataan dengan berulang kali menyinggungnya. 

Ketiga, Trump menghadapi audiens secara langsung. Trump secara terbuka menjawab pertanyaan wartawan. Keempat, Trump mengambil perhatian publik dengan memainkan psikologis audiens, misalnya dengan memainkan narasi yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme.

Konteks komunikasi efektif ini terlihat cukup kontras dengan Joe Biden. Menurut Steven Levingston dalam tulisannya Joe Biden: Life Before the Presidency, sejak kecil Biden memiliki permasalahan bicara gagap. Biden sempat diberikan terapi, namun terapi itu tidak berhasil. 

Menurut pakar kepribadian Merrick Rosenberg, dilihat dari karier politiknya, Biden memiliki satu kelemahan besar, yaitu sering terlihat berbicara sebelum memikirkan kata-katanya terlebih dahulu. Di internet, kita bahkan dapat menemukan kompilasi pidato Biden yang vulgar dan terkesan “terpeleset” dari skrip pidato, dengan kata kunci “Biden’s gaffe”. 

Terbaru, tepatnya pada 26 Maret, Biden mendapatkan banyak kritik soal pernyataannya tentang Putin. Saat itu, Biden menyebut Putin adalah “tukang jagal”, dan tidak boleh dibiarkan terus berkuasa di Rusia. Yang menarik, salah seorang sumber dari Gedung Putih mengatakan pada CNN bahwa apa yang dikatakan Biden tidak termasuk dalam skrip pidato.

Kembali pada poin awal. Jika ketegangan di Ukraina terus meluas, ini dapat menjadi bulan-bulanan Trump untuk menyerang Biden soal kepemimpinan internasionalnya. Apalagi, pada 6 April, Kepala NATO Jens Stoltenberg mengatakan konflik di Ukraina dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Well, sebagai penutup, dengan kemampuan komunikasinya yang efektif, konflik Ukraina akan menjadi panggung politik besar bagi Donald Trump. Jika konflik ini masih berlanjut menjelang Pilpres AS 2024, bukan tidak mungkin Trump akan kembali dilirik oleh rakyat Amerika Serikat.

Seperti pernyataan Trump, hanya di bawah kepemimpinannya Rusia tidak melakukan serangan ke negara lain. Di bawah Bush, Rusia menyerang Georgia; di bawah Obama, Rusia mengambil Krimea; dan di bawah Biden, Rusia menyerang Ukraina. (R53) 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Megawati dan Tumbangnya Trah Soekarno 

Kekalahan calon presiden (capres) usungan Megawati Soekarnoputri dan PDIP kerap dipersepsikan juga sebagai kekalahan ‘trah Soekarno’ oleh trah Joko Widodo (Jokowi). Padahal, awalnya ada harapan bahwa kedua trah besar ini bisa menyatukan kekuatan mereka di Pemilihan Presiden 2024 (Pilpres 2024). Mengapa hal ini tidak terjadi? 

Cak Imin Akan Dikudeta dari PKB? 

Isu kudeta posisi Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mencuat seiring kekalahannya di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Namun, melihat kelihaian dan kemampuan Cak Imin dalam mengelola partai, isu itu tampaknya sulit untuk menjadi kenyataan. Benarkah demikian? 

Operasi Rahasia Menarik PKB-PKS ke Koalisi Prabowo?

Isu perpindahan partai-partai ke koalisi Prabowo-Gibran santer dipergunjingkan. Salah dua partai yang digosipkan adalah PKB dan PKS.

Hikmahanto Menhan, Prabowo Ideal Statesman?

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana dinilai sangat layak untuk menjadi menteri pertahanan (menhan) penerus Prabowo Subianto. Selain karena rekam jejak dan kemampuannya, hal itu secara politik akan menguntungkan bagi pemerintahan Prabowo-Gibran andai benar-benar ditetapkan sebagai pemenang Pilpres 2024. Mengapa demikian?

Menguak Siasat Retno “Rayu” Prabowo?

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi tampak aktif dan tegas bela Palestina. Mungkinkah ini upaya "rayu" presiden selanjutnya, Prabowo Subianto?

Putin-Zelensky dan Adiksi Ultra-Ekstrem Foreign Fighters

Fenomena sub-foreign fighters, yakni “tentara turis” mulai menjadi materi analisis menarik karena eksistensinya yang marak dan dilembagakan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui Ukrainian Foreign Legion atau Legiun Internasional Ukraina. Lalu, mengapa beberapa warga negara asing rela mati demi peperangan dan perebutan kepentingan negara lain? Serta seperti apa masa depan dan implikasinya, termasuk bagi Indonesia?

Menakar Takdir Sandiaga di 2029 

Langkah politik Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno pasca Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 masih menjadi tanda tanya. Sebagai politisi muda yang potensial, karier politik Sandi ke depan kiranya benar-benar ada di tangannya sendiri secara harfiah. Mengapa demikian?

Mustahil Prabowo Jadi Diktator?

Banyak media asing menilai Indonesia akan jatuh ke otoritarian di bawah Prabowo Subianto. Namun, apakah hal itu mungkin? Ataukah mustahil?

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...