HomeNalar PolitikRapid Test: Konspirasi atau Murni Ekonomi?

Rapid Test: Konspirasi atau Murni Ekonomi?

Kecil Besar

Belakangan ini munculnya rapid test Covid-19 dengan embel-embel promosi tengah menuai sorotan minor publik. Lantas, benarkah rapid test merupakan bisnis konspiratif yang dipersiapkan kalangan tertentu?


PinterPolitik.com

Yah, kendati tidak berdengung seintens sebelumnya, kita tentu masih ingat dengan pemain drum Superman is Dead (SID) Jerinx yang begitu konsisten menyebut pandemi virus Corona (Covid-19) merupakan konspirasi elite global.

Kita tentu juga ingat bahwa pendiri Microsoft Bill Gates yang memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan dan produksi vaksin Covid-19 adalah salah satu pihak yang disebut paling bertanggung atas pandemi oleh Jerinx.

Menariknya, kendati banyak pihak mungkin mulai jenuh dengan teori konspirasi seputar Covid-19, munculnya fenomena rapid test Covid-19, khususnya dengan embel-embel diskon atau promosi sepertinya mengangkat kembali bau-bau konspirasi di balik pandemi ini. Ini misalnya terlihat dari unggahan infografis PinterPolitik yang berjudulRapid Test Jadi Bisnis Baru?”.

Dari 76 komentar yang ada, tidak sedikit yang mengaitkan rapid test yang menjadi komoditi bisnis ini dengan teori konspirasi, serta menandai Jerinx di kolom komentar. Dari berbagai narasi yang ada, fenomena rapid test ini sepertinya dipahami sebagai salah satu rencana pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dari pandemi yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Merujuk pada sejarah, narasi ini terbilang masuk akal. Pasalnya, seperti yang diketahui, adanya tes dan vaksin memang merupakan respons atas suatu virus yang berbahaya. Dengan kata lain, mudah untuk menyimpulkan, terdapat pihak yang ingin menerapkan pola tersebut untuk mendapatkan keuntungan ekonomi.

Jika virus tersebar, serta media menyebarkan ketakutan atasnya, tentu mudah untuk membuat regulasi agar tes atasnya diberlakukan. Terlebih lagi, dengan tingkat akurasi rapid test yang disebut begitu tidak akurat, ini tentu membuat narasi bahwa tes ini hanya sebagai komoditi bisnis semata menjadi semakin terbenarkan.

Akan tetapi, tentu harus dipertanyakan, apakah tepat menyebut rapid test merupakan bagian dari konspirasi? Atau justru fenomena ini merupakan aktivitas ekonomi yang alami?

Behavioral Economics

Sebelum membahas lebih lanjut perihal rapid test merupakan bagian dari konspirasi atau tidak. Terlebih dahulu harus dipetakan terkait alur argumentasi di balik narasi tersebut.

Untuk menyimpulkan bahwa rapid test merupakan bagian dari konspirasi, maka mestilah rapid test ada terlebih dahulu sebelum Covid-19 menyebar dan bukan sebaliknya.

Namun, apabila rapid test merupakan respons atau reaksi atas Covid-19, maka ia adalah entitas yang baru ada kemudian. Jika ini yang terjadi, maka rapid test tidak dapat disebut sebagai bagian dari konspirasi, melainkan hanya sebagai aktivitas ekonomi murni semata.

Akan tetapi, peliknya, menentukan rapid test ada terlebih dahulu atau tidak adalah suatu hal yang begitu sulit untuk dilakukan. Lantas, jika sulit ditentukan, bagaimana pihak-pihak di luar sana menyimpulkan bahwa rapid test adalah konspirasi?

Baca juga :  Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Sederhana, karena disimpulkannya terdapat pola ekonomi yang menunjukkan rapid test merupakan skema bisnis yang seolah telah dipersiapkan sebelumnya. Kunci dari hal ini adalah karena rapid test yang menjadi komoditi bisnis dinilai sebagai hal yang ganjil.

Konteks ini sedikit tidaknya pernah disinggung oleh penulis buku Homo Sapiens Yuval Noah Harari dalam tulisannya yang berjudul The World After Coronavirus dan The Biggest Danger is Not the Virus Itself dengan menyebutkan bahwa untuk segera menyelesaikan pandemi ini, maka dibutuhkan solidaritas global.

Rasionalisasinya adalah, jika berakhirnya pandemi adalah suatu kebaikan bersama (common good), lantas mengapa solidaritas tersebut tidak terbentuk. Getirnya, pandemi justru dijadikan sebagai ladang ekonomi. Dengan kata lain, bukankah mudah untuk menyimpulkan bahwa fenomena ini menunjukkan kebaikan bersama tersebut tidak diinginkan karena terdapat pihak yang mengeksploitasi pandemi menjadi bisnis.

Dasar asumsi ini kemudian yang jamak membentuk narasi bahwa terdapat aktor-aktor bayangan di luar sana yang memang mengatur terciptanya pandemi agar mereka mendapatkan keuntungan ekonomi ataupun untuk menjaga status quo-nya.

Akan tetapi, bagaimana apabila kebaikan bersama tersebut, ataupun solidaritas global yang dibayangkan Harari sebenarnya bukanlah suatu hal yang mungkin terjadi?

Pada konteks ini, kita perlu untuk memahami apa yang disebut dengan behavioral economics atau ekonomi perilaku. Jika studi ekonomi klasik mengasumsikan agen ekonomi (manusia) adalah individu rasional, sehingga suatu putusan rasional akan diambil. Ekonomi perilaku adalah studi yang memberikan penegasan bahwa agen ekonomi justru kerap kali mengambil keputusan yang tidak rasional.

Alain Samson dalam tulisannya An Introduction to Behavioral Economics, menyebutkan bahwa ekonomi perilaku adalah respons dari temuan ahli psikologi Daniel Kahneman dan Amos Tversky yang menyimpulkan bahwa kognisi manusia penuh dengan bias. Atas temuan ini, alih-alih menyebut agen ekonomi akan menuju kebaikan bersama sehingga pasar sempurna seperti yang dibayangkan Adam Smith dalam The Wealth of Nations dapat terjadi, agen ekonomi justru memandang putusan rasional adalah apa yang menguntungkan bagi diri mereka sendiri. Ini kemudian disebut sebagai pandangan relatif atas nilai ekonomi.

Jika masih menggunakan studi ekonomi klasik, keheranan terkait mengapa kebaikan bersama, yakni segera mengakhiri pandemi dengan membangun solidaritas tentu mendapatkan afirmasi. Pasalnya, dengan kondisi serba tidak pasti saat ini, bukankah irasional apabila terdapat pihak tidak menginginkan pandemi segera berakhir? Akan tetapi, dengan mengacu pada ekonomi perilaku, tidak terbentuknya solidaritas tersebut sepertinya adalah hal yang lumrah.

Baca juga :  Xi Jinping, the King of Games?

Alhasil, keheranan yang bermuara pada teori konspirasi tersebut pada dasarnya bertolak atas asumsi manusia adalah agen rasional yang mestilah berkeinginan untuk segera mengakhiri pandemi. Namun, karena manusia adalah agen yang irasional, keputusan untuk menjadikan pandemi yang tengah terjadi sebagai komoditi bisnis justru yang terjadi. Secara tidak langsung, ini tentunya menghambat penanganan pandemi.

Singkat kata, munculnya rapid test promosi, pada dasarnya adalah mekanisme pasar alami karena terdapat agen ekonomi yang melihatnya sebagai komoditi yang menguntungkan.

Swimmer’s Body Illusion

Mengacu pada ekonomi perilaku, suka atau tidak, kita dapat menyimpulkan bahwa munculnya rapid test pada dasarnya adalah reaksi atas pandemi Covid-19. Ini menunjukkan bahwa pandemi pada dasarnya ada terlebih dahulu daripada rapid test, sehingga secara logis, ini menggugurkan narasi konspirasi atasnya.

Dengan demikian, jika masih terdapat pihak yang menyimpulkan bahwa rapid test adalah bagian dari teori konspirasi, maka dapat disimpulkan telah dilakukan kekeliruan argumentasi yang disebut dengan swimmer’s body illusion atau ilusi tubuh perenang.

James M. Russell dalam bukunya A Brief Guide to Smart Thinking: From Zeno’s Paradoxes to Freakonomics – dengan mengutip Nassim Nicholas Taleb – menyebutkan bahwa ilusi tubuh perenang adalah analogi yang diperuntukkan untuk menjelaskan kekeliruan argumentasi ketika sebab dan akibat terbalik ditentukan.

Seperti namanya, analogi ini bertolak dari kondisi tubuh perenang. Pada umumnya, banyak pihak akan menyebutkan bahwa perenang memiliki tubuh yang bagus (atletis) karena ia kerap berenang. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya, yakni karena memiliki tubuh yang baik justru yang menyebabkan  perenang dapat menjadi perenang yang handal. Di sini telah terjadi kekeliruan dalam menentukan mana sebab dan mana akibat.

Singkat kata, mereka yang menyimpulkan bahwa rapid test adalah bagian dari konspirasi pada dasarnya adalah mereka yang keliru dalam menentukan mana sebab dan mana akibat. Kemudian, dapat disimpulkan pula bahwa keheranan masif atas fenomena rapid test ini adalah bentuk dari masih banyaknya pihak yang memahami ekonomi dalam artian studi ideal, yakni masih memahami agen ekonomi sebagai individu rasional.

Namun, perlu untuk digarisbawahi, tulisan ini adalah apa yang disebut sebagai analisis epistemologis, yakni mengurai benang argumentasi di balik narasi konspiratif di balik rapid test. Dengan kata lain, simpulan dalam analisis ini tidak memberikan klaim ontologis, yakni tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa rapid test sebagai konspirasi tidak benar-benar ada. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...