HomeHeadlineRahasia Putra Sulawesi Selatan di Ring-1

Rahasia Putra Sulawesi Selatan di Ring-1

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Dominasi putra Sulawesi Selatan di ring-1 pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bukan kebetulan. Berbekal nilai budaya, modal sosial, jejaring lintas rezim, dan reputasi integritas, mereka menembus posisi strategis lintas periode. Kepercayaan ini menjadi “merek politik” yang langgeng di pusat kekuasaan.


PinterPolitik.com

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memperlihatkan fenomena yang cukup menarik, yakni kehadiran signifikan figur-figur asal Sulawesi Selatan di ring-1 kekuasaan.

Dari Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian, Sjafrie Samsuddin sebagai Menteri Pertahanan, Nasaruddin Umar di Kementerian Agama, hingga Meutya Hafid sebagai Menteri Komunikasi dan Digital, jajaran ini diisi oleh tokoh-tokoh yang menguasai portofolio strategis.

Kehadiran Abdul Kadir Karding, Dzulfikar Ahmad Tawalla, Didit Herdiawan, serta Supratman Andi Agtas semakin menegaskan dominasi ini.

Fenomena tersebut kiranya bukanlah hasil kebetulan geografis atau sekadar perhitungan representasi daerah, melainkan manifestasi dari akumulasi reputasi dan jejaring yang telah dibangun secara konsisten dalam periode dekade, bahkan abad.

Dalam perspektif modal sosial Pierre Bourdieu, posisi mereka adalah hasil dari pengelolaan jaringan relasi yang memberikan akses terhadap sumber daya politik, ekonomi, dan kultural.

Budaya Sulawesi Selatan yang mengedepankan Taro Ada Taro Gau (keselarasan kata dan tindakan), Lempu’ (kejujuran dan kebenaran), Getting (keteguhan pendirian), serta Siri’ na Pacce (harga diri dan solidaritas) menjadi fondasi kepercayaan yang jarang tergoyahkan di mata elite politik nasional.

Nilai-nilai ini telah membentuk persepsi bahwa figur asal Sulsel adalah mitra yang amanah, berani, dan konsisten, sehingga pantas menempati kursi strategis.

Kapital yang Terbangun

Kepercayaan dinilai sebagai aspek yang mengantarkan putra-putri Sulawesi Selatan ke lingkaran inti kekuasaan tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui akumulasi modal sosial, kultural, politik, dan ekonomi yang saling menguatkan.

Baca juga :  Djojohadikusumo-Baswedan Bertemu di 33

Modal sosial mereka terbentuk dari reputasi integritas, di mana prinsip Taro Ada Taro Gau dan Lempu’ menghadirkan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Dalam konteks kredibilitas politik, konsistensi ini meminimalkan risiko bagi elite pusat untuk mempercayakan mandat penting.

Modal kultural yang dibentuk oleh Getting dan Siri’ na Pacce memunculkan gaya kepemimpinan yang tegas, disiplin, dan setia, namun tetap mampu menjaga relasi harmonis, membuat mereka adaptif di lingkungan birokrasi yang kerap berwarna-warni.

Modal politik mereka lahir dari jejaring lintas rezim, yang telah dibangun sejak era Orde Baru melalui jalur militer, bisnis strategis seperti komoditas pertanian dan perikanan, serta hubungan personal dengan elite pusat.

Sementara itu, modal ekonomi yang kuat, baik melalui bisnis keluarga maupun kiprah profesional di sektor privat, memperkuat kemandirian dan posisi tawar mereka di hadapan kekuasaan.

Sinergi dari keempat modal ini membuat figur asal Sulawesi Selatan bukan hanya menjadi pelaksana kebijakan yang patuh, tetapi juga aktor strategis yang membawa basis pengaruh tersendiri ke meja nasional.

dari sulsel ke ring 1

Kepercayaan Politik Lintas Periode

Fenomena kepercayaan politik terhadap orang Sulawesi Selatan tidak hanya khas pada era Prabowo, tetapi juga berulang pada periode pemerintahan sebelumnya.

Dari Jusuf Kalla yang menduduki kursi wakil presiden di dua rezim berbeda, hingga tokoh-tokoh menteri dan pejabat tinggi sejak era Orde Baru, terlihat bahwa reputasi kolektif orang Sulsel mampu menembus sekat politik dan ideologi pemerintahan.

Kepercayaan ini telah menjadi semacam “merek politik” yang melekat, di mana dalam perspektif branding politik, brand tersebut dibangun dari persepsi kolektif bahwa mereka adalah figur yang amanah, tegas, dan loyal.

Penempatan mereka di kementerian strategis seperti pertahanan, pertanian, hukum, dan agama mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap loyalitas sekaligus kapabilitas teknis mereka.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Lebih menarik lagi, figur-figur ini datang dari latar politik yang beragam—ada yang berasal dari partai besar seperti Golkar dan Gerindra, ada pula yang berlatar profesional—namun tetap mendapatkan ruang di lingkaran kekuasaan.

Hal ini memperlihatkan bahwa yang menjadi tolok ukur utama bukan sekadar afiliasi politik, melainkan rekam jejak personal dan reputasi budaya yang sudah mengakar.

Bagi elite pusat, memilih figur Sulsel adalah langkah strategis yang meminimalkan risiko dan memaksimalkan keberhasilan agenda pemerintahan. Bagi orang Sulsel, ini adalah bukti bahwa modal budaya yang dijaga secara konsisten mampu menjadi daya saing politik yang langgeng, bahkan di pusat kekuasaan yang penuh rivalitas. Menarik untuk menantikan generasi penerus para tokoh Sulsel di masa depan. (J61)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Khofifah dan Jebakan “Bebek Songkem”?

Khofifah pimpin Jatim nyaris tanpa sorotan, beda jauh dari gubernur Jawa lain yang ramai. Sengaja merunduk atau memang melemah? 

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing

BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Prabowo tunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN baru. Mampukah sentuhan perempuan menyembuhkan dapur 60 juta porsi yang sedang sakit? 

Driver Ojol Sang Marhaen Modern

Simbolisme Marhaen kini bergeser ke kisah Fatimah Iryanti. Seratus tahun lalu, Soekarno menemukan wajah kemiskinan di sawah yang kering. Hari ini, wajah itu duduk di jok motor, menanggung terik kota, mengantar pesanan demi pesanan yang surplusnya tidak pernah benar-benar sampai ke tangannya.

Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara “senyap”.

“Termul” Pensiun, AI Ambil Alih

Mereka tidak mencoba meyakinkan Anda. Mereka hanya perlu meyakinkan Anda bahwa semua orang lain sudah setuju. AI akan mengambil posisi Buzzer Konvensional. Mereka tidak bergerak dengan ratusan akun, mereka bergerak dengan ribuan atau jutaan akun. Manusia biasa tidak mungkin bisa melakukannya. Selamat Datang di fenomena AI SWARM. 

More Stories

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.

Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara “senyap”.

Dahsyatnya “Buahlil Fever”

Lagu “Mas Bahlil Ganteng” kiranya menjadi fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konteks sosial-politik Indonesia. Kedahsyatannya yang dinyanyikan dewasa maupun Gen-Alpha, mendobrak algoritma untuk mengubah citra seketika saat seorang pejabat yang awalnya dinaungi nuansa skeptisisme.