HomeHeadlinePuan Jalankan “Perang Kabut” Clausewitz?

Puan Jalankan “Perang Kabut” Clausewitz?

Kecil Besar

Puan Maharani tengah intens melakukan safari politik. Puan telah bertemu Surya Paloh, Prabowo Subianto, dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Dalam waktu dekat, Puan juga akan bertemu dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Apakah safari politik yang dijalan Puan merupakan “perang kabut” yang dijelaskan ahli strategi perang Prusia, Carl von Clausewitz?


PinterPolitik.com

“War is the realm of uncertainty” — Carl von Clausewitz

Bau-bau pencalonan Puan Maharani sebagai kandidat di pemilihan presiden (pilpres) setidaknya sudah tercium sejak 2011. “Banyak kelebihan yang dimiliki Mbak Puan sehingga dia layak menjadi calon presiden untuk merebut posisi kepala negara,” ungkap Sekretaris PDIP Jawa Tengah saat itu, Agustina Wilujeng pada 5 Januari 2011 silam.

Namun, roda nasib berkata lain. Pada Pilpres 2014 dan 2019, nama Puan absen di panggung kontestasi. Setelah lama menunggu, Pilpres 2024 tampaknya menjadi momen sang Ketua DPR untuk menjadi kandidat — entah sebagai capres maupun cawapres.

Sejauh ini, Puan disebut akan dipasangkan dengan berbagai sosok, seperti Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Panglima TNI Andika Perkasa, hingga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Namun, koalisi yang dibentuk Gerindra dengan PKB tampaknya membuyarkan duet Prabowo-Puan.

Politisi senior PDIP Panda Nababan yang memiliki hubungan dekat dengan Megawati Soekarnoputri dan almarhum Taufiq Kiemas, juga melihat pesimis duet itu terwujud. Panda menyebutkan, jika Megawati yang merupakan ibu Puan saja kalah bersama dengan Prabowo di Pilpres 2009, lalu bagaimana dengan Puan yang seorang anak?

Dengan ambisi kuat PDIP untuk mengusung Puan di Pilpres 2024, pertanyaan penting yang nanti banyak pihak adalah, dengan siapa Ketua DPR itu akan maju?

Pertanyaan ini mendapat atensi yang lebih luas setelah Puan melakukan safari politik ke berbagai ketua umum partai politik. Pertama, Puan berkunjung ke NasDem Tower untuk bertemu dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh.

Kemudian, kita melihat foto Puan sedang berkuda dengan Prabowo Subianto. Baru-baru ini, Puan juga tengah membangun chemistry dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dengan bersama-sama makan pecel. 

Lebih menarik lagi, Puan juga akan bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam waktu dekat. Pertemuan ini terbilang menarik karena orang tua keduanya, yakni Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak memiliki hubungan yang baik.

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Safari politik Puan ini menarik karena dapat melahirkan dua pemaknaan. 

Pertama, itu menunjukkan Puan tengah membangun komunikasi dan konsolidasi dengan berbagai partai politik. 

Kedua, safari yang menyasar berbagai partai itu membingungkan banyak pihak karena sulit menebak Puan akan maju dengan siapa di Pilpres 2024.

Lantas, terkhusus untuk poin nomor dua, apakah Puan tengah menjalankan operasi perang elektoral tertentu?

puan fiks maju ed.

Fog of War

Ahli perang terkemuka Tiongkok, Sun Tzu dalam bukunya The Art of War memberikan penjelasan menarik yang dapat dijadikan refleksi. Dalam bab Manuver Perang, Sun Tzu menulis, “Manuver perang haruslah seperti angin yang bertiup. Lakukanlah gerakan tanpa suara (silent operation) dengan tenang.”

Menurut Sun Tzu, merupakan suatu kesalahan fatal apabila musuh sampai mengetahui posisi kita. Itu akan membuat musuh mengirim agen spionase untuk mendapatkan berbagai informasi, seperti formasi dan jumlah prajurit, kekuatan logistik, dan titik lemah medan tempur yang tengah kita duduki.  

Ini yang membuat Sun Tzu untuk mewanti-wanti agar berbagai tipu muslihat dilakukan. Musuh tidak boleh mengetahui informasi-informasi itu. Seperti yang disebutkan filsuf Francis Bacon, “pengetahuan adalah kekuatan.”

Dalam penjelasan yang lebih rinci, ahli strategi perang Prusia, Carl von Clausewitz menyebut perang sebagai kabut (fog of war). Dalam bukunya On War, Clausewitz menjelaskan perang adalah realitas yang penuh dengan ketidakpastian (realm of uncertainty). Sama seperti di dalam kabut, kita kesulitan untuk memprediksi apa yang ada di depan dan di sekeliling. Perang sangat tidak bisa ditebak. Terlalu banyak informasi, dan informasi-informasi itu terus berubah. 

Situasi ini persis seperti yang digambarkan dalam dilema narapidana (prisoner’s dilemma). Dua kelompok atau lebih yang berhadapan berada pada situasi asimetri informasi. Masing-masing pihak tidak mengetahui situasi presisi kelompok lain.

Atas kondisi itu, Clausewitz sangat mewanti-wanti soal posisi. Musuh tidak boleh mengetahui kita berada di mana, akan melakukan apa, kapan akan menyerang atau berpindah, dan seberapa banyak logistik yang kita dimiliki.

infografis cak imin puan cocok prabowo terlupakan

Operasi Kabut

Jika menarik korelasinya dengan safari politik Puan, penjelasan Sun Tzu soal silent operation dan Clausewitz soal fog of war, sepertinya merupakan rujukan strategi politik Ketua DPR RI tersebut. Dapat dikatakan, Puan tengah berusaha untuk membingungkan lawan-lawan politiknya.

Baca juga :  Republik Sunyi

Puan berkunjung ke berbagai partai politik agar sulit ditebak nantinya akan maju dengan siapa di Pilpres 2024. Pasalnya, jika sejak dini sosok pendamping Puan sudah terlihat, berbagai hantaman politik tentu akan diterima. 

Pada Pilpres 2014, silent operation dengan jelas dilakukan oleh PDIP. Seperti yang dicatat Burhanuddin Muhtadi dalam bukunya Populisme, Politik Identitas, dan Dinamika Elektoral: Mengurai Jalan Panjang Demokrasi Prosedural, Megawati tidak terburu-buru untuk mencalonkan Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres PDIP.

Megawati melakukan berbagai kalkulasi, hingga akhirnya secara resmi mencalonkan Jokowi sebagai capres pada 14 Maret 2014, hanya berjarak sekitar tiga bulan dari pemilihan legislatif (pileg) yang diselenggarakan pada 9 April 2014.

Kemudian pada Pilpres 2019, tanpa adanya isu sedikit pun, Ma’ruf Amin tiba-tiba muncul sebagai cawapres Jokowi ketika deklarasi. Publik dibuat kaget karena sebelumnya Mahfud MD yang digadang-gadang akan mendampingi Jokowi.

Pemilihan nama Ma’ruf jelas merupakan pengejawantahan atas silent operation dan fog of war. Coba bayangkan, seandainya nama Ma’ruf dimunculkan sejak dini, berbagai serangan politik tentu akan menghantam bertubi-tubi. Akan ada yang menyinggung soal usia, marwah sebagai kiai, hingga ketegangannya dengan Ahok.

Dengan demikian, Puan yang melakukan safari politik ke berbagai ketua umum partai politik, termasuk dengan AHY, tampaknya merupakan strategi untuk menciptakan kabut politik. Seperti yang disebutkan Clausewitz, ciri khas perang adalah ketidakpastian. Perang harus diselimuti oleh kabut agar pergerakan kita sulit diprediksi oleh musuh.

Jika boleh memberi istilah, apa yang dilakukan Puan dapat disebut sebagai “operasi kabut”. Kabut yang menyelimuti ini akan terus dibuat dan dipertahankan sampai detik-detik penetapan paslon pada Oktober-November 2023.

Kembali mengutip Sun Tzu, setelah silent operation berhasil dijalankan, maka kita harus menyerang seperti kobaran api dan petir yang menggelegar. Kagetkan lah musuh sampai mereka tidak siap untuk melakukan serangan balik.

Jika Puan tengah menjalankan strategi perang Sun Tzu dan Clausewitz, maka dapat dipastikan, menjelang penetapan capres-cawapres pada tahun depan, akan ada nama kejutan yang akan mengagetkan berbagai pihak, khususnya lawan-lawan politik Puan. 

Well, kita lihat saja kelanjutannya. Menarik untuk menanti sejauh mana orkestra politik ini akan ditampilkan. (R53)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...