HomeHeadlinePrabowo-Sandi Dijebak Operasi Intelijen?

Prabowo-Sandi Dijebak Operasi Intelijen?

Kecil Besar

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno berulang kali menyatakan kesiapannya untuk maju di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Sebagai kader Partai Gerindra, bukankah Sandi seharusnya sudah mengetahui Prabowo Subianto adalah prioritas utama untuk diusung? Mungkinkah terdapat pihak yang ingin membenturkan Sandi dengan Prabowo?


PinterPolitik.com

“The peak efficiency of knowledge and strategy is to make conflict unnecessary.” – Sun Tzu

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menegaskan kesiapannya untuk maju di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Penegasan itu tentu menarik. Pasalnya, sebagai kader Partai Gerindra, Sandi tentunya sudah tahu kalau Prabowo Subianto adalah prioritas utama Partai Gerindra untuk diusung di Pilpres 2024.

Dalam konferensi pers terbaru pada 19 Desember 2022, ada wartawan bertanya ke Sandi, “Gak takut disalahartikan oleh Gerindra, kan Gerindra mengusung Pak Prabowo?”. Sandi pun menjawab, “Saya terus berkoordinasi dengan Pak Prabowo.”

Well, terlepas dari siapa nantinya yang diusung oleh Partai Gerindra. Seperti pertanyaan wartawan tadi, dengan Sandi berulang kali menegaskan kesiapannya maju di Pilpres 2024, bahkan juga menjalin komunikasi baik dengan partai lain seperti PPP, apakah Sandi tidak takut berbenturan dengan kepentingan Partai Gerindra yang sudah lama menegaskan akan mengusung Prabowo?

Terkait manuver Sandi, elite Partai Gerindra sebenarnya sudah memberikan teguran terbuka. Pada 17 Desember 2021, misalnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra Ahmad Muzani mengingatkan Sandi kalau calon Gerindra itu tunggal, yakni Prabowo Subianto.

“Kalau apa yang diharapkan oleh Pak Sandi adalah dukungan dari Partai Gerindra, Gerindra ini calon presidennya yang diinginkan oleh kader itu hanya satu, tunggal. Namanya Prabowo Subianto,” ungkap Muzani.

Dengan fakta sudah berulang kali ditegur, pertanyaannya, kenapa Sandi tetap secara terbuka mengungkapkan keinginannya untuk maju di Pilpres 2024?

Baca juga :  Anies dan Dark Side of The Moon
sandi pilih indonesia atau prabowo ed.

Sandi-Prabowo Diadu-domba?

Melihatnya dari kacamata ilmu intelijen, kuat dugaan Sandi sedang dioperasi. Tepatnya, Sandi sedang terkena “operasi penggalangan intelijen”.

Menurut pengamat militer dan keamanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, operasi penggalangan intelijen meliputi tiga tahapan utama, yaitu tahap infiltrasi, tahap intensifikasi/eksploitasi, dan diakhiri tahap evaluasi/konsolidasi.

Lebih rinci, dalam bukunya Aku “Tiada” Aku Niscaya: Menyingkap Lapis Kabut Intelijen, Irawan Sukarno membagi operasi penggalangan intelijen ke dalam enam strategi, yakni penyusupan, pencerai-beraian, pengingkaran, pengarahan, penggeseran, dan penggabungan.

Pada kasus Sandi, kuat dugaan ia sudah terkena setidaknya dua strategi, yakni penyusupan dan percerai-beraian.

Pertama, Sandi disusupi oleh pihak-pihak berkepentingan yang ingin mendorongnya maju di Pilpres 2024. Kedua, pihak-pihak itu ingin menceraikan Sandi dengan Prabowo. Sandi ingin dibuat bertarung dengan Prabowo untuk merebut tiket Gerindra di 2024.

Strategi pencerai-beraian ini sekiranya setua usia perselisihan dalam peradaban manusia. Dalam temuan-temuan sejarah maupun teks kuno, kita menemukan politik adu-domba selalu terjadi. 

Dalam buku The Art of War yang ditulis pada abad ke-5 SM, Sun Tzu berulang kali memberi saran untuk mengadu-domba musuh untuk melemahkan pertahanan dan daya tempurnya. 

Saran serupa juga ditemui dalam Thirty-Six Stratagems, yakni 36 strategi Tiongkok kuno yang digunakan dalam politik, perang, dan interaksi sipil, yang ditulis pada abad ke-6 SM. 

Tepatnya pada strategi nomor 2 yang berbunyi Besiege Wèi to rescue Zhào (圍魏救趙, Wéi Wèi jiù Zhào), disebutkan, untuk melemahkan musuh secara psikologis kita dapat menyerang sesuatu yang dianggapnya berharga.

Dengan popularitas, likability, elektabilitas, dan kekuatan kapitalnya, Sandi dengan jelas merupakan kader berharga bagi Partai Gerindra, dan tentunya bagi Prabowo selaku ketua umum. Suka atau tidak, jika Sandi benar-benar berhasil dibuat “membelot” untuk keluar dari Gerindra dan maju sendiri, itu tentu saja merupakan pelemahan kekuatan politik.

Baca juga :  Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Namun, di sini, terdapat satu pertanyaan menarik. Terlepas dari akan berhasil atau tidaknya operasi untuk menceraikan Sandi dari Prabowo, pertanyaannya, apakah Sandi tidak sadar sedang dioperasi?

saatnya sandi tinggalkan prabowo

Kenapa Sandi Bisa Kena?

Mungkin saja sadar. Namun, ambisi Sandi untuk maju di Pilpres 2024 sepertinya lebih mendominasi. Simpulan ini dapat kita tarik dari tulisan Julie Beck yang berjudul People Want Power Because They Want Autonomy

Mengutip studi gabungan dari University of Cologne, University of Groningen dan Columbia University, Beck hendak menjawab pertanyaan, apakah kekuasaan (power) itu sebagai pengaruh (influence) atau sebagai otonomi (autonomy).

Pertanyaan penelitiannya adalah, antara (1) kondisi dapat memengaruhi atau mengontrol orang lain, dengan (2) kondisi berotonomi atau terbebas dari kontrol orang lain, mana yang lebih memuaskan hasrat individu akan kekuasaan?

Dari berbagai eksperimen yang dilakukan, hasilnya menunjukkan hasrat kekuasaan partisipan ternyata lebih terpuaskan dengan kondisi berotonomi daripada kondisi mengontrol orang lain.

Jika temuan tersebut berlaku universal, mungkin dapat disimpulkan bahwa Sandi ingin berotonomi atau terlepas dari bayang-bayang Prabowo dan Partai Gerindra untuk memenuhi ambisinya maju di Pilpres 2024. 

Mengelaborasinya dengan literatur lain, kita dapat mengutip konsep satisficing dari Herbert Simon dalam bukunya Administrative Behavior. Disebutkan, tiap-tiap individu dalam organisasi seringkali mempunyai tujuan yang berbeda dengan organisasi. 

Jika tujuan organisasi berbeda atau tidak mampu memuaskan individu, itu dapat membuat individu bergerak berlawanan dengan tujuan organisasi.

Singkatnya, tujuan Sandi untuk maju di Pilpres 2024 sepertinya sedang berbeda dengan tujuan Partai Gerindra yang ingin mengusung Prabowo Subianto. Sepertinya, Sandi tengah mengalami perasaan kurang puas sehingga memilih untuk menyebutkan keinginannya maju di Pilpres 2024 secara terbuka dan berulang kali. (R53)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...