HomeNalar PolitikPrabowo-Ahok, Jokowi Keok?

Prabowo-Ahok, Jokowi Keok?

Kecil Besar

Apa jadinya jika muncul kandidat yang tidak terprediksi seperti Prabowo-Ahok?


PinterPolitik.com

[dropcap]A[/dropcap]hok tampaknya sudah mulai gerah dipenjara. Sembilan bulan di balik jeruji tampaknya sudah dianggap terlalu lama oleh Mantan Gubernur Jakarta tersebut. Setelah sembilan bulan menjalani hukuman, kini ia putuskan untuk melawan.

Peninjauan Kembali (PK) jadi jalan yang ditempuh Ahok untuk melawan. Jalur ini memang jalur pintas baginya agar bisa menghirup udara segar lebih cepat. Spekulasi pun mulai merebak, apa yang akan dilakukan pria asal Belitung ini pasca lepas dari hukuman?

Banyak yang menduga, Ahok akan kembali berkiprah di dunia politik. Namanya ternyata masih cukup menjual bagi banyak orang. Di berbagai survei, namanya masih kerap muncul di posisi sepuluh besar bursa capres dan cawapres. Ini membuktikan kasus hukum tidak membuat karir politiknya tamat seketika.

Sejauh ini, ada dua kutub yang paling kuat yaitu petahana Jokowi dan Prabowo Subianto. Nama Ahok dapat memberi nilai tambah bagi salah satu kubu tersebut. Jika benar Ahok akan bertarung pada Pilpres 2019, ke mana ia akan melabuhkan diri?

Ahok for 2019

Kemungkinan Ahok melaju di Pilpres 2019 memang mulai dibicarakan banyak pihak. Sebagian orang masih mengganggap Mantan Bupati Belitung Timur ini sebagai salah satu tokoh politik yang diperhitungkan. Salah satu pentolan aksi 212, Muhammad Al Khaththath misalnya, mengungkapkan hal ini.

Berbagai survei mengungkap nama pria yang pernah duduk di parlemen ini berada di jajaran atas capres dan cawapres. Pada survei Indobarometer Februari lalu misalnya, nama Ahok menembus tiga besar di bawah Jokowi dan Prabowo Subianto.

Dalam kondisi normal, Ahok diperkirakan baru akan keluar tahanan menjelang penghujung tahun 2018. Pada kondisi tersebut, langkah Ahok menuju Pilpres 2019 sudah sirna. Pendaftaran pasangan capres dan cawapres 2019 dilaksanakan pada 4-10 Agustus 2018.

Langkah Ahok memililih jalur PK adalah pilihan yang menarik. Mantan Gubernur Jakarta tersebut tidak menggunakan opsi-opsi lain seperti banding atau kasasi. Beberapa ahli hukum menilai, Ahok bisa mengajukan PK karena putusan pada kasusnya telah inkracht. Selain itu, tim kuasa hukumnya juga menemukan unsur kekhilafan hakim sehingga langkah ini bisa ditempuh.

Prabowo-Ahok, Jokowi Keok?

PK dapat membuka pintu penjara Ahok lebih cepat ketimbang banding atau kasasi. Pada kedua opsi tersebut, proses yang ditempuh dapat berlangsung lama dan berbelit-belit. Selain itu, ada potensi hukuman justru akan diperberat jika kedua opsi tersebut yang diambil.

Dengan PK, pintu menuju Pilpres berpeluang kembali terbuka. Jika permohonan Ahok benar-benar dikabulkan, maka ia berpotensi keluar lebih cepat dari seharusnya. Ia kemudian masih punya cukup waktu untuk didaftarkan menjadi petarung di Pilpres 2019.

Pasangan Prabowo-Ahok

Pertanyaan berikutnya saat Ahok menghirup udara segar adalah, ke kubu mana ia akan berlabuh? Di atas kertas, ia tentu punya pelabuhan utama dalam diri Jokowi. Tetapi akankah ia dengan mudah kembali ke bekas pasangannya di DKI tersebut?

Baca juga :  Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Spekulasi liar yang berkembang mengungkap bahwa hal itu bisa saja tidak terjadi. Ahok bisa saja enggan untuk kembali berada satu kubu atau berpasangan dengan Jokowi. Yang menarik, spekulasi yang mengemuka adalah Ahok akan menjadi pasangan Prabowo di Pilpres nanti. Bagaimana mungkin?

Skenario Prabowo-Ahok tentu adalah pasangan yang tidak pernah dipikirkan banyak orang. Kedua pihak ini memang sempat sangat akrab. Akan tetapi, hubungan keduanya memanas seiring dengan langkah Ahok keluar dari Partai Gerindra.

Skenario Prabowo-Ahok dimungkinkan terjadi melalui sejumlah kondisi. Ahok bisa saja menyimpan dendam pada Jokowi. Ia seperti menjadi tumbal dari Pemerintahan Jokowi menyusul Aksi Bela Islam yang terus menggoyang.

Jokowi seperti merelakan begitu saja sahabatnya tersebut menjadi korban dinginnya lantai penjara. Sebagai orang dengan kuasa, Jokowi seperti enggan melakukan usaha lebih untuk membebaskan Ahok dari belenggu. Ahok seperti menjadi tumbal agar singgasana Jokowi tidak lagi digoyang.

Ahok juga bisa saja sangat kesal pada partai pendukung Jokowi, yaitu PDIP. Partai berlogo banteng ini tampak seperti meninggalkannya di saat-saat genting. Secara spesifik, pengkhianatan PDIP terhadap Ahok nampak paling jelas dari mantan Wakil Gubernurnya sendiri: Djarot Saiful Hidayat.

PDIP bak mendapat durian runtuh, ketika Ahok terpaksa harus lengser dari kursi DKI-1. Kader kesayangan mereka, Djarot otomatis naik tahta akibat lengsernya Ahok tersebut. Praktis, kuasa atas provinsi dengan pendapatan asli daerah (PAD) terbesar di Indonesia itu berada di tangan PDIP.

Luka Ahok menjadi semakin dalam, jika mengingat pelantikan Djarot sebagai Gubernur DKI dilakukan secepat kilat. Selang beberapa jam vonis atas Ahok dijatuhkan, Mendagri Tjahjo Kumolo -yang juga kader PDIP- langsung melantik Djarot menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta.

Jika melihat pemikiran filsuf Immanuel Kant, rasa sakit hati Ahok dapat dikatakan wajar. Menurut Kant, kesalahan apapun yang dilakukan pada orang lain, akan berbuah hal yang serupa pada pelaku kesalahan tersebut. Berdasarkan pemikiran tersebut, salah jika Jokowi dan PDIP menganggap Ahok tidak akan membalas pengkhianatan-pengkhianatan tersebut.

Apakah cara paling pedih untuk membalas pengkhianatan-pengkhianatan tersebut? Tidak ada cara paling menyakitkan yang bisa dilakukan Ahok, selain bergabung dengan lawan Jokowi dan PDIP lalu membentuk pasangan Prabowo-Ahok.

Jokowi Ketar-Ketir?

Siapapun tidak bisa menduga munculnya pasangan Prabowo-Ahok di Pilpres nanti, termasuk Jokowi. Mantan Walikota Solo ini pantas ketar-ketir jika pasangan tersebut benar-benar menjadi lawannya di 2019 nanti.

Baca juga :  MBG dan Runtuhnya 'Republik Tepung'

Berdasarkan pengamatan, pendukung Jokowi dan pendukung Ahok seringkali berada di dalam satu irisan. Umumnya, jika seseorang mendukung Jokowi maka ia akan memberi simpati pula pada Ahok. Melalui skenario Prabowo-Ahok, suara pendukung Jokowi bisa saja pecah.

Pendukung Jokowi yang menaruh simpati tinggi pada Ahok, bisa saja mengalihkan suaranya pada Prabowo-Ahok. Mereka bisa saja merasakan luka yang sama dengan luka yang dialami Ahok. Fanatisme mereka pada Ahok, dapat berbuah petaka pada Jokowi di 2019 nanti.

Di atas kertas, pasangan Ahok tidak hanya dapat dipandang sebagai kuda hitam yang mengejutkan, tetapi juga berpeluang menang. Gabungan ketokohan di antara keduanya tergolong saling melengkapi satu sama lain.

Prabowo dapat mewakili unsur militer yang banyak diharapkan menjadi pemimpin negeri ini. Selain itu, Ketua Umum Partai Gerindra itu juga dapat menarik suara dari kalangan Islam. Kekurangan Ahok sebagai kandidat tanpa basis massa Islam dapat ditambal Prabowo.  Ahok memang kerap dianggap penista agama oleh kelompok tersebut. Akan tetapi, kubu Prabowo bisa berdalih Ahok sudah dihukum sehingga tidak perlu dipersoalkan lagi.

Di sisi lain, Ahok dapat memenuhi unsur pengusaha di posisi orang nomor dua. Tidak hanya pernah menjadi pengusaha, Ahok juga dikenal memiliki jejaring di kalangan pebisnis. Di luar itu, suara Prabowo yang kerap terseok-seok di kalangan perkotaan, dapat ditambal oleh Ahok. Ahok dikenal amat dicintai oleh kaum kelas menengah urban seperti di Jakarta.

Prabowo-Ahok juga dapat menjadi magnet bagi kaum nasionalis. Keduanya dikenal sebagai Pancasilais sejati. Sebagai mantan perwira militer, kecintaan Prabowo pada Pancasila tentu tertanam amat dalam. Ahok sendiri kerapkali tidak malu menunjukkan kecintaan dan pemahamannya pada Pancasila.

Keduanya pun dianggap sebagai tokoh yang geram akan korupsi di negeri ini. Komitmen keduanya terhadap pemberantasan korupsi sudah diakui banyak pihak. Komitmen anti-korupsi ini dapat menjadi keunggulan keduanya jika dibandingkan dengan kandidat lain yang tengah hangat dibicarakan, seperti Budi Gunawan. Jika Jokowi berpasangan dengan orang seperti Budi Gunawan, maka Prabowo-Ahok diprediksi akan menang mudah.

Berat bagi Jokowi jika harus menghadapi gempuran Prabowo-Ahok di 2019. Peluang pasangan tersebut amat tinggi karena mampu meraup basis massa Jokowi dan Prabowo sekaligus. Kalau sudah begini, Jokowi harus berhati-hati. Salah langkah atau salah pilih pasangan, dapat membuat ia tergusur dari Istana Negara. (H33)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...