HomeNalar PolitikPower Struggle PKS dan PAN

Power Struggle PKS dan PAN

Kecil Besar

Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais disebutkan tidak setuju dengan sembilan nama cawapres PKS yang ditawarkan kepada Prabowo Subianto.


PinterPolitik.com

[dropcap]A[/dropcap]khirnya, umrah politik Amien Rais dan Prabowo Subianto bisa terlaksana juga. Dua petinggi partai terkemuka tanah air ini akhirnya bisa bertemu di Tanah Suci memenuhi panggilan Ilahi. Ibadah tersebut menjadi tambah istimewa karena di sana mereka bertemu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), panutan jamaah 212, Rizieq Shihab.

Sekilas, pertemuan tersebut tampak sangat sempurna. Silaturahmi antara tokoh terkemuka dapat dilakukan di bulan baik dan tempat yang suci. Tapi tunggu, sepertinya ada yang kurang dari pertemuan tersebut. Oh, ternyata tidak ada elite PKS yang hadir dalam pertemuan akbar tersebut.

Spekulasi kemudian bergulir dari absennya elite PKS pada pertemuan yang kerap disebut umrah politik itu. Isu-isu liar menyebut bahwa PKS akan terlempar dari rencana koalisi yang melibatkan Gerindra dan PKS. Rumornya, Amien Rais sebagai sesepuh PAN, tidak sepakat dengan sembilan nama cawapres yang disiapkan PKS untuk Prabowo.

Apa jadinya koalisi yang akan dinamai Koalisi Keumatan ini jika tanpa PKS? Mengapa Amien bisa begitu tidak setuju dengan tawaran cawapres PKS untuk Prabowo? Apakah ada unsur persaingan antara PKS dan PAN dalam berebut kursi calon orang nomor dua?

Rivalitas PKS dan PAN

Jika diperhatikan, basis massa antara PKS dan PAN memang tergolong mirip. Secara umum, kedua partai ini sama-sama memperebutkan suara dari ceruk masyarakat Islam perkotaan. Kesamaan basis pemilih ini membuat persaingan di antara keduanya menjadi tidak terhindarkan.

Selain berlomba meraih suara pemilih kalangan Islam urban, kedua partai ini juga memperebutkan suara dari salah satu ormas terkemuka, Muhammadiyah. Secara historis, PAN sebenarnya lebih dekat dengan ormas yang didirikan Ahmad Dahlan tersebut. Meski demikian, kehadiran PKS membuat ceruk massa Muhammadiyah harus terbagi dengan partai pimpinan Sohibul Iman itu.

Pada Pemilu 2014 lalu, PAN memang masih bisa memikat pemilih Muhammadiyah. Sebanyak 29 persen anggota aktif ormas tersebut masih memilih partai matahari di pemilu tersebut. Di lain pihak, ada 8 persen anggota aktif Muhammadiyah pada pemilu 2014 yang memilih PKS.

Di atas kertas, PAN memang berhasil mempertahankan pesonanya di hadapan massa Muhammadiyah. Meski demikian, basis massa tersebut tidak lagi absolut milik PAN. Mereka harus berbagi dengan PKS yang perlahan mengetuk pintu hati massa Muhammadiyah. Pengamat politik Bahtiar Effendy menilai pergeseran ini terjadi karena aroma Islam lebih kental di PKS ketimbang PAN yang mulai bersikap seperti partai nasionalis.

Power Struggle PKS dan PAN

Sangat beralasan jika Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan merasa harus bersaing dengan PKS. Ia sempat melontarkan pernyataan bahwa kader PAN harus lebih rajin salat di masjid agar suara mereka tidak direbut oleh PKS.

Baca juga :  Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Pernyataan tersebut memanaskan rivalitas antara PKS dan PAN. Akibatnya, hubungan kedua partai, terutama di media sosial sempat memanas.

Desas-desus penolakan Amien Rais terhadap sembilan nama yang ditawarkan PKS menambah daftar panjang riwayat rivalitas di antara keduanya. Rivalitas ini bisa berbuah petaka bagi PKS jika Gerindra memutuskan untuk menggandeng PAN sebagai satu-satunya rekan koalisi.

Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Ari Nurcahyo menilai bahwa pertemuan Amien, Prabowo, dan Rizieq dapat mengubah peta politik jelang 2019. Ia menduga akan terjadi re-konfigurasi koalisi antara Gerindra dan PAN dengan meninggalkan PKS.

DPP PAN memang menyebut bahwa penolakan Amien adalah sikapnya secara pribadi. PAN menolak untuk mengakui bahwa pernyataan tersebut merefleksikan sikap partai. Meski demikian, sulit untuk menihilkan pengaruh Amien dari partai yang ia dirikan tersebut. Apalagi, Amien menjadi wajah PAN dalam pertemuan penting dengan Prabowo dan Rizieq yang kerap disebut sebagai umrah politik tersebut.

Berebut Kursi Kosong

Wajar jika Amien – dan PAN – ingin menyingkirkan PKS dari koalisi dengan Gerindra. Saat ini, Gerindra masih menyisakan satu kursi kosong, yaitu cawapres bagi Prabowo. Kedua partai ini boleh jadi tengah memperebutkan kursi kosong tersebut.

Dari sudut pandang koalisi, lebih mudah bagi PAN jika PKS disingkirkan dari koalisi dengan Gerindra. Hal ini sejalan dengan pandangan William Riker tentang koalisi partai politik. Menurutnya, koalisi yang dianggap dapat menang adalah koalisi dengan jumlah partai minimum.

Jika dihitung dari perolehan kursi, gabungan Gerindra dan PAN sudah cukup untuk memenuhi persyaratan presidential threshold . Total kursi Gerindra di parlemen adalah 73 kursi. Sementara itu, PAN memiliki total 49 kursi. Jika ditotal, angkanya mencapai 122 kursi, sudah melewati persyaratan minimal presidential threshold 20 persen yaitu 112 kursi. Tidak hanya memenuhi syarat, koalisi minimum ini juga memudahkan PAN untuk mengisi satu kursi kosong sebagai pendamping Prabowo.

Power Struggle PKS dan PAN
Umrah politik yang melibatkan Amien Rais dan Prabowo Subianto tidak melibatkan elite PKS. (Foto: Istimewa)

Jika hal itu terjadi, maka nasib tragis akan menimpa PKS. Bagaimana tidak, PKS tergolong sangat loyal kepada Gerindra dan Prabowo sejak lama. Mereka bahkan sudah mendirikan Sekretariat Bersama (Sekber), sesuatu yang tidak dilakukan oleh PAN. Luka PKS di Pilpres 2014 pun akan kembali menganga.

Di tahun 2014, PKS tergolong sangat total dan militan dalam mendukung Prabowo. Meski demikian, mereka gagal mengamankan kursi cawapres untuk mantan Danjen Kopassus tersebut. Kursi calon RI-2 ketika itu diisi oleh Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN 2010-2015.

Baca juga :  Adu Nasib Rusdi-Sandi

Kepahitan tersebut jelas tidak ingin diulang PKS. Mereka pun bergerak cepat dengan menyiapkan sembilan nama untuk menjadi cawapres Prabowo. Sayang, PAN sepertinya belum cukup rela jika kursi cawapres harus tergusur oleh PKS.

Diketahui bahwa PAN tengah menyiapkan nama Zulkifli Hasan untuk Pilpres 2019. Sebagai pendiri PAN, Amien bisa saja ingin mengamankan nama Zulkifli Hasan untuk menjadi cawapres Prabowo. Oleh karena itu, sangat beralasan jika Amien menolak sembilan cawapres PKS dan enggan bertemu mereka di Tanah Suci.

The Power Struggle PAN-PKS

Terlihat bahwa ada unsur power struggle atau usaha untuk memperoleh kekuasaan dari rivalitas antara PKS dan PAN. Power struggle  tersebut oleh Donald Wolfensberger dimaknai sebagai usaha untuk mempengaruhi kebijakan dan menentukan bagaimana alokasi sumber daya.

Dalam Jurnal Politik Universitas Indonesia, disebutkan bahwa power struggle tersebut dapat menimbulkan pertentangan (contention), tindakan memperebutkan sesuatu (contestation), dan persaingan (competition). Salah satu sebabnya adalah kontradiksi antara jumlah yang diperebutkan (kekuasaan dan sumber daya) dengan jumlah pihak-pihak yang memperebutkannya.

Berdasarkan kondisi tersebut, wajar jika ada rivalitas antara PKS dan PAN. Keduanya memperebutkan hal yang sama dengan jumlah yang terbatas. Praktis, aroma pertentangan, kontestasi, dan kompetisi di antara keduanya akan tetap kentara.

Meski kerap berkoalisi, PKS dan PAN mau tidak mau memang saling berkompetisi. Kesamaan basis massa membuat mereka harus saling bersaing agar dapat mengamankan kursi di Senayan. Apalagi, ceruk suara spesifik Islam perkotaan dan Muhammadiyah dapat dikatakan tidak terlalu luas.

Kini, mereka juga harus bekontestasi untuk merebut kursi cawapres dari kubu Prabowo. Lagi-lagi, jatah yang diperebutkan tidak sedikit karena hanya ada satu kursi. Pertentangan menjadi hal yang tidak terhindarkan dalam upaya merebut kekuasaan tersebut.

Jika absennya PKS dalam pertemuan di Tanah Suci berasal dari penolakan Amien terhadap sembilan cawapres partai dakwah, maka sumbernya boleh jadi adalah power struggle di antara keduanya.  Terlebih kursi cawapres terlalu seksi untuk direlakan begitu saja oleh PAN.

Jika ingin kursinya aman, maka sikap penolakan Amien tersebut bisa saja benar. Absennya elite PKS dalam pertemuan di Makkah membuat peluang PAN memenangkan persangan dengan PKS menjadi lebih besar. Koalisi minimum hanya Gerindra dan PAN seperti yang dikemukakan Riker kemudian menjadi lebih mudah dibentuk lewat tersingkirnya PKS. (H33)

 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...