HomeHeadline“People Power” Amien Rais Cuma Cari Perhatian?

“People Power” Amien Rais Cuma Cari Perhatian?

Kecil Besar

Ketua Majelis Syuro Partai Ummat Amien Rais menyerukan narasi “people power” untuk menjatuhkan rezim Jokowi. Pernyataan ini dibalas langsung oleh Gibran Rakabuming Raka di media sosial. Apakah people power ala Amien adalah seruan nyata, atau sekadar trik memancing perhatian publik?


PinterPolitik.com

“There is a truth and beauty in rhetoric, but if often serves ill turns than good ones.” – William Penn

Tokoh senior politik Indonesia kembali muncul di depan panggung. Baru-baru ini, Amien Rais yang kini menjadi Ketua Majelis Syuro Partai Ummat menyerukan people power ketika menghadiri dialog nasional di Solo. Amien menyebutkan bahwa people power adalah amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan rakyat sebagai pemegang kedaulatan yang sebenarnya. Amien menyerukan people power untuk “menggulingkan” rezim Jokowi.

Narasi ini digaungkan sebagai bentuk kritik terhadap dua periode pemerintahan Jokowi. Jokowi dianggap Amien Rais sudah melenceng dari harapan rakyat dan banyak kebijakannya yang berpihak pada oligarki. Menurutnya, jika MPR tidak bisa memakzulkan Jokowi, maka people power menjadi satu-satunya instrumen untuk mewujudkan hal tersebut.  

Seruan ini ditanggapi langsung oleh Gibran Rakabuming Raka sebagai Wali Kota Solo. Gibran langsung menyebut “halah santai wae” di akun Twitter-nya ketika mendengar pernyataan people power dari Amien Rais.

Cuitan Gibran ini menggambarkan bagaimana ia tidak ambil pusing dalam menghadapi seruan Amien untuk mengguncang Solo. Selain menanggapi dengan santai, ia turut menyampikan do’a kepada Amien supaya tetap sehat melalui cuitannya.

Seruan people power di Solo kembali membuka déjà vu akan narasi serupa dalam Pemilu 2019 kemarin. People power sebagai pengejawantahan kekuatan rakyat kerap digunakan oleh politisi yang berseberangan dengan Jokowi untuk menolak kecurangan pemilu. Akan tetapi, narasi ini kemudian mengandung makna peyoratif untuk menggulingkan pemerintahan secara tidak sah melalui kudeta rakyat.

Sebelumnya, narasi untuk memakzulkan Jokowi sudah digaungkan oleh eks Wamenkumham Denny Indrayana. Denny melayangkan surat kepada DPR untuk segera memakzulkan Jokowi. Permohonan ini diajukan menyusul dengan pengakuan Jokowi akan cawe-cawe menjelang Pemilu 2024. Denny meminta DPR supaya mendesak presiden turun demi menjaga keberlangsungan kontestasi tersebut.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2
amien rais mau acak acak solo

Bentuk Kekecewaan Amien?

Menjelang Pemilu 2024, narasi politik sudah dilontarkan dari masing-masing kubu. Baik itu membentuk koalisi ataupun mengusung kandidat, narasi politik menjadi hal yang lumrah diutarakan oleh elite politik.

Namun demikian, narasi yang beredar kini tidak hanya sebatas penjajakan antar partai semata. Narasi yang digaungkan tokoh oposisi juga semakin kencang dalam mengkritik Jokowi dan tentu narasi ini ditujukan untuk menarik atensi publik.  

Hal ini juga berlaku pada Amien Rais, di mana sebagai pendiri Partai Ummat tentu Amien juga memiliki keinginan untuk menempatkan partainya dalam kekuasaan pada pemilu mendatang. Namun terlepas dari posisinya di Partai Ummat, nyatanya kiprah politik Amien saat ini lebih didominasi oleh kondisi psikologisnya dalam menyikap politik saat ini. Banyak pihak menyebut Amien kecewa dengan pemerintahan di bawah kepemimpinan Jokowi.

Marlia Banning dalam tulisannya Politics of Resentment menyebutkan bahwa ekspresi kekecewaan kerap diartikulasikan dalam perbincangan politik, terutama ketika dipertautkan dengan pertentangan kedua kubu politik yang berseberangan.

Narasi people power oleh Amien dapat diinterpretasikan sebagai kekecewaannya terhadap kubu Jokowi. Selain ekspresi kekecewaan dari Amien, people power juga menjadi retorika andalan untuk menarik simpati publik dengan menganaolgikannya sebagai gema.

Hal ini juga dikenal sebagai echoing effect, di mana Wojciech Kulesza dalam artikelnya The Echo Effect menyebutkan bahwa narasi politik akan “menggema” lebih kencang secara kontinyu. Pada kasus ini, narasi people power masih menjanjikan dalam menggerakkan rakyat, terutama merujuk pada kasus demonstrasi di Badan Pengawasn Pemilu (Bawaslu) pada Mei 2019 lalu.

Selain itu, dengan pendekatannya yang mengarah pada populis, maka narasi ini diprediksi cukup ampuh untuk menarik perhatian mereka yang “tidak puas” dengan pemerintahan Jokowi. Akan tetapi, kondisi politik menjelang Pemilu 2024 tidaklah sepanas pemilu sebelumnya.

Baca juga :  Negara Penyangga

Lantas, akankah narasi people power mampu menaikkan daya tawar Amien Rais di Pemilu 2024?

amien rais provokasi surya paloh

Hanya Sebatas Retorika?

Retorika masih menjadi hal yang lumrah dalam politik. Sebagaimana pandangan umum mengenai politik sebagai panggung sandiwara, retorika dipandang sebagai bagian dari seni untuk menyampaikan kepentingan politik secara implisit.

Akan tetapi, retorika tidak selalu bermuatan pernyataan yang puitis. Pernyataan yang konfrontatif juga sering digunakan untuk menggugah semangat para audiens dalam mengikuti instruksi yang diberikan.

Retorika konfrontatif kini jamak digaungkan oleh tokoh-tokoh oposisi untuk menyerang petahana. Tidak hanya retorika Denny Indrayana mengenai bocoran perubahan sistem pemilu, tokoh seperti pengamat politik Rocky Gerung dan lainnya juga menggaungkan retorikanya masing-masing untuk mengkritik lawan politik mereka.

Jika disandingkan dengan konteks situasi poltik terkini, maka retorika akan semakin intens digunakan dalam memanaskan suhu poltiik menjelang pemilu.

Maya David dalam artikelnya Language, Power, and Manipulation menyebutkan retorika dalam politik memiliki kekuatan untuk mempengaruhi psikologi massa, khususnya pendukung kubu politik tertentu.

Retorika people power kala itu mampu memobilisasi massa pendukung Prabowo Subianto untuk berdemonstrasi menolak hasil Pilpres 2019 yang memenangkan Jokowi. Bertolak dari itu, ada potensi bahwa penggunaan people power ingin mengulang cerita sebelumnya.

Namun demikian, efek dari narasi people power sebelumnya tampaknya sulit terulang. Tensi politik menjelang Pilpres 2024 terlihat jauh lebih tenang dari Pilpres 2019. Tidak pula terlihat pembelahan ekstrem yang memungkinan narasi people power berhasil menggerakkan massa.

Posisi Amien dan Partai Ummat juga terbilang tidak memiliki pengaruh politik yang besar. Beda halnya ketika Amien masih di PAN seperti di Pilpres 2019.

Sebagai penutup, mungkin dapat disimpulkan, dengan menimbang berbagai variabel dan kalkulasi politik, narasi people power tampaknya sekadar retorika semata. Itu jauh dari aktualisasi jika melihat komparasi situasi pada Pilpres 2019 lalu. (D90)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Reshuffle Jokowi Menguntungkan Prabowo?

Pergantian (reshuffle) kabinet telah dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Beberapa nama seperti Budi Arie Setiadi, Nezar Patria, hingga Djan Faridz resmi menduduki posisi kabinet....

Golkar Sedang “Didesak” Mempercepat Langkah?

Beredar kabar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar akan diselenggarakan. Agenda itudigaungkan dan bertujuan menggantikan Airlangga Hartarto dari posisinya sebagai Ketua Umum (Ketum)...

Gamal Mustahil Kalahkan Kaesang?

Kaesang Pangarep disebut-sebut siap untuk menjadi Wali Kota Depok selanjutnya. Menghadapi langkah Kaesang yang tampak “cukup berani” ini, PKS menyiapkan tiga nama untuk menghadapi...