HomeHeadlineNever Downplay Prabowo's Tactics?

Never Downplay Prabowo’s Tactics?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini.

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Gerakan masif dan terstruktur pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di bidang pembangunan dan pangan mulai terlihat. Menariknya, TNI seolah menjadi pivot penggerak dalam gagasan terkait hal itu. Lalu, mengapa hal ini dilakukan Presiden Prabowo?


PinterPolitik.com

Di tengah โ€œketeganganโ€ sosial dan ekonomi yang terus berkembang, isu ketahanan pangan di Indonesia kembali mencuat sebagai salah satu prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Kebijakan Presiden yang mengedepankan program penguatan kedaulatan pangan dan gizi, termasuk di antaranya melalui pencanangan program Makan Bergizi Gratis (MBG), tidak hanya mendapat perhatian publik, tetapi juga kritik tajam dari berbagai pihak.

Pun dengan gagasan mengenai pembentukan 100 Batalyon Teritorial Pembangunan, di mana TNI memainkan peran sebagai penggerak, serta program lainnya, turut melahirkan spekulasi mengenai apakah TNI memang seharusnya terlibat dalam sektor ini atau jika langkah tersebut justru menambah kompleksitas masalah pangan yang ada.

Prabowo Subianto, yang secara stereotipe dikenal dengan pendekatan tegas dan terukurnya dalam memimpin kementerian pertahanan, kini menunjukkan keseriusannya untuk mengatasi masalah ketahanan pangan dan pemerataan gizi.

Salah satu pencapaian awal dan cukup penting yang telah diinisiasi adalah pembentukan 100 Batalyon Teritorial Pembangunan yang melibatkan TNI sebagai kekuatan utama dalam pembangunan, termasuk di sektor pertanian.

Tak hanya itu Perwira PSDP TNI Tenaga Pertanian pun telah dicetak, hingga program sarjana penggerak pembangunan di mana, setidaknya, menjadi bukti serius pemerintahan Presiden Prabowo dalam menggagas ketahanan pangan nasional, gizi generasi penerus bangsa, dan termasuk pembangunan daerah secara paralel

Serangkaian program saling terkait itu dinilai bertujuan tidak hanya untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga memastikan distribusinya sampai ke seluruh pelosok Indonesia. Termasuk tanpa adanya gangguan dari pihak tengkulak atau mafia pangan yang sering menjadi faktor penghambat.

Menariknya, sekali lagi, TNI berperan menjadi institusi pivot penggerak. Terdapat beberapa argumen mengenai hal ini, mulai dari telaah efektivitas, kedisiplinan, hingga demi mengatasi persoalan panjangnya rantai pasok (tengkulak) serta para mafia pangan yang selama ini dinilai menghambat dan selama ini tak dapat terurai.

Penting untuk melihat apakah gagasan ini dapat diterima sebagai solusi yang efektif dalam menghadapi masalah ketahanan pangan jangka panjang.

Lantas, dengan urgensinya melibatkan unsur TNI, mengapa gagasan ketahanan pangan dan pemerataan gizi Presiden Prabowo tampak cukup krusial?

Baca juga :  Era Bocor yang Disamarkan

TNI Andalanq?

Untuk memahami apakah ide Presiden Prabowo ini benar-benar relevan atau justru โ€œberlebihanโ€, kiranya penting untuk melihatnya melalui perspektif teori kelembagaan dan konsep โ€œpolitik pertanianโ€ yang ada.

Politik pertanian dalam konteks ini mengacu pada upaya pemerintah untuk meningkatkan sistem produksi dan distribusi pangan secara nasional melalui kebijakan yang terintegrasi.

TNI, sebagai institusi negara yang memiliki disiplin, struktur organisasi yang solid, serta pengalaman dalam manajemen logistik, agaknya dipandang dapat memainkan peran kunci dalam hal ini.

Melalui pendekatan institutional theory dapat dilihat bahwa institusi yang telah mapan, seperti TNI, memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan kebijakan dengan efektif, terutama jika kebijakan tersebut membutuhkan struktur yang terorganisir dan ketahanan dalam menjalankan peran pengawasan dan distribusi yang intensif.

Dalam hal ini, TNI diharapkan bisa mengatasi masalah distribusi pangan yang selama ini terhambat oleh ketidakpastian pasar dan adanya mafia pangan yang menjadi masalah struktural.

Salah satu gagasan yang menarik adalah pembentukan pasukan dan sarjana penggerak yang mendukung program tersebut.

Jika sesuai rencana, batalyon dan para prajuritnya itu digadang tidak hanya sekadar tentara yang bertugas dalam aspek pertahanan, tetapi juga menjadi tenaga profesional yang terlatih dalam mengelola produksi dan distribusi pangan. Tentu dengan memberdayakan para petani dan masyarakat lokal.

Program semacam ini mengacu pada doktrin pembangunan berkelanjutan yang berfokus pada pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia.

Hal ini sesuai dengan konsep distribusi pembangunan yang dicontohkan oleh beberapa negara berkembang, di mana militer terlibat langsung dalam membangun infrastruktur vital di luar bidang pertahanan.

Namun, meskipun gagasan ini terlihat menjanjikan, pelibatan TNI dalam bidang pangan, pertanian, dan pembangunan bukan tanpa kritik. Beberapa pihak mempertanyakan apakah TNI benar-benar memiliki kapasitas dan profesionalisme yang diperlukan dalam sektor pertanian dan distribusi pangan.

Kritik lain juga muncul mengenai potensi penyalahgunaan kekuasaan atau bahkan pengalihan fungsi militer yang bisa menciptakan ketegangan sosial maupun politik.

Akan tetapi, di titik ini mungkin saja Presiden Prabowo meilhat apa yang tak semua pihak lihat. Selain urgensi pelibatan militer seperti yang telah diinterpretasi di atas, kiranya terdapat hal lain yang menjadikan isu pangan, gizi, dan pembangunan menjadi penting.

Menguji Visi Prabowo?

Ketahanan pangan dan pemerataan gizi kiranya adalah isu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar produksi pangan.

Hal itu mencakup berbagai aspek mulai dari โ€œdistribusiโ€ yang adil, akses terhadap gizi yang baik, hingga keberlanjutan dalam menghadapi krisis yang mungkin terjadi. Melihat masa depan, krisis pangan mungkin bukanlah hal yang mustahil.

Baca juga :  Bongkar Deep State Dapur MBG?

Film fiksi ilmiah karya Christopher Nolan berjudul Interstellar kiranya dapat menjadi refleksi. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang bagaimana krisis pangan global dapat terjadi akibat perubahan iklim, penurunan hasil pertanian, dan ketergantungan pada sistem pangan yang rapuh.

Jika melihat potensi bencana pangan global tersebut, tindakan preventif yang dilakukan sekarang, seperti yang digagas oleh Presiden Prabowo, mungkin justru menjadi langkah yang penting dan strategis saat fiksi ilmiah berubah menjadi kenyataan dengan gejala-gejala yang mulai terlihat.

Teori Ketahanan Nasional yang dianut oleh Presiden Prabowo dalam berbagai diskusi serta publikasi, yang memandang negara sebagai entitas yang harus mandiri dalam berbagai sektor strategis, termasuk pangan, menggarisbawahi urgensi dari gagasan tersebut.

Ketahanan pangan nasional menjadi salah satu elemen utama dalam ketahanan nasional secara keseluruhan. Tanpa ketahanan pangan yang memadai, stabilitas sosial dan politik bisa terganggu, dan Indonesia berisiko menjadi lebih rentan terhadap tekanan dari luar.

Oleh karena itu, berdasarkan interpretasi di atas, ketahanan pangan hingga isu paralel dan saling terkait lainnya seperti pemerataan gizi dan pemerataan pembangunan kiranya bukan hanya masalah biasa, melainkan juga tentang kedaulatan nasional.

Namun demikian, program-program ini harus diterapkan dengan hati-hati dan disertai dengan transparansi yang tinggi agar tidak terjebak pada potensi ketegangan sosial.

Jika kebijakan ini bisa diimplementasikan dengan baik dan tetap menjaga integritas, maka tidak ada alasan untuk meremehkan potensi dampaknya bagi ketahanan pangan Indonesia.

Gagasan Presiden Prabowo mengenai pembentukan Batalyon Pangan, program MBG, dan keterlibatan TNI dalam ketahanan pangan harus dilihat dalam konteks urgensi dan tantangan yang dihadapi Indonesia di masa depan.

Krisis pangan dan kelangkaan bahan makanan bukanlah masalah yang dapat dianggap sepele, dan kebijakan ini memberikan sebuah pendekatan yang serius untuk mencapainya.

Meskipun demikian, kritik terhadap keterlibatan TNI dalam sektor sipil perlu dipertimbangkan secara bijak untuk memastikan bahwa kebijakan ini tidak melampaui batas-batas profesionalitas TNI dan tidak menyebabkan ketegangan sosial maupun politik.

Ke depan, sangat penting agaknya untuk terus mengawasi implementasi kebijakan ini dengan memastikan bahwa tujuan akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia secara keseluruhan. (J61)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

More Stories

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?