HomeNalar PolitikMonas Kembali Jadi Panggung Anies?

Monas Kembali Jadi Panggung Anies?

Kecil Besar

Anies Baswedan adalah satu-satunya kandidat di Pilpres 2024 yang hadir di aksi bela Palestina di Monas, Jakarta. Ini kah tanda bahwa Monas kembali menjadi panggung politik untuk Anies?


PinterPolitik.com

Lautan massa memadati kawasan Monas, Jakarta pada Minggu (5/11/2023) untuk menggelar aksi bela Palestina. Tidak hanya menarik atensi masyarakat luas, aksi itu turut dihadiri oleh berbagai elite politik Indonesia.

Dari deretan menteri, ada Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan Menko PMK Muhadjir Effendy. Ada pula Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Presiden PKS Ahmad Syaikhu, Ketua DPR RI Puan Maharani, hingga capres Koalisi Perubahan Anies Baswedan.

Melihatnya secara politik, yang paling menarik adalah kehadiran Anies Baswedan. Disebut menarik karena Anies adalah satu-satunya kandidat di Pilpres 2024 yang hadir di Monas. Tidak terlihat Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, Mahfud MD, Muhaimin Iskandar, ataupun Gibran Rakabuming.

Poin itu mengingatkan kita pada sederet aksi massa dan momentum politik yang melibatkan Anies dan tentunya melibatkan Monas.

Monas, Simbol Pergerakan

Setidaknya sejak tahun 2016, publik sekiranya melihat bagaimana Monas telah berulang kali menjadi arena pergerakan politik, khususnya bagi kelompok Islam seperti FPI dan PA 212. Sejak saat itu pula, Anies kerap terlihat di Monas ketika terjadi berbagai aksi massa.

Mengutip Kelebogile T. Resane dalam tulisannyaย Statues, Symbols and Signages: Monuments Towards Socio-Political Divisions, Dominance and Patriotism?, monumen โ€“ seperti Monas โ€“ memang memainkan peran untuk menjadi pengikat ingatan kolektif atas pergerakan sosial-politik yang pernah dilakukan.

Artinya, dengan terus digunakannya Monas sebagai arena pergerakan politik, secara tidak langsung Monas telah menjadi semacam simbol dari pergerakan tersebut. Ketika ramai-ramainya demonstrasi di Monas, bahkan terdapat istilah โ€œjamaah Monasโ€ yang digunakan untuk merujuk pihak-pihak yang menggunakan Monas sebagai basis tempat pergerakannya.

Baca juga :  "Termul" Pensiun, AI Ambil Alih

Konteks ini kemudian menjadi argumentasi yang digunakan berbagai pihak untuk menyimpulkan Anies mendapatkan dukungan dari kelompok Islam, khususnya mereka yang bergerak di Monas.

Menarik ke belakang, kuatnya interpretasi Monas sebagai simbol pergerakan pada dasarnya tidak terjadi sejak massa 212. Selain sebagai simbol kelompok yang melawan kekuasaan, Monas juga menjadi simbol gerakan bagi mereka yang mencari keadilan.

Pada Maret 2017, misalnya, kelompok aktivis yang tergabung dalam Koalisi untuk Kendeng Lestari menggelar aksi #DipasungSemen2 di kawasan Monas.

Pada 7 September 2017, ada pula aksi istri Munir, Suciwati bersama ratusan aktivis lainnya yang berkumpul di seberang Taman Pandang Istana, Monas untuk menuntut pemerintah membuka dokumen Tim Pencari Fakta (TPF) kasus kematian Munir.

Dari namanya saja, Monumen Nasional, Monas telah menunjukkan makna simbol yang luar biasa. Monumen yang dirancang oleh Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono ini didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Sejak awal, Monas telah dimaksudkan sebagai simbol dari kebebasan, perjuangan, dan semangat juang. Tidak heran kemudian, berbagai aksi sosial-politik, seperti Petani Kendeng, Munir, massa 212, hingga yang terbaru aksi bela Palestina, memilih Monas sebagai tempat pergerakan mereka.

Di berbagai belahan dunia, tempat yang menjadi simbol pergerakan politik seperti Monas juga lumrah ditemukan. Di Turki, misalnya, ada Gezi Park yang menjadi semacam basis pergerakan massa anti-pemerintah.

Ihsan Eliacik, seorang pemimpin spiritual Muslim anti-kapitalis bahkan memberikan istilah khusus pada gerakan demonstrasi yang berpusat di Gezi ini dengan sebutan Gezi Spirit.

Gezi Spirit telah bertransformasi menjadi simbol pergerakan politik yang terus merongrong pemerintah. Seperti kata Eliacik, ini adalah gerakan yang melawan dominasi kapitalisme dan sekulerisme yang disebutnya tidak mencerminkan semangat Islam yang sebenarnya.

Baca juga :  Dahsyatnya โ€œBuahlil Feverโ€

Kembali untuk Anies?

Dalam infografis di Instagram @pinterpolitik yang memuat siapa saja tokoh yang hadir di aksi bela Palestina di Monas, terlihat jelas bagaimana warganet menyorot kehadiran Anies. Kolom komentar dibanjiri oleh pertanyaan, dari keenam kandidat di 2024 kenapa hanya Anies yang hadir?

Mungkin dapat dikatakan, Anies sekali lagi menunjukkan bahwa Monas adalah panggung politiknya. Dan memang, apabila membandingkan dengan kandidat lainnya, hanya Anies yang terlihat “akrab” dengan Monas.
Anies selalu terlihat hadir di tengah lautan manusia yang memadati kawasan Monas. Kembali mengutip Kelebogile T. Resane, intensitas Anies hadir di Monas kemudian melahirkan tafsiran bahwa Monas semacam menjadi panggung politik bagi Anies Baswedan.

Sekarang mungkin kita lihat saja, apakah Anies dapat menggunakan Monas sebagai simbol pergerakan politiknya menuju Pilpres 2024. Mari menanti. (R53)

spot_imgspot_img

#Trending Article

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan โ€œijazah birokratโ€ otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...