HomeHeadlineSkenario Kemenangan Tak Terbantahkan Prabowo

Skenario Kemenangan Tak Terbantahkan Prabowo

Kecil Besar

Pilpres 2024 besar kemungkinan akan berlangsung dalam 2 putaran. Ini karena setidaknya 3 pasangan calon yang ada punya kekuatan politik yang cenderung imbang. Menariknya, sebagai salah satu kandidat terkuat, kemenangan Prabowo Subianto cenderung menjadi yang terbesar peluangnya. Mengapa demikian?


PinterPolitik.com

โ€œWin or lose, we go shopping after the electionโ€.

– Imelda Marcos (istri dari diktator Filipina, Ferdinand Marcos)

Ada satu prediksi menarik yang disampaikan oleh Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Profesor Yusril Ihza Mahendra. Prof Yusril memprediksi Prabowo Subianto akan masuk putaran kedua Pilpres 2024. Prabowo pun diyakini keluar sebagai pemenang karena mendapatkan limpahan suara dari pendukung calon presiden (capres) yang gagal masuk putaran kedua.

Prediksi itu mengacu pada asumsi bahwa ada tiga capres yang berlaga dalam Pilpres 2024, yakni Prabowo, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan. Pada putaran pertama pilpres, Yusril memprediksi raihan suara Prabowo cukup untuk mengantarkannya ke putaran kedua. Jika berkaca dari hasil survei elektabilitas banyak lembaga survei yang menempatkan Prabowo selalu di urutan teratas dan kedua, maka pernyataan Prof Yusril tersebut mendapatkan justifikasinya tersendiri.

Sebagai catatan,Ppilpres digelar dua putaran apabila tidak ada capres yang mendapatkan 50 persen lebih suara pemilih. Pilpres putaran kedua diikuti oleh capres yang mendapatkan suara terbanyak pertama dan kedua pada putaran pertama.

Dengan Yusril memprediksi Prabowo akan masuk putaran kedua, berarti capres yang kalah pada putaran pertama adalah Ganjar atau Anies. Dan menurut Prof Yusril, calon yang kalah akan bergabung ke Prabowo.

Contohnya, kalau Pak Anies yang kalah, koalisi atau suara Pak Anies akan lebih besar peluangnya beralih ke Pak Prabowo ketimbang ke Pak Ganjar. Ini karena pemilih Anies cenderung lebih soft ke Pak Prabowo, ketimbang ke Pak Ganjar dan tentu saja PDIP. Peristiwa-peristiwa politik yang terjadi dalam 10 tahun terakhir setidaknya lebih dari cukup membuktikan hal tersebut.

Begitupun sebaliknya, jika Pak Ganjar yang kalah, maka peluang peluang koalisi Pak Ganjar untuk bergabung dengan Pak Prabowo jauh lebih besar dibandingkan ke kubu Pak Anies. Seperti yang disebutkan sebelumnya, lagi-lagi karena alasan relasi kubu Anies dan Ganjar tersebut.

Nah, masalahnya tinggal seberapa โ€œcinta dan benciโ€ PDIP dan koalisi pemenangan Ganjar pada Prabowo.

Dinamikanya juga makin menarik karena putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka yang adalah seorang kader PDIP, kini ada di kubu Prabowo sebagai cawapres. Gibran sendiri masih berstatus sebagai kader PDIP. Fenomena yang mirip pernah terjadi di Pilpres 2004, di mana Jusuf Kalla yang adalah kader Golkar justru dicalonkan bersama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Padahal, Golkar kala itu mencalonkan Wiranto dan Salahuddin Wahid sebagai pasangan capres dan cawapres.

Baca juga :  Jebakan Rindu Soeharto?

Pertanyaannya kemudian adalah apakah prediksi Prof Yusril tersebut bisa menjadi kenyataan?

mahfud tidak dilibatkan susun visi misi.jpg

Kemenangan Tak Terhindarkan?

Jika sesuai dengan prediksi Prof Yusril, maka Prabowo memang akan berhadapan dengan apa yang diistilahkan sebagai โ€œkemenangan yang tak terhindarkanโ€. Ini adalah konsep yang mencerminkan kepastian atau keyakinan bahwa suatu pihak atau tujuan akan meraih keberhasilan pada akhirnya.

Konsep ini melibatkan sejumlah elemen dan faktor yang secara bersama-sama membentuk landasan untuk pencapaian hasil positif. Beberapa elemen yang menentukan adalah adanya perencanaan yang cermat, matang dan terstruktur yang menjadi langkah awal menuju kemenangan yang tak terhindarkan. Sebuah strategi yang baik memungkinkan pihak yang bersangkutan untuk memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada, sekaligus mengatasi tantangan dan ancaman yang mungkin muncul.

Faktor lain yang ikut menentukan adalah adanya komitmen dan ketekunan. โ€œAmat victoria curamโ€ adalah peribahasa Latin yang cocok menggambarkan variabel ini. โ€œKemenangan cenderung suka pada orang-orang yang tekunโ€. Keberhasilan memerlukan komitmen dan ketekunan yang tinggi. Keyakinan bahwa setiap rintangan dapat diatasi, dan kesediaan untuk tetap fokus pada tujuan meskipun menghadapi hambatan adalah sifat-sifat penting yang membawa menuju kemenangan.

Faktor lain adalah soal tim yang kuat. Dalam konteks kampanye politik, kemenangan yang tak terhindarkan juga bergantung pada keterlibatan dan kontribusi semua anggota tim. Sinergi antara individu-individu yang memiliki tujuan bersama menciptakan kekuatan yang sulit dihentikan.

Kemudian, keyakinan bahwa kemenangan adalah hasil yang tidak dapat dihindari sering kali diiringi oleh sikap optimis dan positif. Pandangan positif terhadap tantangan dan kegagalan membantu menjaga semangat dan motivasi menuju pencapaian tujuan. Poin ini tentu sangat sesuai dengan Prabowo yang telah berjuang beberapa kali dalam Pemilu.

Faktor terakhir yang tak kalah penting adalah pembelajaran dari kegagalan. Bagian integral dari konsep kemenangan yang tak terhindarkan adalah kemampuan untuk belajar dari kegagalan. Pihak yang berhasil menuju kemenangan biasanya memiliki kemampuan untuk mengevaluasi pengalaman buruk, menarik pelajaran, dan melakukan perubahan yang diperlukan.

The state of mind soal kemenangan yang tak terhindarkan menciptakan landasan mental dan emosional yang kuat untuk mencapai tujuan. Kombinasi antara strategi yang matang, komitmen tinggi, dan sikap positif menciptakan momentum yang sulit dihentikan, membawa individu atau kelompok menuju puncak keberhasilan.

Baca juga :  Jalan-jalan dengan Sepatu Roda 'Girl Power'

Teori determinisme mungkin salah satu poin yang bisa kita refleksikan dalam konteks upaya meraih kemenangan yang tak terhindarkan itu. Konsep ini menyiratkan bahwa kejadian-kejadian di alam semesta ini terikat oleh hukum-hukum tertentu dan oleh karena itu, hasil tertentu dapat dianggap sebagai suatu kepastian. Meskipun teori ini lebih umum diterapkan dalam fisika dan ilmu alam, ide dasarnya dapat direfleksikan dalam konteks keberhasilan di bidang yang lain, termasuk politik.

Beberapa tokoh yang pemikirannya bisa dilihat misalnya John Stuart Mill yang menyumbang pemikiran tentang determinisme dalam karyanya yang terkenal: “A System of Logic.” Meskipun Mill mendukung ide bahwa semua peristiwa memiliki sebab dan akibat yang pasti, ia juga mempertimbangkan peran kebebasan individu dalam konteks sosial dan moral.

Dalam kerangka berpikir itu, mungkin saat ini ada kondisi sebab akibat yang memang memposisikan Prabowo Subianto sebagai sosok yang paling kecil peluang kalah-nya dalam Pilpres 2024.

gibran resmi jadi wapres prabowo 1068x1085 1

Bola Di Tangan Prabowo

Nah, asumsi-asumsi yang sudah dijelaskan panjang lebar di bagian sebelumnya hanya bisa terjadi kalau Prabowo lolos di putaran pertama. Kalau Prabowo justru gagal di peluang pertama, maka ceritanya mungkin akan berbeda.

Salah satu hal yang bisa membuat kemenangan tak terhindarkan ini gagal adalah jika gerakan anti kekuasaan โ€“ yang mana itu ada Pak Jokowi sebagai presiden dan PDIP sebagai partai penguasa โ€“ justru malah membuat orang menjatuhkan pilihan pada sosok baru di luar kekuasaan yang sudah ada.

Kita tahu, ketidaksukaan pada PDIP cukup besar di kalangan pemilih Anies Baswedan. Demikianpun dengan ketidaksukaan pada Presiden Jokowi. Nah, nama terakhir besar kemungkinan menjadi orang yang ada di belakang Prabowo Subianto, katakanlah dengan adanya Gibran sebagai cawapres Prabowo.

Dengan demikian, faktor anti terhadap kekuasaan adalah salah satu kunci Prabowo gagal meraih kemenangan. Sekali lagi, poin ini juga asumsi yang tentu saja bisa berubah seiring dinamika politik dalam beberapa waktu mendatang.

Pada akhirnya, Pilpres memang akan menjadi penentu arah negara ini. Mungkin kita tak sampai seperti Imelda Marcos yang tak punya beban soal pergantian kepemimpinan โ€“ bisa jadi karena di zaman itu ia yakin sang suami akan selalu menang โ€“ tapi setidaknya menarik untuk membahas hitung-hitungan matematis dari peluang-peluang yang ada. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan โ€œijazah birokratโ€ otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, โ€œrayapโ€ tidak takut pada menterinya.