HomeNalar PolitikMenumpang Terorisme ala Fadli Zon

Menumpang Terorisme ala Fadli Zon

Kecil Besar

Pernyataan sikap Fadli Zon terkait teror bom di Surabaya dikecam warganet. Fadli dianggap menggunakan tragedi untuk menyerang pemerintah.


PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]emimpin lemah. Begitu kata Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon tentang biang keladi aksi terorisme. Pernyataan tersebut ia utarakan untuk membahas aksi terorisme yang terjadi di tiga gereja di Surabaya. Sebagaimana banyak orang, Fadli merasa harus memberikan pernyataan khusus untuk kejadian memilukan tersebut.

Sayang, pernyataan Fadli tersebut ternyata tidak direspons baik oleh warganet. Wakil Ketua DPR tersebut dianggap tidak sensitif terhadap berita duka yang tengah terjadi. Warganet mengecam Fadli karena dianggap tidak memiliki rasa empat terhadap tragedi yang dialami masyarakat Surabaya.

Terlihat bahwa Fadli seperti ingin memanfaatkan momen penuh kesedihan untuk mengritik pemerintah. Peristiwa berdarah tersebut seolah menjadi alat untuk menyerang pemerintah di tangan alumnus Sastra Rusia Universitas Indonesia (UI) tersebut.

Sebagai kelompok oposisi, kritik terhadap pemerintah tentu wajar dilakukan. Meski begitu, menumpangi isu terorisme untuk menyerang pemerintah merupakan hal yang bisa menimbulkan perdebatan. Mengapa politisi Partai Gerindra tersebut tega menggunakan tragedi untuk menyerang pemerintah?

Menumpang Isu Terorisme

Menggunakan isu terorisme untuk kepentingan politik parpol atau pribadi merupakan hal yang lumrah terjadi. Di berbagai negara, isu teorisme menjadi salah satu isu penting yang menjadi pertimbangan masyarakat dalam menentukan calon pemimpin mereka.

Kondisi ini membuat banyak politikus tergoda untuk memanfaatkan aksi teror demi keuntungan politik mereka. Dalam penelitian Valentina A. Bali dari Michigan State University, ada kecenderungan di mana pasca kejadian teror, alih-alih dukungan terhadap petahana menguat, dukungan justru beralih ke pihak lawannya, sehingga menyebabkan hasil pemilu yang mengejutkan.

Secara khusus, partai atau politikus yang kerap mengambil untung dari suatu peristiwa teror umunya berasal dari sayap kanan atau berhaluan konservatif. Hal ini diungkapkan dalam studi Claude Berrebi dan Esteban Klor.

Menurut penelitian Berrebi dan Klor, jika suatu wilayah terkena serangan teror beberapa bulan menjelang pemilu, pemilih di wilayah tersebut akan beralih ke partai berhaluan sayap kanan dengan persentase rata-rata 1,35 persen.

Salah satu politikus terakhir yang menggunakan isu terorisme dalam kampanye adalah Marine Le Pen dari Front National (FN) pada pemilu Perancis beberapa waktu lalu. Beberapa saat pasca peristiwa penembakan Champ Elysees, Le Pen membuat pernyataan khusus untuk membahas kejadian tersebut.

Menumpang Terorisme ala Fadli Zon

Le Pen menggunakan momen tersebut untuk mempromosikan ideologi dan kebijakannya yang sangat konservatif. Ia menyebutkan berbagai kebijakan, seperti menutup perbatasan dan mendeportasi orang asing, sebagai solusi dari peristiwa tersebut. Secara khusus, ia juga menyebut bahwa kejadian tersebut adalah simbol dari kegagalan negara.

Baca juga :  “Mixed Feelings” ala Megawati Berlanjut?

Jika diperhatikan, narasi nyaris serupa muncul dari pernyataan Fadli Zon soal aksi teror bom di Surabaya. Politisi Gerindra itu menyebut bahwa aksi teror dapat muncul karena adanya pemimpin yang lemah.

Berkenaan dengan kondisi tersebut, Gerindra sendiri kerap dikategorikan sebagai partai berhaluan nasionalis sayap kanan. Kategorisasi semacan ini misalnya dilakukan oleh David Bourchier dari University of Western Australia.

Terlihat bahwa Fadli dan Gerindra mengikuti fenomena umum politik sayap kanan di seluruh dunia. Aktor-aktor politik sayap kanan menggunakan terorisme untuk menyerang pemimpin berkuasa dengan istilah lemah atau gagal.

Umumnya, politikus sayap kanan akan memunculkan narasi populis soal negara kuat dan menunjukkan bahwa merekalah sosok kuat yang diperlukan negara. Menurut Robb Willer dari Stanford University, posisi-posisi kelompok konservatif terkait isu pertahanan, dana militer, dan imigrasi akan lebih mudah dijual dalam kondisi ini.

Oleh karena itu, jika dipandang dari idelogi sayap kanan, kritik menumpang terorisme ala Fadli Zon memang tergolong wajar. Akan tetapi, ada narasi yang berbeda dari Fadli dan Gerindra dengan kelompok kanan lain seperti Le Pen dan FN.

Le Pen memiliki turunan kebijakan untuk melengkapi kritik terhadap terorisme tersebut. Ia misalnya menggembar-gemborkan kebijakan anti-imigrasi dan juga deportasi orang-orang asing. Sementara itu, Fadli dan Gerindra tidak memiliki kebijakan serupa. Hal ini membuat kritik Fadli cenderung miskin narasi solutif ketimbang Le Pen.

Efektifkah Menumpangi Teror?

Menjelang Pemilu, kritik yang semakin menjadi terhadap pemerintah berkuasa memang lazim terjadi. Akan tetapi, sejauh manakah kritik dalam isu terorisme itu dapat menguntungkan partai atau politikus pelaku kritik?

Jika melihat pada pengalaman Le Pen di Perancis, kritik tersebut tampak tidak memberi suara signifikan di bilik suara. Hal ini terlihat dari kekalahan yang harus ia terima dalam pemilu Presiden di Perancis. Ia harus bertekuk lutut dari kandidat asal partai En Marche!, Emmanuel Macron.

Ada beragam penyebab mengapa isu terorisme tersebut tidak berbuah kemenangan bagi Le Pen. Menurut Ignacio Lago dari Universitat Pompeu Fabra, faktor pertama dari kondisi tersebut adalah aksi teror justru umumnya akan berdampak baik bagi petahana, terlepas dari ideologi mereka. Fenomena ini membantah pemikiran Bali, Berrebi, dan Klor yang telah disebutkan sebelumnya.

Faktor kedua menurut Lago adalah bagaimana petahana merespons kejadian teror tersebut. Hal ini menjadi faktor kritis dalam menentukan opini publik terhadap sosok petahana.

Baca juga :  Balada Negeri Ormek

Berdasarkan kondisi tersebut, terlihat bahwa suara oposisi soal terorisme tidak memberi dampak signifikan bagi mereka. Dalam kondisi tertentu, hal ini justru dapat menjadi bumerang bagi mereka. Situasi tersebut tampak dari repons masyarakat terhadap cuitan Fadli Zon terhadap teror di Surabaya.

Jika dianalisis dengan pandangan Lago, kritik Fadli terhadap pemerintah bisa saja tidak ada artinya. Sejauh ini, jika dilihat dari pandangan warganet di media sosial, sekilas warganet lebih banyak berpihak dan bersimpati kepada Jokowi sebagai petahana.

Alih-alih mengikuti pandangan yang dikeluarkan oleh Fadli, banyak warganet justru tampak memberikan dukungan kepada pihak pemerintah. Nyaris semua percakapan di media sosial lebih banyak menyalahkan Fadli dan DPR serta memberikan dukungan kepada pemerintah. Kondisi tersebut dapat menjadi bukti pandangan Lago sebelumnya.

Respons Jokowi terhadap beragam aksi teror juga sejauh ini belum berdampak negatif padanya. Hingga saat ini belum terlihat serangan terlampau tajam terhadap pernyataan sikapnya terhadap aksi teror. Hal ini berbeda misalnya dengan sikap pemerintah Spanyol pasca serangan teror di Madrid pada tahun 2004. Kala itu, pemerintah Spanyol salah menuding aktor teror sehingga ditinggalkan oleh pemilih mereka.

Jika merujuk pada Lago, sejauh ini sikap pemerintahan Jokowi tergolong masih dikategorikan baik, sehingga petahana tergolong masih aman dari ancaman kekalahan. Di lain pihak, jika melihat dari respons warganet, pernyataan Fadli terkait bom di Surabaya justru dapat dikatakan tidak aman. Bisa saja Fadli dan Gerindra dapat mengalami kekalahan seperti yang dialami pemerintah Spanyol di tahun 2004.

Hal ini menunjukkan bahwa usaha numpang tenar dari terorisme ala Fadli Zon tidak selamanya berjalan baik. Menggunakan isu terorisme untuk kepentingan politik pribadi ternyata tidak selalu berdampak signifikan secara elektoral. Idealnya, Wakil Ketua DPR itu menunjukkan sikap empati, alih-alih memanfaatkan momen untuk menyerang pemerintah. Hal itu sepertinya lebih aman ketimbang memancing amarah warganet dengan menumpangi isu terorisme. (H33)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...