HomeHeadlineMengapa Islamophobia Tinggi di Eropa?

Mengapa Islamophobia Tinggi di Eropa?

Kecil Besar

Dengarkan artikel berikut

Islamophobia menjadi horor yang terus menghantui Benua Eropa. Mengapa kebencian ini bisa terus ada?

PinterPolitik.com


Kendati sering dianggap sebagai kawasan yang paling demokratis dan inklusif, Benua Eropa hingga saat ini menderita fenomena Islamophobia yang cukup parah.

Sebagai pengingat singkat, Islamophobia sendiri adalah kata yang digunakan untuk membungkus pandangan dan sikap yang mengandung prasangka, ketakutan, dan kebencian terhadap Islam dan orang-orang Islam.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Pew Research pada tahun 2018 mengungkapkan bahwa 52% orang Eropa percaya bahwa Islam tidak sesuai dengan budaya Eropa.

Negara-negara seperti Hungaria, Italia, dan Polandia menunjukkan tingkat skeptisisme yang sangat tinggi terhadap Muslim, dengan sebagian besar populasi memiliki pandangan yang tidak nyaman dengan keberadaan umat Muslim.

Selain itu, menurut survei European Union Agency for Fundamental Rights (FRA) tahun 2017 yang membahas tentang sentimen warga Eropa terhadap umat Muslim, sebanyak 39% responden Muslim di Uni Eropa merasa didiskriminasi dalam lima tahun sebelum survei.

Sepertiga dari responden Muslim tersebut pun mengalami pelecehan dalam tahun sebelumnya, termasuk komentar ofensif, ancaman, atau isyarat.

Kini, tingkat Islamophobia diasumsikan akan meningkat untuk tahun-tahun mendatang, melihat bagaimana kini pemimpin-pemimpin sayap kanan di Eropa semakin banyak yang disukai (seperti Geert Wilders di Belanda), dan semakin banyaknya imigran Muslim yang terpaksa terusir dari negaranya yang dilanda perang.

Namun, mengapa sebenarnya Islamophobia bisa begitu kuat di Eropa?

image 4

Warisan Busuk Sejarah?

Islamophobia, atau ketakutan dan prasangka terhadap Islam dan Muslim, telah menjadi isu signifikan di Eropa. Fenomena ini bukanlah hal baru dan memiliki akar sejarah yang panjang.

Sejak Abad Pertengahan, interaksi antara dunia Kristen Eropa dan dunia Muslim sering kali ditandai oleh konflik dan ketegangan. Perang Salib, yang berlangsung dari abad ke-11 hingga ke-13, adalah salah satu contoh utama di mana dunia Kristen dan Muslim berhadapan secara langsung dalam serangkaian perang yang berdampak besar pada persepsi satu sama lain.

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Tidak hanya itu, ketakutan terhadap umat Muslim pun berlanjut dengan menguatnya pengaruh politik Utsmaniyah Turki pada abad ke-14 sampai abad ke-17.

Kala itu, kerajaan-kerajaan Eropa menggelar kampanye anti-Islam yang begitu tinggi untuk mengagitasi kemarahan rakyatnya. Kerajaan-kerajaan Eropa Utara seperti di Swedia bahkan diketahui sempat membuat agama Islam ilegal.

Pada masa yang lebih modern, Islamophobia diperparah selama era kolonialisme, ketima negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Belanda menjajah banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim di Afrika dan Asia.

Banyak orang Eropa saat itu memandang penduduk di tempat yang mereka jajah sebagai kultur yang tidak beradab dan secara sosial tidak setara dengan orang Eropa. Pengalaman kolonial ini meninggalkan warisan ketidakpercayaan dan stereotip negatif yang terus bertahan hingga hari ini.

Setelah Perang Dunia II, migrasi besar-besaran dari bekas koloni tadi ke Eropa Barat memperkenalkan populasi Muslim yang signifikan ke negara-negara seperti Prancis, Inggris, dan Jerman. Migrasi ini seringkali disertai dengan tantangan integrasi dan adaptasi budaya yang rumit, yang kerap kali diabaikan pemerintah dan munculkan ketegangan sosial.

Polemik ini lantas diasumsikan menjadi sebuah masalah sosial yang berkepanjangan dan tetap berlangsung hingga sekarang. Kedua kultur ini masing-masing memiliki pandangan yang berbeda tentang keberhakan kependudukan di Tanah Eropa.

Namun, persoalan Islamophobia Eropa ini bisa jadi bukanlah hanya sebuah fenomena sosial saja, namun sesungguhnya sebuah bagian dari agenda politik yang kompleks.

image 3

Kebencian yang Dipelihara?

Teori “Clash of Civilizations” yang dikemukakan oleh Samuel Huntington pada tahun 1996 menyatakan bahwa konflik di masa depan akan didominasi oleh benturan antara peradaban yang berbeda, bukan oleh perbedaan ideologi atau ekonomi. Huntington mengidentifikasi dunia Islam dan Barat sebagai dua peradaban yang kemungkinan besar akan mengalami konflik.

Baca juga :  Era Bocor yang Disamarkan

Dalam konteks ini, Islamophobia di Eropa dapat dilihat sebagai manifestasi dari persepsi bahwa dunia Islam dan Barat adalah entitas yang tidak dapat didamaikan dan selalu berada dalam ketegangan.

Dalam beberapa dekade terakhir, meningkatnya populisme politik di Eropa telah memanfaatkan Islamophobia sebagai alat untuk memperoleh dukungan. Partai-partai populis di berbagai negara Eropa sering kali menggunakan retorika anti-imigran dan anti-Islam untuk menarik pemilih yang merasa terancam oleh perubahan demografis dan budaya.

Dengan menyoroti perbedaan budaya dan agama, partai-partai ini berhasil menggalang dukungan dari segmen populasi yang merasa identitas nasional mereka terancam.

Politisi populis sering kali memanfaatkan insiden-insiden kekerasan yang melibatkan Muslim atau teroris yang mengklaim berjuang atas nama Islam untuk memicu ketakutan dan kebencian.

Retorika seperti ini tidak hanya memperkuat stereotip negatif tentang Muslim tetapi juga memperkuat narasi benturan peradaban yang digambarkan oleh Huntington.

Dalam banyak kasus, politikus populis ini bahkan menggunakan Islamophobia untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu ekonomi dan sosial lainnya yang mungkin lebih kompleks dan sulit diatasi.

Pada akhirnya, hal-hal ini menjadi semacam ‘borok’ yang sepertinya tetap akan terus menodai Eropa. Tentunya, kita harap kondisi ini bisa berubah secepatnya karena kebencian terhadap suku, agama, dan ras, adalah sesuatu yang sangat hina. (D74)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

More Stories

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

PAL-PINDAD-PTDI: Trinitas Industrialisasi RI?

Ketika tiga BUMN pertahanan Indonesia mencetak rekor laba di momen bersamaan, pertanyaannya bukan lagi soal alutsista — melainkan apakah Indonesia akhirnya menemukan jalan industrialisasinya sendiri.