HomeNalar PolitikMendaulat Anies, Gubernur Indonesia

Mendaulat Anies, Gubernur Indonesia

Kecil Besar

“Yang paling berat itu Pak Anies. Pak Anies itu Gubernur DKI Jakarta, tapi ya (juga) gubernur Indonesia,” Tjahjo Kumolo, Mendagri


PinterPolitik.com

[dropcap]A[/dropcap]dakah Gubernur Indonesia? Bukankah Indonesia sebuah negara yang dipimpin oleh presiden? Bukankah hanya pemimpin provinsi-provinsi di dalamnya saja yang diberi gelar gubernur? Ternyata, menurut Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, Gubernur Indonesia itu memang ada.

Tjahjo memberikan predikat Gubernur Indonesia tersebut kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.  Boleh jadi Tjahjo sedang berkelakar, tetapi bisa saja istilah yang ia gunakan menjadi refleksi dari kondisi riil saat ini.

Mendagri mengapresiasi Anies karena tidak hanya membuka Jakarta bagi penduduk yang sudah terlebih dahulu mendiami daerah ibukota  tersebut. Anies memang diketahui tidak melarang pendatang dari luar Jakarta untuk memasuki wilayah ibukota, asalkan memiliki keterampilan.

Meskipun demikian, apakah Anies benar-benar pantas diberi gelar Gubernur Indonesia? Apakah gelar tersebut semata-mata hanya menggambarkan posisi Jakarta sebagai miniatur negeri ini? Ataukah Anies sebagai Gubernur Jakarta memiliki posisi tawar sendiri dalam kancah politik nasional?

Jakarta Sebagai Miniatur Indonesia

Mau tidak mau, istilah Gubernur Indonesia bersumber dari status Jakarta sebagai sentral utama dari negeri ini. Tidak hanya menjadi ibukota negara, wilayah yang dulu bernama Batavia ini menjadi  pusat hampir dari seluruh aspek negeri ini.

Secara ekonomi, disebutkan bahwa 70 persen perputaran ekonomi negeri ini dikuasai oleh wilayah yang identik dengan Tugu Monas tersebut. Diperkirakan bahwa perputaran uang di Jakarta mencapai Rp 2.500 triliun setiap bulannya.

Pengeluaran masyarakat ibukota memang tergolong amat tinggi. Tercatat bahwa pengeluaran per kapita warga di sana mencapai Rp 17,7 juta. Angka ini merupakan yang tertinggi jika dibandingkan seluruh provinsi di negeri ini.

Jakarta juga menjadi provinsi penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar bagi Indonesia. Jika dilihat dari sisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Jakarta menyumbang sekitar 15-17 persen bagi PDB Indonesia. Angka tersebut tertinggi jika dibandingkan provinsi-provinsi lainnya.

Berdasarkan kondisi tersebut, sulit untuk tidak melihat Jakarta sebagai miniatur negeri ini. Terlalu banyak sektor yang bertumpu pada provinsi asal seni lenong tersebut. Oleh karena itu, kelakar Tjahjo soal Gubernur Indonesia boleh jadi refleksi dari begitu terpusatnya aktivitas ekonomi bangsa ini di Jakarta.

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Meski demikian, pernyataan tersebut juga menjadi refleksi dari kondisi yang menyedihkan. Jakarta sebagai pusat denyut nadi Indonesia menunjukkan bahwa ketimpangan antarprovinsi di negeri ini begitu nyata. Kelakar Gubernur Indonesia dapat pula dianggap sebagai kritik bahwa pemerintah selama ini terlalu banyak membangun Jakarta, tetapi seolah lupa akan daerah-daerah lainnya.

Terlihat bahwa ada ketimpangan pembangunan seperti yang digambarkan oleh Jeffrey G. Williamson. Ketimpangan dalam konteks ini adalah ketimpangan antara Jakarta sebagai pusat dengan daerah-daerah lain. Jika merunut sejarah, ketimpangan itu disebabkan oleh awal mula pembangunan di negeri ini. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Williamson.

Peran Jakarta sebagai pusat segalanya membuat seolah-olah Indonesia hanyalah wilayah ibukota tersebut saja. Di satu sisi, ini menjadi bukti bahwa Gubernur Jakarta bisa direfleksikan sebagai Gubernur Indonesia. Akan tetapi, ini juga menjadi ironi bagi pembangunan nasional di negeri ini.

Ibukota Sebagai Melting Pot

Jakarta memang seolah telah menjadi rumah bagi semua orang yang mendambakan kehidupan yang lebih baik. Banyak orang rela meninggalkan kampung halaman demi mewujudkan mimpi meraup rupiah sebanyak mungkin atau sekadar bertahan hidup.

Setiap tahunnya provinsi ini memang mengalami urbanisasi yang cukup besar. Pada tahun 2014 hingga 2017, jumlah pendatang yang baru tiba di Jakarta berkisar antara 68-70 ribu orang setiap tahunnya. Angka tersebut merupakan lonjakan besar dari tahun 2013 yang hanya berjumlah 54 ribu orang saja.

Jika dilihat berdasarkan komposisi etnis, beragam etnis atau suku bangsa tumpah ruah di provinsi ini. Jakarta kini tidak lagi didominasi oleh suku Betawi sebagai penduduk asli. Arus urbanisasi membuat provinsi ini menjadi lebih berwarna dari segi suku bangsa.

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, suku bangsa tertinggi di Jakarta adalah Jawa dengan total mencapai 3 juta jiwa. Di bawahnya ada Betawi di kisaran 2 juta dan Sunda dengan jumlah sekitar 1 juta jiwa. Angka-angka tersebut belum termasuk suku bangsa lain yang mengisi ruang-ruang kehidupan di Jakarta.

Kondisi tersebut seperti menggambarkan Jakarta sebagai sebuah melting pot bagi orang-orang di negeri ini. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Israel Zangwill. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana masyarakat dengan identitas heterogen mengalami peleburan menjadi identitas yang lebih homogen dan memiliki budaya bersama.

Peleburan budaya-budaya pendatang yang hadir di Jakarta membuat wilayah tersebut tidak lagi menggambarkan satu etnis atau suku bangsa saja. Peleburan berbagai budaya tersebut membuat Jakarta dianggap menggambarkan Indonesia.

Baca juga :  Khofifah dan Jebakan "Bebek Songkem"?

Oleh karena itu, wajar jika Jakarta dianggap sebagai wajah dari Indonesia dan ada benarnya juga jika Anies disebut sebagai Gubernur Indonesia sesuai dengan gambaran Jakarta sebagai wajah dari negeri ini.

Menggenggam Jakarta, Menggengam Indonesia

Selain menjadi pusat ekonomi dan kebudayaan negeri ini, metafora Gubernur Indonesia juga bisa tercermin dari posisi politik provinsi ini. Jakarta, saat ini adalah rumah bagi sebagian besar aktivitas politik negeri ini. Oleh karena itu, jabatan gubernur di provinsi ini tergolong amat seksi dan krusial bagi aktor-aktor politik tanah air.

Sudah lazim dibicarakan bahwa jika berhasil menggengam Jakarta maka akan lebih mudah untuk menggenggam Indonesia. Oleh sebab itu, banyak aktor politik negeri ini berlomba mengamankan daerah ibukota tersebut.

Secara spesifik, jabatan Gubernur DKI Jakarta dapat membuka ruang bagi kesempatan politik yang lebih luas. Setelah menggenggam kursi DKI-1, jalan untuk menuju kursi yang lebih tinggi yaitu RI-1 bisa jadi lebih mudah.

Hal ini sudah pernah dicontohkan oleh presiden saat ini Joko Widodo (Jokowi). Sebelum berkantor di Istana Negara, Jokowi terlebih dahulu menguasai empuknya kursi Balai Kota DKI Jakarta. Performa dan popularitasnya sebagai Gubernur Jakarta membuat langkahnya menuju Istana menjadi jauh lebih mudah.

Oleh karena itu, istilah Gubernur Indonesia bagi Anies tidak hanya menggambarkan posisinya sebagai pengendali pusat ekonomi dan budaya penduduk semata. Ia juga berpotensi menjadi pengendali politik negeri ini. Lebih spesifik lagi, ia berpotensi maju menjadi capres karena sudah menguasai medan politik yang begitu seksi secara nasional.

Belakangan, nama Anies Baswedan mulai dilirik untuk menjadi capres oleh sejumlah kalangan. Nama Anies dalam beberapa survei memang tergolong cukup moncer untuk menantang presiden petahana Jokowi.

Mendaulat Anies, Gubernur Indonesia

PKS merupakan salah satu partai yang belakangan dikabarkan tertarik pada mantan rektor Universitas Paramadina tersebut. Partai berlogo padi dan bulan tersebut mengeluarkan wacana untuk memasangkan Anies dengan mantan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan.

Selain itu, yang tengah hangat dibahas adalah wacana untuk memasangkan Anies dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Wacana ini mengemuka setelah Partai Demokrat melirik berbagai opsi untuk membentuk poros ketiga.

Melihat geliat parpol yang melirik Anies, julukan Gubernur Indonesia boleh jadi bukanlah hal yang berlebihan. Portofolio sebagai gubernur ibukota adalah hal yang mentereng jika ingin menjadi capres. Bukan tidak mungkin, setelah menggenggam Jakarta, Anies akan menggenggam Indonesia. (H33)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...