HomeNalar PolitikKarena Ganjar, Anies Semakin Gentar?

Karena Ganjar, Anies Semakin Gentar?

Setelah deklarasi pencapresan Ganjar Pranowo, bakal calon presiden (capres) Anies Baswedan seolah masih “menghilang”. Lalu, apa yang dapat dimaknai dari korelasi redupnya manuver Anies belakangan ini dengan panasnya berita pencapresan Ganjar oleh PDIP? 


PinterPolitik.com 

Kandidat calon presiden (capres) yang akan bertarung di pemilihan presiden (Pilpres) 2024 sedikit demi sedikit sudah mulai terlihat pasca penunjukkan Ganjar Pranowo sebagai capres dari PDIP. 

Hal itu pula diamini oleh Ketua Umum Konfederasi Nasional Relawan Anies Baswedan, Muhammad Ramli Rahim. Menurutnya, keputusan PDIP telah membuat terang siapa saja yang akan menjadi kompetitor Anies Baswedan. 

Menariknya, Anies sendiri seolah menghilang dari publik, bahkan sebelum penunjukkan Ganjar sebagai capres. 

Pasca deklarasi pencapresan Ganjar, misalnya, Anies hanya mengucapkan selamat atas penunjukkan Ganjar dan mengatakan hal itu baik untuk iklim demokrasi Indonesia. 

Namun, pernyataan Anies itu tampaknya belum cukup untuk menunjukkan eksistensinya sebagai kompetitor yang sepadan untuk Ganjar. 

Anies terakhir kali menunjukkan eksistensinya dalam panggung politik sebagai capres pada saat diwawancara secara live oleh program berita The World News di stasiun TV ABC Australia pada 10 Maret 2023 lalu. 

kemana anies baswedan

Dalam wawancara itu, Anies seolah menunjukkan kapabilitasnya sebagai salah satu capres yang memiliki visi untuk Indonesia jika menang dalam Pilpres 2024 nanti. 

Anies dapat menjawab pertanyaan dengan lancar dan baik mulai dari pertanyaan yang umum hingga hal yang sensitif. Anies bahkan dapat dengan tegas membantah pertanyaan yang menuduh dia adalah capres yang akan menggunakan isu-isu agama untuk membuat polarisasi dalam sebuah kontestasi elektoral 

Anies memberi contoh saat dirinya memimpin DKI Jakarta yang menurutnya tidak mebeda-bedakan kebijakannya hanya berdasarkan suku, ras, dan agama. Sayangnya, setelah wawancara itu Anies seolah menghilang dari pemberitaan. 

Lantas, mungkinkah ada makna tertentu dari ucapan selamat Anies kepada Ganjar itu? Serta, mengapa Anies seolah menghilang dan tidak menunjukkan eksistensinya secara signifikan, sebelum dan setelah PDIP menunjuk Ganjar sebagai capres? 

Ucapan Selamat Anies Bermakna? 

Berbagai penafsiran muncul atas bungkamnya Anies, sebelum dan pasca penunjukkan Ganjar sebagai capres oleh PDIP. 

Khusus respons Anies atas pencapresan Ganjar, tampaknya hal itu menimbulkan persepsi tertentu. Kemungkinan ucapan selamat yang Anies tujukan kepada Ganjar setelah resmi menjadi capres tidak menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi. 

Ucapan selamat yang umumnya adalah bentuk kegembiraan seseorang kepada orang lain karena berhasil mencapai sesuatu tidak tergambar dalam ucapan selamat Anies kepada Ganjar. 

Jika hal itu benar, agaknya ucapan selamat Anies mengindikasikan adanya dramaturgi. Ihwal yang selaras dijelaskan oleh Sosiolog Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Everyday Life mengatakan bahwa dramaturgi adalah sebuah teori dasar tentang bagaimana individu tampil di dunia sosial. 

Baca juga :  Bukan Teruskan Jokowi, Prabowo Perlu Beda?
safari media internasional anies

Dramaturgi oleh Erving Goffman, dijabarkan sebagai panggung sandiwara, dimana individu berbeda karakternya ketika berada di depan panggung (front stage) dan belakang panggung (back stage)

Konsep dramaturgi Goffman sendiri kiranya cukup relevan dalam dunia politik yang hampir dapat dipastikan memiliki dua panggung berbeda. 

Lely Arrianie dalam tulisannya yang berjudul Panggung Politik di Media: Menjaga Ruh Keberagaman dan Ideologi Kebangsaan Antara Narasumber dan Media menegaskan bahwa platform media adalah panggung politik depan (front stage) yang secara jelas bisa diamati publik (konstituen, pemirsa, pendengar dan penonton). 

Berkaca dari penjelasan diatas, ucapan selamat yang diberikan Anies kepada Ganjar di front stage tampaknya tidak berdasarkan “kegembiraan” Anies yang menyambut Ganjar ikut serta dalam kontestasi Pilpres. 

Sebaliknya, Anies kiranya tidak senang dengan pencalonan Ganjar karena diskursus politik di berbagai platform media (front stage) kemudian direbut cukup signifikan oleh Ganjar dan semakin “menenggelamkannya”. 

Di belakang panggung (back stage), ada kemungkinan Anies juga merasa gentar karena pesaingnya dalam pilpres kembali bertambah setelah Prabowo Subianto yang juga sudah ditunjuk Partai Gerindra menjadi capres 2024. 

Dengan skenario tiga capres itu dan suara kemungkinan akan kian terpecah, Anies boleh jadi langsung merasa “dirugikan” karena mempunyai elektabilitas paling rendah yang dirilis berbagai lembaga survei. 

Dalam hasil survei terbaru yang dirilis oleh Indikator Politik Indonesia pada Kamis (20/4) lalu, contohnya, Anies berada di peringkat tiga dengan 15,9 persen dibawah Prabowo dan Ganjar. 

Kemudian dalam survei Politika Research and Consulting (PRC) yang dirilis pada Rabu (19/4) lalu, menempatkan Anies juga di posisi ketiga dibawah Prabowo dan Ganjar dengan 17,9 persen. 

Bahkan, dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) elektabilitas Anies dibawah 10 persen, tepatnya di angka 9,2 persen meskipun tetap pada urutan ketiga dibawah Ganjar dan Prabowo yang bersaing ketat di angka 16,5 persen dan 16,3 persen. 

Lalu, apa yang terjadi jika Anies terus “menghilang” dan bungkam setelah Ganjar secara resmi akan maju dalam Pilpres? 

anies dapat kartu kuning 1

Anies Kehilangan Momentum? 

Di dunia politik, timing atau momentum adalah hal yang cukup krusial untuk menganalisis aksi-reaksi para aktor politik, sebagaimana dijelaskan Luis Rubio dalam publikasinya yang berjudul Time in Politics

Menurut Rubio, ketepatan timing sangat penting dalam sebuah komunikasi dan manuver politik. Preferensi timing yang dipilih dapat menentukan perbedaan output yang signifikan dari sebuah interaksi politik. 

Baca juga :  Apa Siasat Luhut di Kewarganegaran Ganda?

Sementara itu, John Gibson menjelaskan dalam Political Timing: A Theory of Politicians’ Timing of Events bahwa momentum tertentu dalam politik dapat digunakan untuk memaksimalkan benefit politik atau meminimalkan risiko sang aktor politik. 

Dalam kasus Anies, momentum politik itu sebenarnya sudah mulai didapatkan Anies ketika Partai NasDem mendeklarasikan dukungannya kepada Anies sebagai capres hingga kemudian diikuti oleh PKS dan Partai Demokrat. 

Anies kemudian dengan baik memanfaatkan momentum itu ketika mulai bersafari politik ke berbagai daerah untuk mendapatkan simpati masyarakat. 

Terakhir, Anies kembali mendapatkan momentum politik untuk menjelaskan lebih luas visi misi dia untuk maju sebagai capres dan menjawab tuduhan yang selama ini ditujukan kepadanya lewat wawancara dengan stasiun TV ABC Australia. 

Atas dasar hal itu, sebenarnya Anies sudah dapat dengan baik dalam memanfaatkan momentum yang dia peroleh untuk membangun citra politiknya jelang Pilpres. Namun, entah mengapa setelah wawancara itu Anies seolah “hilang”. 

Padahal, wawancara dengan ABC Australia itu adalah momentum yang baik untuk Anies terus mendapatkan spotlight menjelang Pilpres 2024 yang akan berpengaruh pada elektabilitasnya. Itu dikarenakan, dalam wawancara itu Anies dapat menjawab dan mengklarifikasi isu yang terkait dirinya dengan baik. 

Meskipun “panggung” itu akan sedikit disela oleh momen penunjukkan Ganjar sebagai capres, kiranya itu tidak akan berpengaruh banyak jika Anies dapat memanfaatkan momentumnya sendiri. 

Ada beberapa analisis terkait “hilangnya” seorang Anies Baswedan. Pertama, Anies kehilangan panggung politik karena tidak mempunyai jabatan yang dapat menjadi etalase kinerjanya. 

Hal tersebut jelas merupakan salah satu kekurangan Anies dibandingkan dua pesaing terkuatnya, Prabowo dan Ganjar yang masih mengemban jabatan politik hingga kemungkinan besar mereka masih bisa mendapat panggung politiknya sendiri. 

Kedua, analisis lainnya adalah penyebab goyahnya posisi parpol utama pendukungnya, yakni Partai NasDem di pemerintahan yang diterpa isu reshuffle menteri. Karena hal itu, kemungkinan Anies sengaja diminta untuk “menghilang” sejenak agar isu itu tidak semakin memanas. 

Terakhir, kembali, analisis terkait kemungkinan menghilangnya Anies adalah semakin gentarnya Anies karena pesaingnya dalam pilpres kembali bertambah usai penunjukkan Ganjar oleh PDIP. 

Namun, semua analisis diatas masih sebatas interpretasi semata. Namun satu kemungkinan yang dapat terjadi jika Anies terus “menghilang” maka dirinya akan kehilangan momentum positif menjelang Pilpres 2024 dan bisa saja akan sangat berpengaruh pada stagnasi elektabilitasnya. (S83) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Elon Musk, Puppet or Master?

Harapan investasi besar dari pebisnis Elon Musk tampak begitu tinggi saat disambut dan dijamu oleh pejabat sekaliber Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan hingga beberapa pejabat terpilih lain. Akan tetapi, sambutan semacam itu agaknya belum akan membuat CEO SpaceX hingga Tesla itu menanamkan investasi lebih di Indonesia.

Menguak Siasat Yusril Tinggalkan PBB

Sebuah langkah mengejutkan terjadi. Yusril Ihza Mahendra memutuskan untuk melepaskan jabatan Ketum PBB. Ada siasat apa?

Mengapa Xi-Putin Terjebak “Situationship”?

Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin tampak begitu "mesra" dan bersama-sama deklarasi "lawan" AS.

Karier Politik Panjang Anies

Karier politik Anies Baswedan akan jadi pertaruhan pasca Pilpres 2024. Setelah kalah, Anies dihadapkan pada pilihan-pilihan untuk membuat dirinya tetap relevan di hadapan publik.

Megawati dan Misteri Patung Butet

Butet Kertaredjasa membuat patung “Melik Nggendong Lali” dan tarik perhatian Megawati. Mengapa patung itu berkaitan dengan PDIP dan Jokowi?

Mengapa Prabowo Semakin Disorot Media Asing? 

Belakangan ini Prabowo Subianto tampak semakin sering menunjukkan diri di media internasional. Mengapa demikian? 

Jebakan di Balik Upaya Prabowo Tambah Kursi Menteri Jadi 40

Narasi revisi Undang-Undang Kementerian Negara jadi salah satu yang dibahas beberapa waktu terakhir.

Rekonsiliasi Terjadi Hanya Bila Megawati Diganti? 

Wacana rekonsiliasi Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) mulai melempem. Akankah rekonsiliasi terjadi di era Megawati? 

More Stories

Ketua DPR, Golkar Lebih Pantas? 

Persaingan dua partai politik (parpol) legendaris di antara Partai Golkar dan PDIP dalam memperebutkan kursi Ketua DPR RI mulai “memanas”. Meskipun secara aturan PDIP paling berhak, tapi beberapa pihak menilai Partai Golkar lebih pantas untuk posisi itu. Mengapa demikian?

Anies “Alat” PKS Kuasai Jakarta?

Diusulkannya nama Anies Baswedan sebagai calon gubernur (cagub) DKI Jakarta oleh PKS memunculkan spekulasi jika calon presiden (capres) nomor urut satu ini hanya menjadi “alat” untuk PKS mendominasi Jakarta. Benarkah demikian?

Pemilu 2024, Netralitas Jokowi “Diusik” PBB? 

Dalam sidang Komite Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, anggota komite Bacre Waly Ndiaye mempertanyakan netralitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait lolosnya Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden (cawapres) dari Prabowo Subianto. Lalu, apa yang bisa dimaknai dari hal itu?