HomeNalar PolitikJokowi dan Kembalinya “Raja Jawa”

Jokowi dan Kembalinya “Raja Jawa”

Kecil Besar

Indonesia di bawah pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dianggap semakin toleran terhadap kehadiran militer Amerika Serikat (AS) di dekat wilayah kedaulatan negara kepulauan tersebut. Strategi apa yang sebenarnya perlu diambil oleh pemerintahan Jokowi dalam persaingan geopolitik antara AS dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT)?


PinterPolitik.com

Lamun sira sekti, ojo mateniLamun sira banterojo ndhisiki. Lamun sira pinterojo minteri” – Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia

Coba bayangkan sebuah roda kendaraan yang sedang melaju. Pernahkah kita bertanya mengapa kendaraan itu bisa melaju? Tentunya, pertanyaan ini mudah dijawab, yakni karena tenaga yang dihasilkan oleh bahan bakar yang membawa kendaraan tersebut untuk melaju.

Namun, coba anggap saja roda tersebut merupakan sebuah lingkaran yang tengah berputar. Bagaimana roda-roda kendaraan bermotor – seperti mobil – bisa bergerak?

Mungkin, bila bertanya pada mereka yang mempelajari teknik mesin, jawabannya adalah sederhana, yakni karena as roda (axle) yang digerakkan oleh mesin. As roda ini biasanya berupa poros yang terhubung ke titik tengah roda.

Gerakan yang didorong oleh titik inti dari sebuah lingkaran seperti ini tidaklah hanya terjadi pada kendaraan. Revolusi yang terjadi pada bulan ketika mengitari Bumi, misalnya, juga terjadi karena gaya gravitasi yang diciptakan oleh inti dari sebuah bola, yakni massa Bumi.

Boleh jadi, pola-pola lingkaran seperti ini dapat ditemukan secara umum di alam luar sana – mulai dari bunga, buah-buahan, jamur, lapisan kambium dalam batang pohon, hingga mata manusia. Tidak mengherankan apabila lingkaran – atau bundar – merupakan bentuk yang menjadi ibu dari segala bentuk lainnya.

Inspirasi dari alam inilah yang mungkin juga menginspirasi pola politik di Indonesia, khususnya pola kekuatan politik ala Jawa. Setidaknya, bayangan “pusat lingkaran” dalam politik seperti ini pernah dijelaskan oleh seorang Indonesianis yang bernama Benedict Richard O’Gorman Anderson dalam bukunya yang berjudul Language and Power.

Mengacu pada Anderson, pemimpin yang menjalankan politik ala Jawa biasanya akan bertumpu pada upaya pemusatan kekuatan, yakni mengumpulkan kekuatan (power) pada dirinya. Setidaknya, apa yang dikatakan Anderson ini diamini oleh sejumlah pakar lainnya ketika mengamati strategi politik Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Aris Huang dari The SMERU Research Institute, misalnya, menilai rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo Subianto pasca-Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu merupakan bentuk strategi ala Jawa. Huang menganggap ini menjadi cara sang presiden untuk mengumpulkan “pusaka” kekuatan agar berada di sekelilingnya.

Baca Juga: Ramalan Jayabaya, Haruskah Presiden Jawa?

Bisa jadi, sudah menjadi rahasia umum bahwa konsep “lingkaran” dan “pemusatan” ala Jawa adalah bagian dari politik Indonesia. Bahkan, bisa dibilang pula bahwa budaya Jawa sudah terjahit dalam sistem politik negara ini.

Namun, bagaimana dengan pola politik luar negeri (polugri) Indonesia? Apakah mungkin pemerintahan Jokowi juga mendasarkan kebijakan luar negerinya pada pola yang serupa? Bila benar demikian, bagaimana konsepsi kekuatan ala Jawa ini berjalan di tengah persaingan geopolitik di Indo-Pasifik antara dua kekuatan besar – Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT)?

Lamun Sira… untuk AS-Tiongkok?

Presiden Jokowi sebelumnya pernah mengungkapkan tiga falsafah Jawa yang selalu menjadi pegangannya. “Lamun sira sekti, ojo mateniLamun sira banterojo ndhisiki. Lamun sira pinterojo minteri,” ungkap sang Presiden ketika diwawancarai di Istana.

Baca juga :  Xi Jinping, the King of Games?

Secara umum, tiga kalimat Bahasa Jawa tersebut memiliki arti berikut: (1) meski kamu sakti, jangan menjatuhkan; (2) meski kamu cepat, jangan mendahului; dan (3) meski kamu pintar, jangan sok pintar. Bukan tidak mungkin, tiga falsafah yang diungkapkan Jokowi ini mencerminkan pentingnya harmoni.

Sebenarnya, harmoni sendiri menjadi salah satu kunci dalam budaya Jawa. Elisabet Titik Murtisari dalam tulisannya yang berjudul Some Traditional Javanese Values in NSM menjelaskan bahwa budaya dan masyarakat Jawa memiliki sejumlah nilai agar harmoni dan ke-tentrem-an terwujud, yakni narima (menerima), eling (ingat atau berhati-hati), waspada, sadar, tanggap terhadap perasaan orang lain, ngalah (mengalah), dan ethok-ethok (berpura-pura).

Bila benar, nilai-nilai Jawa demikian bertujuan untuk menciptakan situasi yang tentrem (tentram) dan harmonis. Lantas, apakah tujuan serupa juga berlaku dalam polugri Indonesia? Mungkinkah kawasan Asia Tenggara – atau Indo-Pasifik dalam skala lebih besar – dapat menjadi kawasan yang senantiasa tentrem?

Bukan tidak mungkin, nilai-nilai harmoni seperti ini juga dipromosikan oleh Indonesia dalam kebijakan luar negerinya – khususnya di kawasan Asia Tenggara. Berdirinya Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) sebagai organisasi kawasan, misalnya, ditujukan untuk meningkatkan stabilitas kawasan di tengah persaingan geopolitik yang terjadi antara AS dan Uni Soviet kala Perang Dingin.

Selain itu, bila mengamati norma-norma yang dianut oleh ASEAN, misalnya, terdapat prinsip-prinsip yang ditujukan agar stabilitas di kawasan ini – dengan meminimalisir terjadinya konflik antarnegara. Prinsip yang juga dijuluki sebagai ASEAN Way tersebut merupakan prinsip yang membuat negara-negara anggota untuk tidak saling mencampuri urusan politik satu sama lain (non-interferensi). Selain itu, ASEAN juga menganut prinsip mufakat dalam banyak kesepakatannya.

Baca Juga: Andai Majapahit Masih Berdiri

Kepentingan Indonesia agar kawasan ASEAN tetap harmonis ini juga terlihat dari bagaimana sikap negara kepulauan ini dalam menanggapi isu-isu terkini terkait Laut China Selatan (LCS) – atau Laut Natuna Utara dalam versi pemerintah Indonesia. Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi, misalnya, berkali-kali meminta negara-negara yang berkepentingan di kawasan Indo-Pasifik untuk saling mampu menahan diri dari tindakan-tindakan sepihak yang bisa mengganggu stabilitas kawasan.

Namun, harmoni dan stabilitas kawasan adalah satu hal saja, yakni hanya soal tujuan dan kepentingan. Lantas, bagaimana dengan strategi yang diambil oleh pemerintahan Jokowi? Strategi ala Jawa yang bagaimana yang mungkin bisa diterapkan dalam polugri Indonesia?

Kembalinya Mandala Majapahit

Jika berbicara soal Indonesia, kurang afdal juga bila tidak membahas bagaimana sejarah masa lampau dari Majapahit. Bagaimana juga, memori kolektif akan masa lampau ini masih menjadi warisan yang membekas bagi pemerintah Indonesia di masa kini, termasuk soal polugri.

Setidaknya, penjelasan seperti ini diungkapkan oleh Jürgen Rüland dalam bukunya yang berjudul The Indonesian Way: ASEAN, Europeanization, and Foreign Policy Debates in a New Democracy. Warisan ini dinilai masih melekat dalam polugri Indonesia – terlihat dari beberapa konsep seperti Wawasan Nusantara yang dilandaskan pada kondisi geografis kepulauan.

Cara pandang polugri seperti ini akhirnya melahirkan konsep yang disebut sebagai lingkaran konsentris – terdiri atas prioritas geopolitik Indonesia. Lingkaran ini terdiri atas banyak lapisan yang menempatkan ASEAN sebagai prioritas terdalam.

Baca juga :  Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?

Konsep lingkaran konsentris sendiri dinilai mirip dengan sistem mandala yang diyakini digunakan pada era-era kerajaan sebelum kolonisasi terjadi di Asia Tenggara. Kala itu, lingkaran terdalam merupakan wilayah inti di mana kraton atau istana berdiri. Sementara, di lapisan terluar terdapat wilayah-wilayah lebih kecil yang disebut berada di lapisan mancanegara yang masih berada dalam perlindungan kraton.

Pola lingkaran-lingkaran seperti ini sejalan dengan pola politik ala Jawa yang juga berlaku pada era Majapahit. Semakin ke dalam, semakin kuat pula pengaruh dari entitas kraton di dalamnya.

Bukan tidak mungkin, sistem seperti ini sejalan dengan pola kekuatan ala Jawa yang diungkapkan oleh Anderson, yakni pemusatan kekuatan kepada inti dari lingkaran berlapis, yakni sang raja atau kraton. Ini berujung pada pemahaman bahwa pengaruh sang raja harus semakin kuat ketika berbicara soal konteks lingkaran terdalam.

Baca Juga: Prabowo Kalah Karena Kurang “Jawa”?

Polugri Jokowi Khas Jawa?

Jika diaplikasikan pada polugri saat ini, menjadi masuk akal apabila Indonesia menginginkan harmoni dan stabilitas di kawasan Asia Tenggara. Bagaimana pun, ASEAN senantiasa menjadi lingkaran terdalam dari lingkaran konsentris polugri Indonesia. 

Ini pula yang menjadi alasan mengapa Indonesia menginginkan otonomi strategis (strategic autonomy) – seperti yang disebutkan oleh Emirza Adi Syailendra dan Leonard C. Sebastian pada artikel opini mereka di East Asia Forum – dalam lingkaran terdalamnya ini. Ingat, semakin ke dalam, harus semakin kuat pengaruh yang dimiliki.

Bila benar demikian polugri yang dijalankan, lantas, bagaimana dengan peran AS yang dinilai semakin dibutuhkan Indonesia di tengah persaingan geopolitik antara negeri Paman Sam dengan Tiongkok? Apalagi, Menlu AS Antony Blinken baru saja mengunjungi Indonesia setelah pemerintahan Xi Jinping memprotes pengeboran minyak di Laut Natuna Utara.

Bisa jadi, untuk mencapai otonomi strategis tersebut, Indonesia harus menjalankan upaya pemusatan kekuatan seperti yang dijelaskan Anderson, yakni dengan mengumpulkan “pusaka” yang mampu memperkuat sang raja atau kraton. Dalam hal ini, “pusaka” demikian bisa saja berasal dari kekuatan-kekuatan asing seperti Tiongkok ataupun AS.

Lagipula, dengan sikap Tiongkok yang makin agresif dalam isu LCS, Indonesia bisa jadi membutuhkan “pusaka” lain yang dapat diperoleh dari negeri Paman Sam – entah itu berupa “pusaka” di bidang ekonomi dan infrastruktur atau “pusaka” dalam bidang keamanan. Mungkin, pemerintahan Jokowi kini telah menerapkan sebuah strategi balancing (pengimbangan) yang didasarkan pada pola politik ala Jawa.

Meski begitu, dalam pola politik demikian, sang raja atau kraton harus memiliki otoritas penuh dalam menciptakan harmoni yang diinginkan. Bila keterpaduan kekuatan itu runtuh, tentu saja kekacauan bisa saja kembali terjadi di kawasan Asia Tenggara seperti ketika ASEAN belum berdiri.

Seperti yang dibilang oleh banyak ahli – seperti Evan A. Laksmana dari National University of Singapore (NUS), Indonesia harus mengambil peran lebih ketika dihadapkan dengan situasi kawasan ASEAN yang memanas. Apalagi, Indonesia kerap disebut sebagai pemimpin alami (natural leader) dari kawasan besar ini.

Lagipula, seperti analogi di awal tulisan, penggerak sebuah roda adalah as roda yang terletak di tengah. Bila as roda tersebut tidak kokoh, bukan tidak mungkin gangguan akan terjadi pada perputaran roda tersebut. Bukan begitu? (A43)

Baca Juga: Saatnya Jokowi Belajar dari Majapahit?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?