HomeNalar PolitikIwan Bule Terselamatkan Budaya Korea?

Iwan Bule Terselamatkan Budaya Korea?

Kecil Besar

Baru-baru ini, pernyataan Pelatih Tim Nasional (Timnas) sepak bola Indonesia  Shin Tae Yong (STY) mengundang banyak pro dan kontra di masyarakat terkait pengunduran dirinya jika Iwan Bule mundur. Pernyataan itu berangkat dari Tragedi Kanjuruhan dimana PSSI dianggap sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Lantas, mengapa Iwan Bule tidak kunjung mundur?


PinterPolitik.com

Pelatih Tim Nasional (Timnas)sepak bolaShin Tae Yong (STY) bisa saja menjadi sosok yang dicintai oleh masyarakat Indonesia. Namun, baru-baru ini dirinya mengeluarkan pernyataan yang mengecewakan.

Hal itu lantaran dirinya sempat membela Ketua Umum (Ketum) PSSI Mochamad Iriawan atau yang akrab dipanggil dengan Iwan Bule yang didesak mundur akibat Tragedi Kanjuruhan.

Dia menyatakan kepada publik bahwa jika Iwan Bule mundur, dirinya juga akan ikut mundur dari PSSI. Melalui unggahannya di Instagram, dia merasa perlu bertanggung jawab atas semua yang terjadi dan mengundurkan diri.

Menurutnya jika terdapat kesalahan dari rekan kerja yang bekerja bersama sebagai satu tim, maka dirinya pun juga memiliki kesalahan yang sama.

Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) mengungkapkan rasa kecewa tersebut dengan mengingatkan STY terkait politik sepak bola Indonesia. Melainkan daripada itu, Ketum PSTI Ignatius Indro berpendapat STY lebih baik hanya fokus melatih Timnas Indonesia.

Menurutnya juga, STY perlu menghindari pernyataan tersebut karena akan berpengaruh terhadap sentimen publik. Dia juga mengungkapkan STY seharusnya percaya diri saja dengan kemampuannya sehingga tidak bergantung dengan Ketum PSSI sekarang.

Jika STY memang cukup berprestasi, maka dia pasti akan menjabat kembali sebagai pelatih Timnas. Jika menyangkut dengan politik, masalah boleh jadi akan menjadi runyam.

Selain itu, menurut asisten pelatih Timnas Indonesia Nova Arianto, wacana mundurnya STY tidak didasari oleh tekanan siapa pun. Inisiatif itu memang hanya keluar dari hatinya yang paling dalam.

Lalu, sebagai orang yang akrab dengan budaya Korea Selatan (Korsel), bagaimana kacamata budaya melihat fenomena ini? Serta adakah korelasinya dengan dinamika perpolitikan Indonesia ke depan?

image 84

โ€œShame Cultureโ€

Di Negeri Ginseng, ada sebuah istilah yang disebut dengan โ€œshame cultureโ€ dimana ketika seorang pemimpin gagal, maka bawahannya merasa harus mundur juga. Di Semenanjung Korea, fenomena seluruh anggota berhenti jika pemimpin gagal seringkali ditemui

Istilah โ€œshame cultureโ€ itu juga memiliki keburukan tersendiri. Ketika seseorang diserang oleh perasaan bersalah karena dibentengi oleh reputasi, hormat, gengsi, dan harga diri.

Prof. Dr. Kees Berten, seorang pakar etika terkemuka di Indonesia dalam bukunya yang berjudul Aborsi sebagai Masalah Etika berpendapat terkait bahaya terbesar jika seseorang telah memiliki โ€œshame cultureโ€.

Dia menuturkan budaya berbahaya yang dimiliki oleh masyarakat yang memiliki tingkat shame culture tinggi akan dirundung perasaan rasa malu ketika kecacatan atau aib mereka diketahui oleh orang lain.

Konsep ini berlawanan dengan istilah โ€œguilt cultureโ€ di mana sekalipun suatu kejahatan maupun kelalaian dalam konteks profesionalisme tidak diketahui oleh orang lain, pelaku tetap memiliki perasaan bersalah.

Baca juga :  Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Pelaku kemudian akan merasa tidak tenang dan sering menyesal atas perbuatannya. Dengan demikian, mereka akan lebih mudah untuk melakukan undur diri dari jabatannya tanpa harus dibuka terlebih dahulu kesalahannya.

Berdasarkan apa yang diungkapkan STY, dirinya lebih merujuk pada โ€œshame cultureโ€ yang berkaitan pula dengan konsep solidaritas yang diungkapkan oleh Emile Durkheim dan Henri Bergson dalam bukunya yang berjudul Moral dan Religi.

Solidaritas memiliki makna keadaan hubungan antara individu dan/atau kelompok yang berdasarkan perasaan moral dan kepercayaan bersama. Hal tersebut  dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional.

Faktor yang paling berpengaruh dari solidaritas yakni adanya keterikatan yang didukung oleh nilai-nilai moral dan kepercayaan bersama. Dengan demikian, solidaritas akan menciptakan pengalaman emosional sehingga akan memperkuat hubungan antar mereka.

Seringkali olahraga sepak bola dikait-kaitkan dengan solidaritas dan profesionalisme. Pada budaya Korsel terutama, seringkali budaya mundur dari jabatan ditemukan akibat ada atasan atau pemimpin yang tidak profesional.

Pada akhirnya, prinsip yang dimiliki STY untuk mundur dari jabatan tampaknya juga merupakan buah hasil dari budaya tersebut yang lekat terhadap pengaruh emosional dari konsep solidaritas di dunia sepak bola.

Jika seseorang merasa bersalah mungkin saja dirinya melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kesalahannya meskipun hanya sebatas aksi solidaritas. Salah satu contohnya yaitu permohonan maaf, namun apakah hal ini sudah cukup untuk memaknai โ€œshame cultureโ€?

image 85

Maaf Tak Bermakna?

Kembali ke Iwan Bule, mantan Kapolda Metro Jaya itu sebenarnya telah menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat. Meskipun sebuah permintaan maaf tidak dapat mengembalikan nyawa para korban atau setidaknya mengobati luka akan trauma Kanjuruhan, namun nyatanya banyak masyarakat masih menuntut permintaan maaf darinya yang dinilai kurang berempati dan hanya dinilai sebagai โ€œlip serviceโ€ alias tanpa makna belaka.

Berbagai pemberitaan media juga menyebut bahwa Iwan Bule tidak terima dengan permintaan netizen bahwa dirinya harus mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab.

Desakan juga datang dari berbagai tokoh yakni pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Relawan Anies, Bonek alias suporter Surabaya, dan berdasarkan petisi yang telah mencapai 32.000 suara setuju Iwan Bule mundur.

Korsel menjadi salah satu negara yang dijadikan acuan jika ingin menilik moral etika. Mereka masuk dalam rumpun “shame culture”, bukan “guilt culture” seperti Jepang, Tiongkok, dan Indonesia.

Oleh karenanya, eksistensi STY seharusnya dapat menjadi โ€œtamparanโ€ bagi Iwan Bule bahwa dirinya masih perlu mengelola rasa malu dan tanggung jawab.

Salah satu contoh kisah yang sekiranya dapat mengacu pada budaya โ€œshame cultureโ€ di Korea yakni kisah Perdana Menteri (PM) Korsel Chung Hong Won yang menyatakan mundur dari jabatannya karena tragedi tenggelamnya Kapal Sewol yang menewaskan 187 orang meninggal.

Baca juga :  "Sell Indonesia" dan Spirit 1928

Chung Hong Won menyatakan perasaan duka dan rasa malunya melalui satu kalimat yang cukup menyayat hati. “Cries of the families of those missing still keep me up at nightโ€. (Tangisan keluarga dari orang-orang yang meninggal menghantui saya setiap malam).

Ungkapan Chung Hong Won tentunya berbeda dari โ€œlip serviceโ€ permohonan maaf budaya Indonesia. Dia mampu menunjukkan rasa empati terhadap para korban, meskipun sebenarnya secara teknis tragedi itu merupakan tanggung jawab kapten kapal, krew, dan pejabat terkait lalu lintas kapal.

Lantas, mengapa Iwan Bule tidak mengindahkan desakan dari berbagai pihak itu?

image 86

PSSI Kendaraan Politik?

Iwan Bule sendiri pernah dituding menjadikan PSSI sebagai kendaraan politik untuk menjadikan dirinya sebagai Gubernur Jawa Barat (Jabar). Terlebih, dirinya bahkan pernah menjadi Plt. Gubernur Jabar pada 18 Juni hingga 5 September 2018.

Jika benar, bisa jadi dia akan menjadi the next Ketua Umum PSSI sebelumnya yakni Edy Rahmayadi yang berhasil menjadi Gubernur Sumatera Utara (Sumut).

Upaya politik Iwan Bule sendiri yang sejauh ini telah tampak antara lain melalui  banner yang tersebar di beberapa titik di Jawa Barat, rilis resmi di PSSI terkait capaiannya, dan dukungan dari beberapa kelompok masyarakat untuk maju di Pilgub Jabar 2024.

Sebenarnya tidak mengherankan lagi jika PSSI memang sarat akan tendensi politis berdasarkan riwayat historisnya.

Salah satu publikasi berjudul The Politics of Indonesian Football yang ditulis oleh seorang antropolog dan sejarawan asal Belanda Freek Colombijn menyoroti asosiasi sepak bola yang telah menarik banyak baik peserta aktif maupun pasif, termasuk juga aktor politik.

Pada awalnya sepak bola memang dianggap sebagai representasi politik penguasa dan aspek sosio-kultural masyarakat. Hal itu dapat digambarkan melalui adanya berbagai aktor dan entitas politik yang silih berganti menduduki pucuk pimpinan PSSI demi kepentingannya.

Salah satu momentumnya yaitu pada penyelenggaraan liga alias piala nasional yang berpuncak pada semifinal dan final di Jakarta pada era Orde Baru (Orba). Setelah itu, ketika Soeharto tumbang, Colombijn menyiratkan bahwa kepentingan politik semakin terlihat  dalam dunia sepak bola Indonesia.

Oleh karena itu, dia menyimpulkan dunia sepak bola Indonesia merupakan manipulation of the game for political agendas alias manipulasi permainan untuk agenda politik.

Kembali lagi kepada narasi awal terkait pemahaman budaya โ€œshame cultureโ€ di Korea beserta kisah mundurnya PM Korsel Chung Hong Won serta menilik kemungkinan kepentingan politik Iwan Bule, bisa jadi budaya โ€œshame cultureโ€ STY bisa saja dianggap sebagai alat politik Iwan Bule untuk mempertahankan posisinya demi menjadi Gubernur Jabar.

Akan tetapi, penjabaran di atas masih sebatas interpretasi semata. Yang jelas, tragedi Kanjuruhan semestinya memang menjadi refleksi bagi para pihak terkait untuk bertanggung jawab penuh tanpa dibumbui intrik maupun kepentingan personal di baliknya. (Z81)

spot_imgspot_img

#Trending Article

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi โ€” Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme โ€” melainkan soal desain.

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Tiga dekade ia berderap melawan setiap kekuasaan. Ibaratkan pedang, Fahri Hamzah menggunakan mulutnya seperti pedang yang tajam. Begitu ia masuk ke dalamnya, pedang itu nampak seperti pedang yang โ€œkaratanโ€

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Di tengah pemerintahan yang pamornya meredup, satu figur justru rajin turun ke jalan. Kebetulan, atau ada yang sedang ia kumpulkan?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Bambang Pacul menyebutnya mentalitet korea: watak orang yang pernah melarat lalu nekat melenting dan sampai ke pucuk kekuasaan politik. Bahlil membawanya ke Senayan, dan jenis nyali itu ternyata tidak bisa diwariskan.

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Dari membeli lukisan siswi SMP hingga mendengar langsung aspirasi mahasiswa, Dudung Abdurachman seolah menampilkan wajah baru KSP. Apakah ini sekadar pencitraan, atau tanda lahirnya paradigma baru komunikasi institusi dan seorang purnawirawan jenderal di saat bersamaan?

Lapar yang Tidak Ikut Libur

Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #43PinterPolitik.com Tiga hari lagi, pada 22 Juni 2026,...

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk โ€” tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Danantara OTW Beli Chelsea?

SWF dunia kini berbondong-bondong masuk industri olahraga. Akankah Indonesia ikut bermain?

More Stories

Paspor Cepat Hanya Bisnis Imigrasi?

Permohonan paspor sehari jadi menuai respons negatif di jagat sosial media. Biaya yang dibutuhkan untuk mengakses pelayanan ini dinilai jauh lebih mahal ketimbang pelayanan...

Zelensky โ€œSulutโ€ Perang di Asia?

Dampak perang Ukraina-Rusia mulai menyulut ketegangan di kawasan Asia, terutama dalam aspek pertahanan. Mampukah perang Ukraina-Rusia  memicu konflik di Asia? PinterPolitik.com Perang Ukraina-Rusia tampaknya belum memunculkan...

Bakar Al-Quran, Bukti Kemunafikan Barat?

Aksi pembakaran Al-Quran menuai berbagai sorotan, terutama kaum muslim di dunia. Kendati demikian, pemerintah Swedia menganggap aksi tersebut sebagai bentuk kebebasan berekspresi, namun secara...