HomeNalar PolitikInvasi Ukraina Agenda Akhir Covid-19?

Invasi Ukraina Agenda Akhir Covid-19?

Kecil Besar

Terlepas dari perdebatan soal jumlah korban jiwa dan penderitaan yang dialami oleh warga Ukraina akibat invasi Rusia, banyak yang melihat fenomena perang ini sebagai bagian dari agenda pergantian isu. Pasalnya muncul dugaan perencanaan invasi oleh Rusia dilakukan secara tak matang. Presiden Vladimir Putin bahkan memecat 8 orang jenderal militernya akibat kegagalan “melaksanakan tugas”. Beberapa tangkapan video di Ukraina juga memperlihatkan bagaimana para tentara Rusia kekurangan logistik makanan dan bahan bakar. Pertanyaannya adalah benarkah invasi Ukraina ini memang ditujukan untuk mengganti agenda global dan mengembalikan tajuk sentralnya posisi negara setelah babak belur dihajar Covid-19?


PinterPolitik.com

“When the rich wage war, it’s the poor who die”.

::Jean-Paul Sartre::

Propaganda memang jadi bagian yang tak terpisahkan dari perang. Media Spanyol El Pais misalnya menyebut adanya perbedaan klaim korban jiwa antara yang dikeluarkan oleh pemerintah Ukraina, Rusia, dan yang dikeluarkan oleh UNHCR, menunjukkan adanya upaya membangun narasi atau propaganda. Sebagai catatan, klaim korban jiwa paling besar memang dikeluarkan oleh pemerintah Ukraina, sementara Rusia cenderung lebih sedikit, demikianpun data dari UNHCR.

Konteks angka dan data ini penting karena dunia saat ini ada dalam kondisi yang disebut sebagai hyper numerical world of quantification – sebutan untuk kondisi ketika besaran angka cenderung mempengaruhi cara pandang atau persepsi masyarakat. Dengan demikian, jelas bahwa besaran korban akan menentukan bagaimana masyarakat dunia melihat konflik yang terjadi di Ukraina ini.

Tidak heran banyak yang kemudian menilai bahwa invasi Rusia ke Ukraina ini sebetulnya punya tujuan dalam konteks pembentukan narasi, selain sekedar perang yang bertujuan benar-benar untuk menguasai wilayah negara. Pandangan ini tentu saja menarik mengingat isu global utama yang dibicarakan selama setidaknya 2 tahun terakhir adalah pandemi Covid-19.

Covid-19 memang mengetengahkan satu persoalan besar, yakni bahwa pemerintah negara-negara di dunia cukup rapuh berhadapan dengan isu kesehatan global. Ini bukan hanya terkait dengan masalah sistem kesehatan itu sendiri, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi.

Jika demikian, benarkah narasi besar invasi Rusia ke Ukraina sesungguhnya adalah bagian dari upaya untuk menggeser isu dari Covid-19 menuju ke isu perang yang punya relasi dengan posisi negara sebagai sentral power utama?

kurang persiapan atau tidak serius ed.

Perubahan Agenda

Menyebut bahwa perang di Ukraina sebagai bagian dari upaya menggeser agenda sebetulnya tidak berlebihan. Pasalnya, perang tersebut berhasil mengisi hampir semua ruang-ruang pemberitaan, sehingga sedikit banyak menggeser isu Covid-19.

Jika ditelusuri secara mendalam, Covid-19 memang melahirkan banyak narasi baru yang tidak sedikit mendorong perubahan atau reformasi dalam segala bidang kehidupan manusia. Salah satu yang mungkin banyak mengundang perhatian adalah ide tentang The Great Reset yang didorong oleh World Economic Forum, utamanya oleh sang pendiri, Klaus Schwab.

Baca juga :  Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Pemikiran tentang The Great Reset memang dituangkan dalam buku yang ditulis Schwab bersama Thierry Malleret dengan judul Covid-19: The Great Reset. Dalam bukunya ini, Schwab membahas bagaimana proses reset atau mengatur ulang aspek-aspek kehidupan manusia itu dilakukan mulai dari bidang pendidikan, kontrak sosial, kondisi pekerjaan, hingga pemanfaatan teknologi.

Schwab bahkan mengidealkan sebuah perubahan total dalam seluruh aspek kehidupan manusia, baik secara mikro maupun makro. Beberapa kebijakan yang didorong antara lain terkait pengaturan terhadap pasar agar menghasilkan outcomes atau hasil yang lebih adil. Pemerintah diharapkan mampu meningkatkan koordinasi dalam pembuatan kebijakan terkait pajak, kebijakan fiskal, subsidi, juga termasuk hak-hak kekayaan intelektual.

Kemudian akan ada juga stimulus ekonomi bagi masyarakat bawah, sehingga kondisi kesulitan yang terjadi pasca Covid-19 bisa diatasi dengan lebih baik. Lalu, ada juga poin terkait pemanfaatan teknologi yang muncul seiring revolusi industri 4.0.

Pemikiran Schwab ini bisa dibilang menjadi bagian dari upaya untuk mereformasi sistem kapitalisme yang sudah ada dan tengah berjalan. Namun, gagasan ini mendapatkan penolakan dari kelompok kanan konservatif. Mereka menganggapnya sebagai upaya yang cenderung Marxist dan kekiri-kirian.

Berbagai teori konspirasi yang berkembang juga menuduh bahwa pandemi ini menjadi jalan agar masyarakat semakin bisa dikontrol, utamanya oleh kelompok bisnis di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Nah, narasi kerapuhan negara dan pentingnya kapitalisme direvisi ini kemudian digeser oleh perang. Kebalikan dari Covid-19, invasi Rusia ke Ukraina justru mengembalikan sentral kekuatan politik utama kepada negara. Negara seolah kembali ke posisi tradisionalnya sebagai satu-satunya entitas berdaulat yang menentukan segala sesuatu.

Konteks perubahan narasi ini penting, mengingat opini publik punya efek yang ikut mempengaruhi pengambilan kebijakan negara. Jerman misalnya, yang setelah Perang Dunia II dikenal sebagai negara yang cenderung ada di posisi pacifist atau menghindari konflik, kini mulai melihat pentingnya anggaran pertahanan ditingkatkan.

Kanselir Jerman Olaf Scholz telah meluncurkan komitmen peningkatan anggaran pertahanan hingga 2 kali lipat pasca invasi Rusia ke Ukraina. Bahkan, setiap tahunnya kenaikan anggarannya akan mencapai 2 persen terhadap keseluruhan Gross Domestic Product (GDP) Jerman. Hal ini diprediksi akan terjadi pula pada negara-negara yang lain.

Fenomena ini jelas menunjukkan perubahan arah kebijakan negara yang signifikan. Dalam kondisi Covid-19 dan tak ada perang, peningkatan anggaran pertahanan tentu saja akan dianggap sebagai kebijakan yang tidak produktif.

Baca juga :  Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Apalagi, globalisasi dan saling ketergantungan ekonomi internasional telah menciptakan iklim hubungan internasional yang cenderung kondusif dan dipenuhi kerja sama. Namun, hal tersebut kini dilihat secara berbeda seiring munculnya ketakutan perang bisa merembet ke belahan bumi lain.

rusia kuasai inggris

We Are Flies to Wanton Boys

Perubahan narasi yang mempengaruhi perilaku negara dan keseluruhan kondisi internasional ini sebetulnya sesuai dengan intisari pemikiran tentang opini publik atau public opinion. Walter Lippmann dalam bukunya Public Opinion menyebutkan bahwa agenda politik yang dibentuk lewat pemberitaan media sering melahirkan apa yang disebut complex reality atau realitas kompleks yang punya tujuan atau ujung tertentu.

Setiap narasi yang ditampilkan pada akhirnya memang berujung pada kepentingan tertentu, baik yang digariskan oleh aktor personal tertentu, maupun sekelompok orang tertentu. Pada titik ini, walaupun kemudian jadi terkesan konspiratif, bisa dipastikan bahwa setiap agenda yang ditampilkan punya tujuan akhir tertentu dan menjadi pembuktian bahwa benturan kepentingan antara orang-orang berkuasa bisa saja terjadi.

Ini juga menjadi pembuktian isu tentang ketimpangan – baik dalam konteks sosial-ekonomi maupun dalam hal informasi dan kepentingan – antara kelompok orang berkuasa tertentu dengan masyarakat menengah ke bawah pada umumnya.

Ibaratnya seperti yang ditulis oleh William Shakespeare dalam karyanya King Lear ketika mengibaratkan kekuasaan dan ketidakberdayaan seperti perbandingan antara dewa-dewa dengan lalat. Demikian Shakespeare menulis: “As flies to wanton boys are we to the gods. The kill us for their sport”.

Kata-kata ini pernah dipakai oleh legenda sepak bola asal Prancis yang pernah memperkuat Manchester United, Eric Cantona, ketika menyampaikan sambutannya dalam salah satu acara pemberian penghargaan. Cantona mengkritik kapitalisme ekonomi yang telah masuk ke sepak bola dan mengontrol aspek permainan tersebut.

Dalam sudut pandang yang berbeda, mungkin apa yang disebut oleh Cantona ini bisa digunakan juga untuk melihat berbagai agenda yang ada dalam Covid-19 maupun dalam invasi yang dilakukan Rusia atas Ukraina. Bagaimanapun juga, tidak ada hal yang kebetulan terjadi di dunia ini.

Yang jelas, seperti kata Jean-Paul Sartre di awal tulisan ini, perang yang dimulai oleh sekelompok orang kaya dan berkuasa hanya akan membawa penderitaan bagi masyarakat kelas bawah. Oleh karena itu, sudah selayaknya perang tidak pernah dipertimbangkan untuk terjadi lagi. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Supremasi Putih Rasialisme Argentina

Piala Dunia 2026 mengungkap pola berulang. FIFA menyelidiki dugaan pelecehan rasis terhadap YouTuber IShowSpeed oleh fans Argentina di Miami. Fans Argentina juga melempar bir ke pendukung Mesir dan mengibarkan bendera Israel ke pelatih Hassan yang pro-Palestina. Bahkan sesama negara Amerika Latin, dari Meksiko hingga Brasil, kerap mencap Argentina “sok Eropa” dan terkesan membenci tetangganya sendiri.

“Berkah” Adu Mekanik Penegak Hukum?

Dua institusi hukum saling bongkar kelemahan di depan publik — ternyata, sejak zaman Romawi, kegaduhan semacam ini justru menjadi tanda sistem sedang bekerja.

Pramono Main “Presiden-presidenan”?

Sejumlah kebijakan Gubernur Pramono Anung tampak pantulkan program pemerintah pusat. Kebetulan teknokratis atau ada logika yang sengaja dipasang? 

Sarat Makna Kavaleri Kuda Istana

Bukan sekadar pengawal tamu negara. Di balik 120 kavaleri kuda yang mengiringi Narendra Modi menuju Istana Negara Jakarta, tersimpan pesan tentang diplomasi, kekuasaan, dan martabat negara. Mengapa kuda masih relevan di era digital? Karena dalam politik modern, simbol sering kali berbicara lebih keras daripada kebijakan.

Cermin Retak di Zaman Pelangi?

Perpres 111/2025 memasukkan penyebaran budaya LGBTQ+ sebagai ancaman nonmiliter. Namun, mengapa nasibnya bisa beda dari komunis dan Tionghoa dulu?

Tito dan Sengkarut OTT

Sembilan kepala daerah terjaring KPK dalam enam bulan. Semua mata mengarah ke Tito sebagai Mendagri, terutama mata para anggota DPR. Lalu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh orang yang paling dekat dengan masalah ini?

Tapir Mesuji Hidup di Hati Rakyat

Satu ekor tapir yang tewas di Mesuji membongkar jarak lama antara kepedulian kota dan kenyataan hidup di pinggir hutan — dan pola yang sama ternyata terjadi di banyak negara lain.

Singapura dan ‘Benalu’ Complex

Prabowo jamu PM Lawrence Wong dalam Leaders' Retreat pada 6 Juli 2026. Namun, benarkah Singapura selama ini hidup dari getah tetangganya?

More Stories

Supremasi Putih Rasialisme Argentina

Piala Dunia 2026 mengungkap pola berulang. FIFA menyelidiki dugaan pelecehan rasis terhadap YouTuber IShowSpeed oleh fans Argentina di Miami. Fans Argentina juga melempar bir ke pendukung Mesir dan mengibarkan bendera Israel ke pelatih Hassan yang pro-Palestina. Bahkan sesama negara Amerika Latin, dari Meksiko hingga Brasil, kerap mencap Argentina “sok Eropa” dan terkesan membenci tetangganya sendiri.

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.