HomeNalar PolitikGanjar Hanya Umpan PDIP?

Ganjar Hanya Umpan PDIP?

Diumumkannya Ganjar Pranowo sebagai capres PDIP membuat partai banteng menjadi magnet politik. Apakah pencapresan Ganjar adalah keputusan final Megawati atau hanya umpan untuk melihat reaksi partai politik lain?


PinterPolitik.com

“If you can capture the element of surprise, you’re way ahead of the game.” — Jay Maisel

Ada tiga alasan bagus untuk mengatakan pengumuman Ganjar Pranowo sebagai capres PDIP sangat mengejutkan. Pertama, itu dilakukan pada 21 April, sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri versi pemerintah. Kedua, PDIP seolah keluar dari kebiasaannya untuk mengumumkan capres di akhir waktu.

Ketiga, awalnya banyak yang mengira pengumuman dilakukan pada bulan Juni 2023, bulan kelahiran Soekarno. Ini juga pernah diungkap oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

“Pak Jokowi dulu diumumkan Bu Mega pada bulan Maret 2014. Pemilunya (2014) pada bulan Juni. Kalau kita pakai analogi, ya kira-kira Juni tahun depan. Pas bulan Bung Karno,” ungkap Hasto pada 10 Oktober 2022.

Kembali mengutip Hasto, pengumuman Ganjar sebagai capres PDIP memang didesain memberi efek kejutan. “Memang kami diperintah bahkan diambil sumpah sama Bu Mega agar rencana tersebut tidak bocor karena memang dalam desain komunikasi itu ada element of surprise,” ungkapnya pada 24 April 2023.

ganjar mengubah permainan

Gelombang Efek Kejutan

Seperti kata Hasto, pengumuman itu memang merujuk pada teori komunikasi politik. Secara khusus, itu dapat dirujuk pada guerrilla marketing atau pemasaran gerilya, yang memiliki ciri khas menggunakan kejutan (element of surprise) dalam strategi komunikasinya.

Mengutip tulisan Adam Hayes yang berjudul What Is Guerrilla Marketing? Definition, Examples, and History, pemasaran gerilya dapat pula disebut pemasaran viral berbiaya murah. Konten promosi dibuat mengejutkan, sensasional, atau semenarik mungkin agar tersebar dari mulut ke mulut, sehingga menjangkau audiens yang lebih luas secara gratis.

Ada tiga alasan kunci untuk mengatakan PDIP menerapkan pemasaran gerilya. Pertama, tentu saja, itu mengejutkan. Kedua, itu adalah pemasaran berbiaya murah. PDIP tidak melakukannya dengan membuat iklan besar-besaran di televisi atau media massa.

Ketiga, ini yang terpenting, PDIP melakukannya di momen yang sangat tepat. Pengumuman dilakukan pada 21 April, tepat pada perayaan Hari Raya Idul Fitri versi Muhammadiyah, dan sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri versi pemerintah.

Baca juga :  Israel Kalah di Medsos, Kesalahan Mossad? 

Artinya apa? Timing pengumuman dan H+1 pengumuman adalah momen berkumpulnya masyarakat. Mereka yang tertarik dengan isu politik pasti membahas pengumuman itu. Paling minimal muncul awareness bahwa Ganjar telah menjadi capres PDIP.

Dan terbukti, pengumuman itu menaikkan drastis elektabilitas Ganjar. Berdasarkan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 25-28 April 2023, elektabilitas Ganjar naik sebesar 7 persen.

“Ganjar mengalami kenaikan signifikan dari 13 persen pada 4-7 April 2023, setelah keputusan FIFA yang membatalkan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U20. Dan menjadi 20,8 persen pada 25-28 April 2023 baru setelah keputusan PDIP mencalonkan Ganjar,” ungkap Direktur Riset SMRC Deni Irvani pada 29 April 2023.

Ganjar Capres, Marketing sakti megawati

Cipta Kondisi PDIP

Dalam konteks politik realis, apa yang dilakukan PDIP sebenarnya adalah khas perilaku pemerintah petahana. Ini adalah praktik cipta kondisi.

Charles T. McClean dalam penelitiannya The Element of Surprise: Election Timing and Opposition Preparedness, menyebutkan bahwa pemerintah petahana mendapatkan keuntungan karena mereka dapat mengendalikan “waktu pemilu”. Petahana dapat mengeksploitasi kurangnya kesiapan pemilu pihak oposisi dengan memberikan kejutan (element of surprise).

Dalam artikel PinterPolitik yang berjudul Megawati Kunci Balik Prabowo?, telah dijabarkan bahwa pengumuman Ganjar merupakan cipta kondisi PDIP.

Itu untuk mencegah terbentuknya Koalisi Besar yang diprediksi mengusung Prabowo Subianto sebagai capres. Sebelum “pihak oposisi” mengunci PDIP, partai banteng memberi kejutan dengan mengumumkan nama capresnya.

Mengutip buku Marketing 5.0: Teknologi untuk Kemanusiaan karya Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan, strategi itu disebut dengan “aksi provokatif untuk mengantisipasi permintaan pasar”. Alih-alih menunggu pergerakan pasar yang tak terduga, lebih baik bertindak provokatif dengan menentukan arah arus pasar.

Seperti kata Hasto Kristiyanto, pengumuman Ganjar sebagai capres memang menggerakkan bandul politik. “Bahwa bandul politik itu akan bergerak usai Ibu Megawati Soekarnoputri mengumumkan calon presiden,” ungkapnya pada 24 April 2023.

Kejutan Taktis PDIP?

Namun, di sini masih ada tanda tanya yang tersisa. Apakah pengumuman Ganjar sebagai capres merupakan “kejutan strategis” atau “kejutan taktis”?

Menurut peneliti senior Surabaya Consulting Group (SCG) Arif Budi Santoso, memang benar bandul politik bergerak pasca pengumuman Ganjar. Akan tetapi, bandul politik itu bergerak secara tak karuan.

Baca juga :  Pertarungan Mega-Jokowi Lanjut, Anies Dipasang? 

“Pencalonan Ganjar menjadi game changer. Bandul politik berubah tak karuan sejak Ganjar resmi dicalonkan dan tentu ini mengubah skenario-skenario,” ungkap Arif pada 3 Mei 2023.

Dave Baiocchi dan D. Steven Fox dalam tulisan The Elements of Surprise: How Professionals Prepare for and Respond to Unexpected Events, menjelaskan bahwa respons terhadap kejutan dikategorikan berdasarkan dua faktor utama: yakni jumlah waktu yang tersedia untuk merespons (the amount of time available to respond) dan tingkat kekacauan di lingkungan (the level of chaos in the environment).

kib fiks bubar

Mengutip Baiocchi dan Fox, mungkinkah PDIP mengincar kekacauan (chaos) politik akibat pengumuman Ganjar?

Jika pengumuman Ganjar adalah kejutan strategis, maka itu dimaksudkan untuk menjadikan PDIP sebagai dalang koalisi. Ini adalah operasi politik untuk menempatkan PDIP sebagai partai primadona.

Namun, jika hanya mengincar chaos alias merupakan kejutan taktis, pengumuman Ganjar adalah cara untuk melihat reaksi partai politik lainnya, dan pasar politik secara umum. Salah satunya mungkin untuk mengafirmasi tingginya elektabilitas Ganjar selama ini.

Apabila elektabilitas itu nyata adanya, berbagai partai politik pasti ikut mendeklarasikan Ganjar. Dan tampaknya terbukti, Partai Hanura dan PPP sudah mendeklarasikan Ganjar. PAN juga dikabarkan akan melakukannya dalam waktu dekat.

Well, jika hipotesis PDIP tengah melakukan “kejutan taktis” tepat, mengutip Hugh Patterson dalam tulisannya The Politics of Chess, PDIP tampaknya tengah memainkan pertempuran-pertempuran kecil.

Menurut Patterson, politik sama halnya dengan catur, yakni kemenangan dalam pertempuran pada dasarnya adalah akumulasi dari kemenangan atas pertempuran-pertempuran kecil. Dalam catur, pertempuran kecil ini disebut dengan tactical plays.

Mungkin dapat dikatakan bahwa PDIP tengah mengumpulkan poin-poin kemenangan dalam tactical plays. PDIP tengah bertarung soal daya tarik capres, daya tarik sebagai rekan koalisi, hingga daya tarik relawan dan simpati publik.

Jika sederet pertempuran kecil itu dimenangkan, Pilpres 2024 mungkin akan kembali dimenangkan oleh partai banteng. Kita lihat saja, apakah PDIP yang melakukan skakmat, atau justru mereka yang di-skakmat. (R53)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Mengapa Kaesang Ngebet ke Anies?

Meski Anies Baswedan tampak menghindar dari wacana dipasangkan dengan Kaesang, putra bungsu Jokowi itu tampak tetap tertarik. Mengapa?

Mengapa Islamophobia Tinggi di Eropa?

Islamophobia menjadi horor yang terus menghantui Benua Eropa. Mengapa kebencian ini bisa terus ada?

Mungkinkah PDIP Jerumuskan Anies di Jakarta?

Sinyal dukungan PDIP kepada Anies Baswedan untuk berlaga di Pilkada Jakarta 2024 terus menguat. Namun, selain dinilai karena kepentingan pragmatis dan irisan kepentingan sementara belaka, terdapat interpretasi lain yang kiranya wajib diwaspadai oleh Anies dan entitas yang benar-benar mendukungnya.

Anies, Petarung Pilihan Mega Lawan Jokowi? 

Anies Baswedan sepertinya jatuh dalam bidikan PDIP untuk menjadi Cagub dalam Pilgub Jakarta. Mungkinkah Anies jadi pilihan yang tepat? 

Ahmad Luthfi, Perang Psikologis PDIP di Jateng?

Meski masih aktif, relevansi Kapolda Jateng Irjen Pol. Ahmad Luthfi untuk menjadi calon gubernur Jawa Tengah terus meningkat setelah PAN sepakat mengusungnya. Aktor politik alternatif tampaknya memang sedang mendapat angin untuk merebut Jawa Tengah di ajang non-legislatif dari PDIP dengan operasi politik tertentu. Benarkah demikian?

Bahaya IKN Mengintai Prabowo?

Realisasi investasi di proyek IKN hanya menyentuh angka Rp47,5 triliun dari target Rp100 triliun yang ditetapkan pemerintah.

Saatnya Sandiaga Comeback ke DKI?

Nama Sandiaga Uno kembali muncul dalam bursa Pilkada DKI Jakarta 2024. Diusulkan oleh PAN, apakah ini saatnya Sandiaga comeback ke DKI?

Israel Kalah di Medsos, Kesalahan Mossad? 

Di media sosial, gerakan pro-Palestina secara statistik lebih masif dibanding pro-Israel. Padahal, Israel sering disebut sebagai ahli memainkan narasi di dunia maya. Mengapa ini bisa terjadi? 

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...