HomeHeadlineElon Musk: The New "Bill Gates"?

Elon Musk: The New “Bill Gates”?

Kecil Besar

CEO Tesla Motors dan SpaceX, Elon Musk, sempat membuat heboh jagat maya dengan keputusannya untuk membeli platform media sosial (medsos) Twitter. Dengan popularitas dan pengaruhnya, apakah Musk bisa menjadi semacam “Bill Gates” baru?


PinterPolitik.com

“Straight boss, my pheromones secrete Elon Musk” – Royce da 5’9″, “Young World” (2020)

Rowan Atkinson bisa dibilang merupakan salah satu aktor yang memiliki pengalaman panjang. Aktor asal Britania Raya (Inggris) ini memang paling dikenal dengan perannya sebagai Mr. Bean.

Namun, siapa sangka apabila Atkinson juga bisa berperan sebagai agen mata-mata. Dengan karakter Johnny English, Atkinson membalut peran laganya dengan sejumlah elemen komedi layaknya Mr. Bean.

Salah satu film terbaru dari karakter yang dimainkan Atkinson ini adalah Johnny English Strikes Again (2018). Di film ini, English yang sebelumnya sudah pension akhirnya kembali sebagai agen mata-mata untuk MI7.

Namun, kali ini, musuh yang dihadapi English bukanlah institusi mata-mata asing layaknya era Perang Dingin. Kali ini, persoalan yang dihadapi English merupakan serangan-serangan siber.

Ada salah satu karakter unik lain yang juga turut mengisi cerita dalam film tersebut. Tokoh itu adalah seorang miliarder perusahaan teknologi – biasa disebut sebagai big tech – yang memiliki koneksi luas sampai ke para pengambil keputusan di banyak negara. Namanya adalah Jason Volta.

Mungkin, kisah English di film ini kurang lebih mampu menggambarkan bagaimana politik – termasuk politik internasional – di dunia nyata kini banyak dipengaruhi oleh para big techs. Tidak jarang, diskursus yang ada di platform media sosial (medsos) sangat berpengaruh besar pada dinamika politik yang ada.

Contoh yang paling kentara mungkin adalah ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terpilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) AS pada tahun 2016 silam. Peristiwa kala itu bisa dibilang mengejutkan banyak pihak di berbagai belahan dunia.

Trump sendiri dikenal sebagai presiden yang kerap menggunakan Twitter untuk berkomunikasi dengan para pendukungnya. Bahkan, Presiden AS ke-45 tersebut juga mengeluarkan pernyataan-pernyataan diplomatic melalui akunnya.

Kini, Twitter kembali digemparkan oleh kabar yang datang dari sosok lain. Adalah Elon Musk – yang mana merupakan CEO dari Tesla Motors dan SpaceX – yang memutuskan untuk membeli penuh kepemilikan Twitter.

Kabarnya, Musk mengeluhkan soal pembatasan terhadap kebebasan berpendapat dalam platform medsos tersebut. Di sisi lain, Musk juga menjadi salah satu bos big tech yang aktif berkicau di Twitter – bahkan sampai mempengaruhi harga-harga mata uang kripto.

Jokowi Elon Musk Bertemu Meet-up

Namun, bukan tidak mungkin, kepemilikan Musk terhadap Twitter ini bisa berimplikasi lebih jauh secara sosial dan politik. Berbagai dugaan kepentingan politik pun mencuat.

Alhasil, sejumlah pertanyaan pun muncul. Mengapa akhirnya Musk memutuskan untuk membeli Twitter secara penuh? Lantas, mengapa nama “Elon Musk” ini bisa memiliki arti lebih dari sekadar nama di masa mendatang?

Elon Musk dan Kuasa Jaringan

Tidak dapat dipungkiri bahwa Elon Musk merupakan miliarder yang berbeda dengan miliarder-miliarder besar ala AS lainnya. Musk sendiri kini disebut sebagai orang terkaya di dunia menurut majalah Forbes – melampaui kekayaan Jeff Bezos yang selama empat tahun sebelumnya dinobatkan sebagai orang terkaya.

Baca juga :  Fathimah Azzahra dan Warisan STOVIA

Apa yang sebenarnya membedakan Musk dengan Bezos yang merupakan bos Amazon? Bisa dibilang, Musk jauh lebih unggul terkait pengaruhnya di platform medsos, khususnya Twitter.

Miguel Corte dalam tulisannya yang berjudul How Social Media Usage by Managers Affects Corporate Value: The Case of Elon Musk menjelaskan bahwa medsos kini menjadi referensi yang turut mempengaruhi nilai perdagangan saham. Tidak mengherankan apabila akhirnya para investor memperhatikan unggahan para pemilik bisnis layaknya Musk.

Unggahan-unggahan Musk di Twitter, misalnya, dianggap mengandung informasi yang dapat diandalkan oleh para investor. Corte pun menyebutkan bahwa sebesar 50,32 persen dari kicauan Musk mengandung informasi dan sentimen yang membantu pergerakan saham perusahaannya, yakni Tesla.

Mungkin, inilah mengapa berbagai kicauan Musk juga turut mempengaruhi pasar lainnya, seperti mata uang kripto. Twitter sendiri, mengacu pada Corte, merupakan platform medsos yang krusial untuk analisis pasar finansial.

Pengaruh yang dimiliki oleh Musk melalui berbagai platform medsos yang dimilikinya – khususnya Twitter – mungkin bisa dijelaskan dengan tulisan Manuel Castells yang berjudul A Network Theory of Power. Castells berusaha menjelaskan bagaimana power (kekuatan) terdistribusikan dan berjalan di jejaring (network) teknologi informasi.

Ada sejumlah jenis power yang disebutkan oleh Castells. Salah satunya adalah networked power – yang merupakan kekuatan yang dimiliki oleh seorang aktor sosial terhadap aktor-aktor sosial lainnya yang eksis dalam jaringan tersebut.

Elon Musk Kuasai Twitter

Bukan tidak mungkin, power inilah yang dimiliki Musk dengan berbagai cuitannya. Berbeda dengan Bezos, Musk juga dikenal dengan berbagai kicauannya yang kontroversial – berujung pada publisitas yang lebih besar.

Namun, dengan membeli Twitter sepenuhnya, bukan tidak mungkin Musk akan mendapatkan power lain yang disebutkan oleh Castells, yakni network-making power. Power satu ini membuat pemiliknya mampu menjalankan programming dan switching terhadap jaringan yang ada – sehingga bisa mengubah jaringan sesuai kepentingannya.

Lantas, apa konsekuensi lebih lanjut dari semakin besarnya kepemilikan bisnis Musk terhadap dinamika politik? Mungkinkah Musk akan menjadi orang terkuat di dunia pada masa mendatang?

Elon Musk, “Bill Gates” Baru?

Terdapat persamaan yang mendasar di antara berbagai miliarder seperti Musk. Musk, Bill Gates, Steve Jobs, hingga Bezos memiliki bisnis yang berkecimpung di bidang teknologi – suatu aspek kehidupan yang memiliki dampak besar bagi kehidupan umat manusia di masa kini hingga masa depan.

Bukan rahasia lagi apabila penguasaan teknologi menjadi alasan di balik jatuh dan bangkitnya peradaban sepanjang sejarah umat manusia. Umumnya, negara-negara yang menjadi dominan merupakan negara yang mampu menguasai teknologi paling mutakhir.

Setidaknya, Daniel R. McCarthy dalam bukunya yang berjudul Technology and World Politics menjelaskan bahwa teknologi mampu mengubah lanskap dari masyarakat dunia. Persaingan teknologi antara AS dan Uni Soviet kala Perang Dingin, misalnya, mengantarkan dunia kepada teknologi-teknologi penjelajahan antariksa hingga masa kini.

Baca juga :  Menyikap Tubir Milbus

Bukan tidak mungkin, siapa yang menguasai teknologi paling canggih adalah pemenangnya. Dalam hal ini, siapa yang kemudian mampu menguasai teknologi paling canggih di dunia saat ini?

Menariknya, seiring dengan perkembangan zaman, negara pun memiliki peran yang semakin tergeser oleh berbagai aktor non-negara – mulai dari perusahaan multi- dan transnasional hingga individu-individu berpengaruh. Bahkan, muncul juga individu-individu yang mampu menguasai perusahaan teknologi besar dunia.

Samah Abdelsabour Abdelhaey dalam tulisannya yang berjudul Bringing the Individual Back In menjelaskan bahwa individu-individu big tech seperti Mark Zuckerberg (CEO Meta) memiliki kekuatan yang bisa mengkonfrontasi negara. Dengan pengaruhnya, individu-individu ini mampu mempengaruhi struktur finansial dan regulasi negara.

Elon Musk vs Vladimir Putin

Belum lagi, dengan genggaman teknologi termutakhir, pengaruh mereka pun menjadi semakin kuat. Pendiri Microsoft, Bill Gates, misalnya, menjadi salah satu individu yang paling berpengaruh dengan penguasaan teknologi komputer personal (PC) yang dikuasainya – disebut sebagai revolusi komputer personal dengan ditemukannya teknologi seperti mikroprosesor setelah tahun 1970-an.

Gates sendiri mampu mengembangkan teknologi tersebut dengan bantuan para investor dan pendidikannya. Tidak dapat dipungkiri, Gates juga terbantu oleh orang tuanya yang memiliki kekayaan yang terbilang besar.

Lantas, bagaimana dengan Elon Musk? Mungkinkah Musk bisa menjadi “Bill Gates” baru yang berpengaruh di tataran dunia?

Musk sendiri memulai bisnisnya ketika masih berusia sekitar 20 tahun. Pada tahun 1995, Musk membuka sebuah bisnis direktori daring yang bernama Zip2 bersama saudaranya. Selain itu, Musk juga memulai bisnis pembayaran daring pertama yang dinamakan X.com (kemudian berubah menjadi PayPal).

Ada satu sosok yang disebut terlibat dalam pendirian berbagai bisnis awal Musk ini, yakni Greg Kouri yang merupakan pebisnis real estate sekaligus teman dari orang tua Musk. Tidak hanya Zip2 dan PayPal, mendiang Kouri juga menjadi investor di Tesla dan SpaceX.

Dari permulaan bisnis inilah, Musk akhirnya mampu menguasai bisnis-bisnis teknologi yang menjadi penentu masa depan. Bagaimana tidak? Tesla merupakan salah satu perusahaan pioneer teknologi kendaraan listrik – hal yang disebut bakal menentukan masa depan manusia.

Tidak hanya itu, Musk juga mendirikan SpaceX yang membuat eksplorasi antariksa menjadi lebih murah bagi pemerintah AS. Antariksa sendiri merupakan ruang yang disebut-sebut bakal menjadi masa depan dunia.

Siapa tahu, layaknya Gates dengan revolusi komputer personalnya, Musk menjadi penentu global baru? Bahkan, bisa dibilang, Musk kini mampu meneruskan kepentingannya ke berbagai negara – mulai dari Tiongkok di mana Musk menjadi “kawan” bisnis besar hingga Indonesia di mana investasinya di industri nikel dinanti-nantikan oleh pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Mungkin, alasan-alasan penguasaan teknologi inilah yang membuat Musk berbeda dengan para miliarder AS lainnya seperti Bezos dan Warren Buffett. Mungkinkah Musk akan menjadi superpower baru di masa depan? Menarik untuk diamati kelanjutannya. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?