Cross BorderBukan Tiongkok, India Adikuasa Selanjutnya?

Bukan Tiongkok, India Adikuasa Selanjutnya?

Jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi di India diprediksi mampu saingi China.
Apakah India akan menjadi negara super power selanjutnya?


PinterPolitik.com
Populasi di India diprediksi akan menggeser posisi China sebagai negara paling padat di dunia. Hal ini diungkapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).


Saat ini populasi China sebesar 1,43 miliar, sedangkan India sebesar 1,37 miliar orang atau setara dengan 38 persen dari populasi dunia. Namun, pada tahun 2023 PBB menyebut populasi India akan menyusul China dengan jumlah 1,428 miliar, sementara di tahun yang sama China disebut akan berpopulasi 1,425 miliar.


PBB juga menyebut bahwa China saat ini justru menjadi salah satu negara yang memiliki tingkat kesuburan terendah di dunia yaitu 1,15 anak per wanita. Pemerintah China bahkan memberi pengumuman kepada masyarakatnya bahwa mulai tahun depan populasi di sana akan menurun.


Saat ini pemilik gelar negara terpadat dipegang oleh China, India, dan Amerika Serikat. Dua diantaranya merupakan negara yang memiliki pengaruh besar di dunia yaitu China dan Amerika Serikat. Mereka juga seringkali disebut sebagai negara super power atau adidaya yaitu negara yang memiliki kemampuan yang luas untuk memberikan pengaruh dalam skala internasional. Akan tetapi, perbincangan tentang India yang kemungkinan akan jadi the next superpower justru lebih jarang dibicarakan, padahal populasi yang besar dapat menjadi penentu kuatnya suatu negara.


Dengan demikian, apakah negara yang terkenal padat akan penduduk itu akan menjadi negara super power?

India Bisa Samakan China?

Sebelum kita membandingkan potensi kekuatan India dan Tiongkok sebagai sesama potensi superpower, perbandingan antara dua negara akan menggunakan konsep perbandingan administrasi negara.


Definisi mengenai perbandingan administrasi negara dikemukakan Anggara (2012) bahwa hal itu merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam ilmu administrasi negara untuk menganalisis perbandingan fungsi administrasi negara. Perbandingan tersebut dituliskan dalam bentuk kelebihan dan kekurangan sehingga keduanya dapat saling mempelajari dan memperbaiki kelemahan yang mereka miliki.

Pendekatan yang dapat dicakup dalam ilmu perbandingan negara yaitu dari segi politis dan perilaku (behavior approach).


Nah, kembali ke perbincangan tentang potensi superpower, menurut ‘World Population Review 2021′, negara terkuat di dunia saat ini memang adalah Amerika Serikat. Namun, untuk menakar potensi kekuatan negara lain, survei tersebut juga menyebutkan lima kriteria yang menentukan kekuatan negara yakni aliansi internasional dan militer, pengaruh politik dan ekonomi, dan keterampilan kepemimpinan.


Pada salah satu dari kelima kriteria tersebut yaitu aliansi internasional dan militer. China bisa dikatakan belum memiliki pengaruh militer secara global, meskipun negara tersebut memiliki teknologi dan personel militer yang kuat sebagai negara terkuat kedua di dunia.


Hal ini menjadi aspek yang penting untuk menjadikan suatu negara yang hegemon. Mereka perlu memiliki jaminan keamanan terhadap geopolitiknya. Tentunya hal ini penting untuk mempertahankan jalur dagang.


Di samping itu, India justru terlibat dalam sejumlah aliansi besar dengan rival atau musuh terbesar China, yaitu Amerika Serikat, contohnya adalah Dialog Keamanan Kuadrilateral (QUAD). Hal ini membuat India mendapatkan keunggulan sebagai negara yang mampu untuk melawan kebangkitan China, bukan hanya dari aspek militer tetapi juga aspek politik dan ekonomi. India kini bahkan dianggap sebagai negara sekutu Amerika Serikat terkuat di Asia
Pasifik.

Baca juga :  Kopral vs Kolonel, PDIP Militerisasi 2024?


Ada beberapa alasan kenapa Amerika Serikat memilih India sebagai salah satu sekutu terdekatnya di Asia Pasifik. Pertama, karena letak India yang sangat yang dekat dengan China. Urgensi bagi Amerika Serikat untuk bekerja sama dengan India yaitu adanya akses langsung untuk memantau sekaligus menciptakan sekutu kuat yang dapat menghadang bangkitnya kekuatan China.


Besarnya kekuatan militer India pun mampu pengaruhi Amerika Serikat untuk membantu negara tersebut dalam menyelesaikan konflik dengan negara saudaranya, misalnya konflik Kashmir antara India dan Pakistan. Amerika Serikat juga memberikan bantuan ekonomi yang terbilang besar yaitu mencapai USD 65,1 miliar pada tahun 1946-2012. Ini lah yang membuat India mendapat julukan sebagai salah satu negara top recipient Amerika Serikat.


Kekuatan militer India menjadi kuat dan besar pasca masa perang dingin berlalu. Anggota personel militer India berjumlah hampir 1,5 juta serta dilengkapi dengan peralatan modern dengan industri pendukung.


Anggaran militer India pun terbilang besar dan masuk menjadi anggaran terbesar nomor dua setelah China di kawasan Asia dan nomor 4 di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, dan China.

Berdasarkan hubungan yang kuat antara India dan Amerika Serikat, India mampu mendapatkan jaminan di bidang militer dari Amerika Serikat selaku musuh besar China. Hal ini mampu membuat kekuatan militer India berpotensi menjadi lebih kuat dan besar dari China. Tentunya hal ini dapat berdampak pada perekonomian India yang terjamin bukan hanya dari segi bantuan ekonomi dari Amerika Serikat, tetapi juga dari aspek pertahanan jalur dagangnya.


Kekuatan militer India juga dilengkapi dengan kerja sama pada bidang nuklir dengan Amerika Serikat. Aliansi India-AS pernah meluncurkan program nuklir yang biasa dikenal dengan U.S-India nuclear deal. Sementara itu, China akan selalu berpotensi dapat kecaman kembangkan kekuatan militernya karena menjadi rival Amerika Serikat.


Dari aspek ekonomi,pertumbuhan ekonomi India dari segi Produk Domestik Bruto (PDB) juga menunjukkan angka yang fantastis, yaitu 13,5% year-on-year (yoy) pada kuartal II tahun 2022.


Dengan performa seperti itu, organisasi International Monetary Fund (IMF) memprediksi pertumbuhan India akan menjadi kekuatan ekonomi global dengan pertumbuhan tercepat di dunia selama dua tahun berturut-turut. Ini bahkan melampaui dua kali lipatnya tingkat
pertumbuhan ekonomi di China.


Di samping itu, pertumbuhan ekonomi China hanya tumbuh sebesar 0,4 persen dengan perbandingan kuartal yang sama. Ini merupakan kinerja terburuk China selama dua tahun terakhir. Angka ini meleset jauh dari yang diperkirakan para ekonom yaitu 1 persen.


Tapi tentu, potensi militer dan ekonomi India saja tidak cukup untuk argumentasikan bahwa mereka bisa salip China. Lantas, apa hal lain yang bisa mendukung keunggulan India?

Diaspora India Kalahkan China

Pada aspek perilaku (behavior approach) India dinilai sebagai warga yang ramah dan pekerja keras. Orang India dikenal sebagai ahli di bidang teknologi. Mereka seringkali dituntut oleh dua pilihan karir yaitu sebagai dokter atau insinyur. Tak jarang orang India yang memiliki profesi sebagai profesor di Amerika Serikat.

Baca juga :  Bjorka, Rusia, dan Era Tech-Dystopia


Persebaran masyarakat India juga merupakan yang terbesar di dunia. Menurut laporan ‘International Migration 2020 Highlights‘ yang dipublikasikan oleh Divisi Populasi UN Department of Economic and Social Affairs (UN DESA), penduduk India tersebar di negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, dan Arab Saudi.


Diaspora India berjumlah 18 juta. Di samping itu, negara lainnya yang memiliki paling banyak diaspora yaitu Mexico dan Rusia (masing-masing 11 juta), China (10 juta), dan Suriah (8 juta). Angka ini menunjukkan adanya perbedaan yang besar antara diaspora India dan China. Angka tersebut memiliki selisih sebesar 8 juta.

China sendiri memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa universal. India sendiri umumnya mahir dalam berbahasa Inggris sehingga mudah untuk bergaul dengan global.


India juga dikenal dengan warna kulitnya. Hal ini dapat menjadikan India sebagai warga yang merepresentasikan ras di suatu kelompok. Ini dapat menjadi kekuatan bagi India.


Selain itu, ada satu hal lagi yang dapat menjelaskan bahwa India kemungkinan besar akan memiliki jalan yang mulus untuk menjadi negara besar selanjutnya, setelah AS. Apakah itu?

Perangkap Thucydides, India Gantikan China?

Dalam kajian persaingan negara besar dalam sejarah, ada satu perangkap yang kini menjadi rujukan utama banyak orang dalam membaca persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok. Perangkap itu adalah Thucydides Trap.


Istilah Thucydides Trap yang dipopulerkan oleh Graham T. Allison merupakan istilah yang tepat untuk merepresentasikan ancaman China sebagai rival atau musuh Amerika serikat. Allison melihat bahwa suatu konflik besar akan sangat mungkin terjadi bila negara yang menantang suatu negara dominan muncul sebagai negara rivalnya. Hal ini dapat memicu konflik yang sangat merugikan karena kekuatan yang dimiliki negara tersebut.


Sebagai contoh, fenomena tersebut mirip dengan Perang Peloponnesia, yakni sebuah perang antara Athena dan Sparta Yunani kuno yang terjadi pada abad kelima sebelum masehi. Kala itu, Athena yang kekuatannya meningkat semakin keras menentang hegemoni militer Sparta, sehingga perang terjadi. Kedua negara tersebut memang sudah bermusuhan atau memiliki rivalitas selama ratusan tahun hingga terjadi perang.


Karena Thucydides Trap ini, banyak pengamat dan pejabat penting Amerika Serikat yang mewanti-wanti mengenai fenomena ini. Jangan sampai fenomena ini terulang kembali karena dampaknya akan sangat merugikan negara.


Dengan dasar argumen seperti itu, maka mungkin saja India dapat menjadi pengganti China sebagai musuh Amerika Serikat. India merupakan pilihan yang paling damai dalam menentukan the next superpower dibandingkan China.


Sebagai penutup, berdasarkan teori perbandingan administrasi negara yang berusaha menghubungkan kelebihan dan kelemahan China dan India, terlihat jelas bahwa negara India dapat menyaingi China Dukungan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat turut berpengaruh terhadap kekuatan India.


Populasi India yang tersebar di seluruh dunia dengan kemampuan berbahasa Inggrisnya, India dapat dengan mudah menjadi bangsa yang berpengaruh dari segi sosial. Bahkan nantinya mungkin negara India dapat menjadi super power yang dapat melawan negara Amerika Serikat.
(Z81)

More from Cross Border

Jokowi Diserang Operasi Intelijen Israel?

Berita tentang kunjungan “pejabat senior” Indonesia ke Israel untuk bincangkan normalisasi hubungan diplomatik kedua negara kembali muncul. Mungkinkah ini adalah bagian dari serangkaian operasi intelijen? 

Siasat Yahya-Yaqut Internasionalisasi NU

Nahdlatul Ulama (NU) disebut tengah persiapkan G20 Religion Forum (R20). Apakah ini siasat Gus Yahya untuk internasionalisasi NU?

NATO Ternyata Punya Kelemahan Besar?

Media populer sering sebutkan bahwa kekuatan militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) jauh lebih kuat dari Rusia. Benarkah klaim tersebut?

Aespa, Senjata Perang Budaya Korsel?

Salah satu girl group asal Korea Selatan (Korsel), yaitu Aespa kini semakin dikenal dunia. Mereka bahkan diundang sebagai pembicara di beberapa forum internasional. Bagaimana korelasi fenomena ini dengan politik luar negeri Korsel?

More Stories

Puan Jalankan “Perang Kabut” Clausewitz?

Puan Maharani tengah intens melakukan safari politik. Puan telah bertemu Surya Paloh, Prabowo Subianto, dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Dalam waktu dekat, Puan juga...

Utak-Atik Jumlah Warga Miskin?

Bank Dunia baru saja merubah standar garis kemiskinan ekstrem internasional menjadi Rp 984.360 per orang per bulan. Standar ini dihitung berdasarkan paritas daya beli...

Ganjar “Buat Rumah” Diam-diam?

Gerakan Rumah Ganjar digalang 18 kelompok relawan. Meski bergerak di lapangan, namun belum dipublikasi. Kelola aplikasi Ganjaran App dan Hindari benturan dengan PDIP.