HomeNalarBukan AHY, Cawapres Anies adalah Andika?

Bukan AHY, Cawapres Anies adalah Andika?

Menurut berbagai pihak, Panglima TNI Andika Perkasa lebih tepat menjadi cawapres Anies Baswedan daripada Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Apa kelebihan Andika yang membuatnya lebih potensial dari AHY? 


PinterPolitik.com

Setelah menyebut koalisi dengan Partai Demokrat dan PKS sudah mencapai 90 persen, Ketua Umum (Ketum) Partai NasDem Surya Paloh tampaknya perlu sedikit menarik perkataannya. Melihat gestur politik terbaru, PKS bahkan secara terbuka menyebut masih banyak yang perlu disepakati perihal koalisi, khususnya terkait calon wakil presiden (cawapres) Anies Baswedan.

Bukan tanpa alasan, posisi tawar ketiga partai dapat dikatakan berimbang. Berbicara kursi parlemen, Partai NasDem memperoleh 59 kursi, Partai Demokrat 54 kursi, dan PKS 50 kursi. Tidak ada selisih yang signifikan.

Kemudian, ketiga partai ini masing-masing merupakan representasi NASAIN (Nasionalis, Agamis, dan Insan Bisnis). Partai Demokrat adalah representasi partai nasionalis, PKS adalah partai agamis, sedangkan Partai NasDem adalah partai insan bisnis.

Tidak heran kemudian Partai Demokrat dan PKS merasa berhak mengusung kadernya sebagai cawapres pendamping Anies. Di sisi Demokrat, tentunya ada sang Ketum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sementara, di sisi PKS, Wakil Ketua Majelis Syuro Ahmad Heryawan (Aher) santer diusung.

Namun, jika berbicara potensi kemenangan, nama Aher sekiranya dapat dicoret. Selain sosoknya tidak sepopuler AHY, agaknya tidak menguntungkan jika cawapres Anies berasal dari PKS. Persepsi Anies yang lekat dengan kelompok kanan akan semakin menguat jika cawapresnya dari PKS.

Lantas, jika nama Aher dicoret, apakah AHY ideal sebagai cawapres Anies? 

infografis cawapres anies bukan pks

Cawapres Bukan Harga Mati

- Advertisement -

Sayangnya, jika kembali membahas potensi kemenangan, mengangkat nama AHY sekiranya bukan pilihan yang tepat. Setidaknya ada tiga alasan atas kesimpulan ini.

Pertama, AHY masih perlu menabung daya suka terhadap dirinya (likability). Memang benar AHY sudah cukup populer. Apalagi, posisinya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat membuat namanya diperbincangkan di semua provinsi. 

Namun, seperti dijelaskan profesor psikologi Mitch Prinstein dalam bukunya Popular: The Power of Likability in a Status-Obsessed World, popularitas memiliki dua bentuk. Pada bentuk pertama, popularitas dapat menunjang kesuksesan seseorang. Namun, pada bentuk kedua, popularitas justru menjadi bumerang yang dapat menyakiti hingga membunuh.

Kata kunci yang disebutkan Prinstein adalah disukai atau likability. Jika memiliki likability yang tinggi, popularitas adalah berkah. Sebaliknya, jika popularitas tumbuh dari rasa tidak disukai atau bahkan kebencian, popularitas adalah pisau yang membahayakan.

Baca juga :  Sri Mulyani dan Dilema "Ibu Negara"

Pada kasus AHY, popularitasnya saat ini masih berkelindan dengan sentimen nepotisme dan karier politik instan. Untuk mengikis sentimen negatif itu, AHY sekiranya perlu membuktikan diri terlebih dahulu sebagai pejabat pemerintahan, misalnya dengan menjadi menteri.

Kedua, seperti yang terlihat dari hamparan survei, nama AHY belum masuk sebagai sosok yang diperhitungkan. Namanya belum mampu bersaing dengan Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Prabowo Subianto, Ridwan Kamil, ataupun Sandiaga Uno.

Ketiga, jika berbicara keuntungan politik, posisi cawapres bukanlah harga mati agar Partai Demokrat bergabung ke koalisi. Sebagai trade-off atau pertukaran posisi cawapres, Partai Demokrat dapat meminta berbagai kursi menteri jika nantinya menang di Pilpres 2024.

Dalam teori permainan (game theory), ini disebut dengan non-zero-sum game atau akrab dikenal dengan win-win solution

- Advertisement -

Seperti dijelaskan Shai Davidai dan Martino Ongis dalam The politics of zero-sum thinking: The relationship between political ideology and the belief that life is a zero-sum game, dalam aktivitas politik, adagium “menang atau hancur” khas zero-sum game justru bukanlah realitas yang terjadi.

Bertolak dari tiga alasan itu, jika memaksakan AHY menjadi cawapres, Anies rentan terjebak pada fenomena Ranjang Prokrustes. 

Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Bed of Procrustes: Philosophical and Practical Aphorisms, menjelaskan Ranjang Prokrustes adalah metafora untuk menggambarkan tendensi kita memaksakan realitas dengan keinginan kita. 

Ini bertolak dari kisah Prokrustes dari mitologi Yunani yang menidurkan musafir di ranjangnya setelah menjamu mereka. 

Jika tubuh sang musafir lebih pendek dari ranjang, Prokrustes akan menarik tangan atau kakinya hingga putus agar pas dengan ranjang. Namun, jika tubuh sang musafir lebih panjang dari ranjang, Prokrustes akan memotong kaki sang musafir agar pas dengan ranjang.

Lantas, jika AHY bukan sosok yang tepat sebagai cawapres Anies, lalu siapa kira-kira yang tepat demi meraih kemenangan?

cawapres anies andika kalahkan ahy rk ed. 1

Kebutuhan Cawapres Militer

Untuk mencari sosok pendamping Anies, tentu terlalu banyak nama yang dapat diajukan. Namun, jika membahas pengganti setipe AHY – yakni sama-sama berlatar militer, kita dapat mengerucutkannya ke Panglima TNI Andika Perkasa. 

Mengacu pada situasi global yang penuh ketidakpastian saat ini, kepemimpinan militer sepertinya tengah menjadi kebutuhan.

Eric Chewning, David Chinn, Elizabeth Young McNally, dan Scott Rutherford dalam Lessons from the military for COVID-time leadership di McKinsey menyebutkan bahwa pemimpin militer terampil dalam menangani berbagai krisis, mulai dari perang hingga mengorganisir situasi tanggap darurat saat terjadi bencana alam.

Baca juga :  Dunia Akan Dikuasai Xi Jinping?

Kata kunci dari kesimpulan itu adalah pelatihan militer yang berbasis fog of war (kabut perang). Ini adalah istilah yang dipopulerkan Carl von Clausewitz dalam bukunya On War. Menurut Clausewitz, situasi perang sama halnya ketika berada di tengah kabut.

Kita tidak mengetahui secara presisi yang terjadi di sekitar. Oleh karenanya, panglima perang mutlak mempersiapkan segala kemungkinan dan dilatih untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Mengutip pernyataan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Oktober kemarin, dunia dapat mengalami triple crises yang mencakup keamanan, ekonomi, dan lingkungan. Untuk menghadapi ancaman itu, kelebihan kepemimpinan militer sekiranya yang dibutuhkan.

Di titik ini, tentu ada yang bertanya, bukankah AHY juga berlatar militer? Lalu apa bedanya dengan Andika? 

Perbedaannya adalah pengalaman dan luas cakupan kepemimpinan.

Seperti diketahui, pangkat terakhir AHY di TNI adalah mayor. Ini berbeda jauh dari Andika yang berpangkat jenderal bintang empat sekaligus Panglima TNI. AHY paling banyak memimpin 700-1.000 prajurit TNI. Sementara, Andika mengorganisir seluruh prajurit TNI.

Konteks pangkat itu juga disebut-sebut menjadi alasan Prabowo menolak AHY menjadi cawapresnya pada Pilpres 2019. Pada 14 Agustus 2018, Luhut Binsar Pandjaitan pernah menyebut dirinya sulit membayangkan Prabowo berpasangan dengan AHY di Pilpres 2019. 

Ini bertolak dari posisi Prabowo selaku jenderal bintang tiga dan AHY selaku mayor. Menurut Luhut, dan juga disebutkan oleh Prabowo, terdapat perbedaan antara cara berpikir mayor dengan jenderal.

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, menyebut perbedaan itu terletak pada cara respons dan luasnya ruang pandang. Menurutnya, berbeda dengan mayor, jenderal merespons dengan lebih tenang karena cakupan ruang pandangnya lebih luas. 

Fahmi menyebutnya dengan helicopter view. Seorang jenderal menggunakan pandangan dari atas sehingga mampu melihat situasi lebih holistik. 

Well, sebagai penutup, dari anasir-anasir tersebut sekiranya dapat disimpulkan, jika berbicara kebutuhan cawapres berlatar militer, memilih Andika sekiranya lebih tepat ketimpang AHY. 

Pada 26 Oktober 2022, PinterPolitik juga melakukan polling di Instagram mengenai siapa yang lebih dipilih sebagai cawapres Anies di antara Andika dan AHY? Dari total 3.900 suara, sebanyak 2.295 (59 persen) memilih Andika dan sebanyak 1.605 (41 persen) memilih AHY. (R53)

#Trending Article

Ini Rahasia Perang Bintang Bolong?

Kemunculan video pengakuan Ismail Bolong ke publik terkait kasus tambang ilegal di Kalimantan Timur (Kaltim) yang diduga melibatkan Kabareskrim Komjen Pol. Agus Andrianto merujuk...

Kenapa FIFA Mudah Dipolitisasi?

Piala Dunia Qatar 2022 diterpa banyak isu. Unsur politik begitu kuat di belakangnya. Mengapa politisasi bisa dengan mudah terjadi di FIFA?

Mampukah Ma’ruf Patahkan Stigma “Ban Serep”?

Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin sempat dipertanyakan kehadirannya di Forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.  Layaknya istilah “ban serep”, wapres seringkali dianggap sebagai pembantu...

“Menikam” Pengusaha, Cak Imin Kualat?

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai keputusan menaikkan upah lewat Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 18 Tahun 2022 bernuansa politik yang terarah pada Muhaimin Iskandar...

Relawan Bermanuver, Jokowi Terjebak Ilusi?

Serangkaian respons minor eksis pasca acara relawan Joko Widodo (Jokowi) di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta yang dihadiri langsung oleh sang RI-1....

Ganjar, Kameo Kenaikan Kelas Puan?

Kemesraan Puan Maharani dan Ganjar Pranowo terekam saat keduanya bertemu di Solo pada awal pekan ini. Namun, pertemuan keduanya tampak memberikan sinyal politik begitu...

Jokowi Kalah Perkasa dari Modi?

Dalam Deklarasi Bali yang dibuat oleh para pemimpin negara G20, peran Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi disebut-sebut jadi faktor krusial. Padahal, pertemuan itu dipimpin oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Mengapa itu bisa terjadi?

Diam-Diam Anies Disokong Intelijen?

Kemunculan nama Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan (BG) untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) Anies Baswedan agaknya memang cukup menarik. Akan tetapi,...

More Stories

Pilpres 2024: Makin Mahal, Makin Gelap

Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menyimpulkan Pilpres 2024 dengan kalimat, “makin mahal, makin gelap”. Apa maksudnya? PinterPolitik.com Dalam acara diskusi publik...

Hendro Benar, Purnawirawan TNI Perlu Gabung Parpol

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono mengajak purnawirawan TNI untuk bergabung ke partai politik. Kenapa Hendro menyerukan ajakan yang...

PA 212 Sudah Tamat?

Sorotan terhadap gerakan Persaudaraan Alumni (PA) 212 terus berkurang sejak mencapai puncaknya pada Pilpres 2019. Apakah daya tarik PA 212 sudah berakhir alias tamat?  PinterPolitik.com Pasca...