HomeNalarBudaya Literasi Terpasung Tradisi

Budaya Literasi Terpasung Tradisi

Kebiasaan membaca dan menulis (literasi) masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Selain mahalnya harga buku di daerah luar Jawa, masyarakat pun terkesan enggan untuk membaca. Mengapa?


PinterPolitik.com

“Andai saja ada perpustakaan keliling menggunakan perahu atau kapal terbang, bagi warga yang tinggal di daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau.”

[dropcap size=big]U[/dropcap]capan itu terlontar dari Ridwan Sururi (42), peraih penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka 2016 sebagai tokoh nasional dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Dikalangan para penggemar buku, Ruri dikenal berkat jasanya menumbuhkan dan mengembangkan minat baca masyarakat di Desa Karangreja, Kabupaten Purbalingga di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah.

Untuk mendapatkan daya tarik membaca anak-anak dan warga sekitar, pria yang akrab disapa Ruri ini, menggunakan kuda untuk membawa koleksi buku yang akan ia pinjamkan. Kuda Pustaka, begitulah ia menamakan perpustakaan keliling yang mulai dijalankan sejak Januari 2015 tersebut.  “Saya senang sekali dengan kuda. Biar hobi saya bisa dinikmati dan bermanfaat untuk lingkungan sekitar,” katanya.

Saat memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan 37 pegiat literasi. Di pertemuan itu, ia mengatakan kalau perpustakaan keliling menjadi kegiatan yang sangat penting, karena mampu menjangkau tempat-tempat terpencil di pedesaan dan kampung-kampung. Kegiatan seperti ini diperlukan, karena anak-anak juga senang dengan keberadaannya.

“Keberadaan bapak ibu sekalian membuat masyarakat lebih terbuka wawasannya dengan cara memberikan bacaan dari buku-buku,” kata Jokowi, Selasa (2/5). Pada kesempatan makan siang bersama tersebut, Jokowi juga mengaku sudah sering mendengar beberapa kisah tentang perjuangan para pegiat yang mendorong masyarakat menjadi lebih pintar.

Buku Pembuka Wawasan

“Buku adalah teman orang berilmu, serta teman orang-orang yang menginginkan kehebatan dalam hidupnya.” ~ Albert Eistein

“Kata-kata adalah kehidupan, Liesel,” kata Max, seorang buronan Nazi kepada gadis kecil bernama Liesel yang gemar membaca, dalam film ‘The Book of Thief”. Ketika tentara Nazi membakar buku-buku rakyat, Liesel berhasil menyelamatkan sebuah buku dan membawanya pulang. Di ruang bawah tanah, ia tenggelam ke dalam buku yang dibacanya. Demi memuaskan hobinya, Liesel juga kerap ‘mencuri’ buku dari perpustakaan yang ada di rumah majikan ibu angkatnya.

- Advertisement -

Liesel adalah gadis yang hidup sebatang kara, orangtua dan adiknya tewas akibat perang dunia. Awalnya, ia memandang hidup dengan hampa. Namun buku yang ia ‘selamatkan’ dari pembakaran tersebut dan buku lain yang diberikan Max padanya, membuat pemikirannya terbuka. Berkat buku, gadis kecil yang awalnya buta huruf itu, memiliki semangat membara untuk tetap menjalani hidup dengan lebih baik.

Persis seperti apa yang pernah dikatakan oleh Gunawan Muhammad, “kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca, sebuah kebahagiaan”. Bagi budayawan yang kerap disapa GM ini, buku dapat memberikan keajaiban yang tanpa sadar mampu mengubah cara pandang pembacanya. Seperti halnya Kartini yang menyadari kalau dibelahan dunia lain, ada negeri di mana perempuan bisa hidup bebas layaknya laki-laki.

Pergerakan kemerdekaan Indonesia pun, dulu dimulai dari para pahlawan yang merupakan tokoh terpelajar di negeri ini. Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, hingga Gusdur dan Habibie, adalah sederet tokoh yang literat. Mereka membaca sepanjang hidupnya. Bahkan Bung Hatta yang pernah menjadi tahanan politik Belanda pernah menantang dengan berkata, “Aku rela di penjara asalkan bersama buku. Karena dengan buku, aku bebas.”

Buku tak hanya membebaskan dan mengilhami, buku bisa juga memberikan kekayaan. Dari sebuah penelitian di Amerika Serikat, diketahui bahwa 1.200 orang yang kini meraih sukses memiliki satu hobi yang sama, yaitu membaca. Bahkan kabarnya, orang-orang terkaya dunia juga mengaku salah satu kunci kesuksesan mereka adalah dengan membaca.

Salah satunya Bill Gates yang tidak pernah menyelesaikan kuliah, tapi mampu membangun Microsoft hanya dengan banyak membaca. “Di kantor, di rumah, maupun di jalan, aku selalu memiliki sekumpulan buku yang akan aku baca,” kata Gates yang mengaku membaca 50 buku setiap tahunnya. Sementara itu, miliarder Warren Buffet bahkan menyatakan, ia selalu membaca lebih dari lima ratus hingga seribu halaman per hari, serta lebih suka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk ‘bersembunyi’ di ruang kantornya untuk membaca.

Kondisi Literasi Indonesia

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” ~ Pramoedya Ananta Toer

Maret 2016 lalu, sebuah studi yang dilakukan John W. Miller, President Central Connecticut State University di New Britain, Amerika Serikat, memberikan hasil yang mengejutkan. Dalam daftar World’s Most Literate Nations Ranked yang merilis tingkat literasi di 62 negara, Indonesia ditempatkan pada posisi dua terendah dari penelitian yang menghitung dari jumlah dan ukuran perpustakaan, serta tingkat pembaca koran.

Baca juga :  Laksamana Yudo Patahkan Mitos?

Hasil penelitian ini sempat menghebohkan, karena dari hasil penelitian yang sama, Indonesia sebenarnya memiliki peringkat di atas negara-negara Eropa dari segi penilaian infrastruktur yang mendukung kegiatan membaca. “Artinya, diperlukan sebuah inisiator dari perpustakaan agar bisa membangkitkan minat baca masyarakat sekitarnya,” kata Koordinator Acara Festival Hari Buku Anak (FHBA) 2017, Yasmin Katikasari di Bandung, Kamis (20/4) lalu.

- Advertisement -

Sebenarnya sejak tahun 1971, Indonesia mengalami peningkatan literasi. Berdasarkan penelitian Dr. Fasil Jalal dan Nina Sardjunani yang dipublikasikan di Journal AED–DVV International menyebutkan, tingkat literasi Indonesia meningkat signifikan pada masa pembangunan pascakemerdekaan, yaitu antara tahun 1971 hingga 1990. Selama periode tersebut, pemerintah gencar mengembangkan fasilitas dan infrastruktur pendidikan. Pemerintah juga mencanangkan wajib belajar 6 tahun (1984) yang berkembang menjadi wajib 9 tahun (1990), dan 12 tahun (2016).

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang terbaru pun menunjukkan, tingkat melek huruf penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas semakin baik dari tahun ke tahun. Pada Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2009-2015, persentase penduduk yang melek huruf telah melampui angka 90 persen. Namun data melek huruf tersebut, menurut Miller, tidak memiliki hubungan yang berarti pada tingkat literasi masyarakat belakangan ini.

Ia berpendapat, lamanya durasi pendidikan wajib, rendahnya biaya pendidikan, serta membaiknya nilai ujian sekolah, tidak memiliki hubungan yang berarti dengan minat baca seseorang. Buktinya, penelitian tersebut justru memperlihatkan tren yang bertolak belakang. “Meski kewajiban untuk menempuh pendidikan semakin tinggi, praktik literasi dalam hal ini kebiasaan membaca, tidak mengalami peningkatan yang berarti,” sanggahnya.

Budaya Literasi

Minat Literasi Rendah?

“Jika kamu membaca buku yang semua orang baca, maka kamu hanya dapat berpikir seperti orang lain berpikir.” ~ Haruki Murakami, Norwegian Wood

Pendapat tingginya pendidikan seseorang tidak berhubungan dengan tingginya literasi orang tersebut, disetujui oleh Jatna Supriatna, dosen Biologi Universitas Indonesia. Ia juga menyayangkan tingkat literasi masyarakat Indonesia sangat rendah, terutama menulis. “Indonesia tidak punya tradisi menulis, masyarakat lebih banyak bicara tanpa menuliskannya,” ungkapnya.

Menurut Jatna, praktik literasi sebenarnya lebih pada kebiasaan membaca dan menulis. Sementara secara turun menurun, Indonesia mewarisi tradisi lisan dalam menyebarkan informasi, bukan tulisan. Tak heran bila sejarah Indonesia lebih banyak berbentuk fabel dan legenda, sedang prasasti hanya ditemukan di beberapa tempat. “Barangkali berkaitan dengan tingkat melek huruf yang sangat rendah pada masa lalu. Hanya kalangan tertentu yang dapat menulis huruf Pallawa pada prasasti.”

Namun Ketua Umum Forum Taman Baca Masyarakat (TBM) Firman Hadiansyah memiliki pendapat yang berbeda. Menurutnya, para pegiat literasi ini tidak percaya kalau minat membaca masyarakat Indonesia rendah, tapi yang ada hanya minimnya ketersediaan akses buku. “Maka kami berharap pemerintah mengoptimalkan ketersediaan dan akses buku yang merata ke desa-desa dan daerah terpencil,” katanya.

Baca juga :  PA 212 Sudah Tamat?

Saat bertemu dengan Jokowi, Senin (2/5) lalu, ia mewakili pengelola TBM dan pegiat literasi di Indonesia menyampaikan Delapan Butir Pesan Literasi. Salah satunya, mereka berharap gerakan pembangkitan minat baca ini menjadi gerakan yang masif dan upayanya didukung oleh pemerintah. Mereka yakin, rendahnya tingkat literasi masyarakat karena minimnya akses terhadap buku. “Tidak semua sekolah memiliki perpustakaan yang layak. Demikian pula perpustakaan daerahnya,” jelasnya.

Para pegiat literasi juga mendorong pemerintah untuk mengeluarkan aturan demi terjangkaunya harga buku di daerah-daerah. “Mendorong pemerintah untuk mengeluarkan regulasi khusus yang memungkinkan agar harga buku bisa menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat luas,” katanya. Caranya dengan menghapus pajak komponen yang terkait serta regulasi khusus untuk biaya pengiriman buku hingga ke daerah-daerah. Juga upaya mendirikan toko-toko buku kecil di berbagai daerah.

Meningkatkan Tradisi Literasi

“Cinta sepanjang hayatku dengan buku dan membaca tidak terganggu oleh komputer, mesin-mesin otomatis, dan segala macam perangkat abad ke dua puluh.” ~ Robert Downs, Books in My Life

WorldBookDayRev-02-1Sebenarnya, pemerintah telah mendengungkan Gerakan Literasi Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki payung hukum Permendikbud No.23 tahun 2015 tentang penanaman budi pekerti. Gerakan ini merupakan program jangka panjang pemerintah yang sifatnya berkesinambungan dan tidak akan berhenti sebelum literasi membudaya di Indonesia.

Meski begitu menurut Amran, SE., anggota Komisi X DPR RI, penyebab minimnya literasi masyarakat yang sesungguhnya, bukan dari ketidakmampuan ekonomi. Namun sebagian besar masyarakat Indonesia tidak menjadikan membeli buku sebagai prioritas belanja keluarga maupun pribadi. Rendahnya minat beli buku ini juga terjadi di kota-kota besar yang mayoritas masyarakatnya kelas menengah.

Amran juga melihat, penyebab minimnya minat baca karena anak-anak tidak pernah diperkenalkan buku sejak dini, baik itu oleh orangtua maupun para guru di sekolah. Padahal, memperkenalkan budaya literasi merupakan tanggung jawab orangtua dan guru. Misalnya dengan pengenalan kebiasaan membaca dan membuat kegiatan membaca yang menyenangkan. Selain itu, ia juga menyayangkan pejabat dan birokrat pendidikan yang tidak paham tentang literasi itu sendiri. Akibatnya, literasi tidak menjadi bagian dari kurikulum.

Kondisi ini diperparah dengan budaya menonton televisi masyarakat yang tinggi, sehingga melemahkan minat membaca dan menulis siswa. “Saat ini kegiatan utama keluarga di Indonesia adalah menonton TV,” sesal Amran. Fakta ini didukung oleh survei BPS mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia di tahun 2012, yaitu hanya 17,66 persen yang memiliki minat baca, sementara minat menonton hingga 91,67 persen.

BPS juga memperlihatkan data kalau anak-anak Indonesia dapat menonton televisi selama 300 menit per hari. Jumlah ini sangat besar bila dibanding dengan anak-anak Australia yang hanya 150 menit per hari, Amerika yang hanya 100 menit per hari, sementara Kanada 60 menit per hari. Kondisi ini tentu hal yang miris, karena ternyata orangtua yang seharusnya menjadi ujung tombak pengenalan budaya literasi juga kesadaran literasinya juga masih sangat minim.

Untuk mendorong meningkatkan budaya literasi di tanah air, Amran menyarankan agar pemerintah bercermin pada kesuksesan Kota Surabaya yang memiliki Program Gerakan Budaya Literasi Kota dalam meningkatkan minat baca dan tulis masyarakatnya. Salah satu programnya adalah mewajibkan masyarakat, siswa, mahasiswa, dan semua penduduk Surabaya membaca minimal 15 menit dalam sehari.

Amran yakin, bila penerapan program budaya membaca dan menulis ini berkelanjutan, baik di sekolah, di perguruan tinggi, maupun di masyarakat, akan mampu meningkatkan kemampuan literasi Indonesia. Sehingga generasinya akan semakin siap menghadapi persaingan. “Selama toko buku masih ada, selama itu pula pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, biaya untuk pakaian dan makanan dikurangi,” pungkasnya. Setujukah kalian? Berikan pendapatmu.

(Berbagai sumber/R24)

spot_img

#Trending Article

Cuan Nikel Jokowi Hanya “Ilusi”?

Indonesia yang kalah atas gugatan World Trade Organization (WTO) terkait kebijakan larangan ekspor nikel dan berencana untuk melakukan banding. Namun, di balik intrik perdagangan...

Optimisme Intelijen Berpihak Kepada Prabowo?

Pasca kelakar “rambut putih” Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan tampak membesarkan hati Prabowo Subianto dalam sebuah kesempatan di...

Tidak Ada Kebenaran di Era Informasi?

Di era kemajuan internet, manipulasi kebenaran justru malah semakin marak. Bagaimana kita memaknai fenomena ini?

Kenapa Peradaban Barat “Kuasai” Dunia?

Orang Eropa dan Amerika Serikat (AS) sering dianggap lebih unggul karena negara mereka “menguasai” dunia saat ini. Apakah ini akibat persoalan ras atau ada hal lain yang tersembunyi di balik kesuksesan peradaban Barat?

Iran dan Mahsa Amini “Bangunkan” Feminis Indonesia?

Kematian Mahsa Amini bukan hanya memantik demonstrasi besar-besaran untuk mendorong reformasi hukum di negara Iran, melainkan juga mendorong solidaritas kaum feminis di seluruh dunia....

Benturan Peradaban di Piala Dunia Qatar? 

Piala Dunia Qatar 2022 seolah menjadi panggung suara dan benturan bernuansa sosio-politik tersendiri ketika regulasi tuan rumah, intrik lagu kebangsaan Timnas Iran, hingga gestur...

Timor Leste “Login”, ASEAN “Powerful”?

Timor Leste resmi menjadi anggota ke-11 Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) setelah sempat mendapat penolakan akibat tingginya kesenjangan dan dikhawatirkan tidak mampu mengejar...

Pernah Ada Perang Dunia 0?

Perang Dunia I bukanlah perang pertama yang menghancurkan kehidupan umat manusia. Ribuan tahun sebelum itu, sejumlah arkeolog memprediksi pernah terjadi sebuah perang besar yang dijuluki “Perang Dunia 0”. Bagaimana ceritanya?

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...