HomeNalar PolitikBG, Solusi Kudeta Jokowi

BG, Solusi Kudeta Jokowi

Kecil Besar

Wapres dari kalangan polisi disebut-sebut bisa menyelamatkan Jokowi dari ancaman kudeta.


PinterPolitik.com

[dropcap]B[/dropcap]eberapa kalangan menduga Jokowi berada dalam ancaman kudeta kalau mengambil pasangan dari kalangan militer. Jokowi kalah pengaruh jika dibandingkan Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Angkatan bersenjata akan mudah digerakkan oleh dirinya, jika ingin menjatuhkan Jokowi dari kursi RI-1.

Bagaimanapun, kekuatan TNI tergolong menakutkan apabila benar-benar ingin melakukan kudeta. Mantan Presiden BJ. Habibie saja pernah merasakan kengerian tersebut, ketika Pasukan Kostrad bergerak menuju Jakarta dan dikabarkan akan mengepung istana.

Agar terhindar dari ancaman kekuatan tersebut, Jokowi membutuhkan kekuatan yang sepadan. Sejauh ini, tampaknya tidak ada kekuatan yang dapat dikatakan sebanding dengan TNI selain Polri. Meski bukan angkatan perang, Polri memiliki kelengkapan senjata dan kemampuan lain yang cukup mumpuni.

Agar posisinya bisa lebih aman, disinyalir Jokowi akan diarahkan untuk memilih wakil presiden (wapres) dari kalangan kepolisian. Bak gayung bersambut, PDI Perjuangan dikabarkan telah menawarkan nama Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Budi Gunawan atau BG kepada Jokowi.

Polisi yang Selalu Patuh

Secara umum, kepolisian merupakan kelompok yang jarang memiliki ambisi politik. Tidak banyak mantan petinggi kepolisian yang melangkah jauh dalam dunia politik. Tidak ada riwayat eks petinggi Polri yang mencapai posisi puncak dalam kepemipinan eksekutif.

Berdasarkan riwayat, polisi juga merupakan satuan yang cenderung jarang melakukan subordinasi atau pemberontakan pada kepemimpinan sipil. Satuan ini cenderung lebih patuh ketimbang satuan lain, yaitu militer.

TNI misalnya, pernah tercatat menimbulkan suasana genting saat Habibie menjadi presiden. Dikisahkan oleh Habibie, ada pasukan Kostrad yang sedang menuju ke Jakarta untuk mengepung istana.

BG, Solusi Kudeta Jokowi
Foto: Setkab

Jauh sebelum itu, di tahun 1952, perwira militer juga pernah menunjukkan ketidakpatuhan pada supremasi sipil. Saat itu, massa tentara mengarahkan moncong meriam ke arah istana, menuntut Presiden agar membubarkan parlemen.

Kondisi ini cenderung berbeda dengan kiprah kepolisian. Riwayat ketidakpatuhan pada pemerintahan sipil yang sah cenderung tidak pernah dilakukan. Jika dilhat secara luas, polisi memang tergolong jarang memiliki ambisi politik yang membara.

Hal ini bisa berasal dari tujuan utama berdirinya kepolisian. Menurut A. C. Germann, Frank D. Day, dan Robert R. J. Gallati, polisi memiliki dua tujuan utama yaitu mencegah kejahatan serta melindungi kehidupan dan keamanan individu. Hal ini berbeda dengan militer yang menurut Alfred Stepan, memiliki hak istimewa dalam dunia politik.

Oleh karena itu, seringkali dalam sebuah upaya kudeta, polisi mengambil posisi untuk melindungi kepala negara. Aspek keamanan negara dan keamanan presiden sebagai individu, kerapkali lebih didahulukan.

Di berbagai negara, amat jarang terjadi kasus kudeta atau pemberontakan yang dilakukan oleh kepolisian. Pada usaha kudeta Presiden Turki tahun 2016 misalnya, kepolisian tidak banyak terlibat dalam upaya tersebut. Polisi justru menjadi pihak yang lebih loyal kepada pemerintahan yang dipimpin oleh Recep Tayyip Erdogan.

Baca juga :  Indonesia: "Lone Wolf" Penyelamat Iklim?

Meski begitu, bukan berarti tidak ada sama sekali upaya kudeta oleh kepolisian. Pada krisis Ekuador tahun 2010 misalnya, kepolisian termasuk pihak yang secara aktif berupaya mengkudeta Presiden Rafael Correa. Akan tetapi, kasus seperti ini tergolong jarang terjadi di dunia, apalagi di Indonesia.

Dapat dikatakan, polisi cenderung lebih aman untuk “dipegang” kesetiaannya ketimbang tentara. Minimnya ambisi politik, membuat satuan ini jarang terlibat pemberontakan atau bahkan kudeta.

Mendekati Kekuatan Militer

Meski bukan angkatan perang, Polri memiliki kekuatan yang mendekati kekuatan militer. Mereka memang tidak dilatih untuk bertempur di medan perang, tetapi kebiasaan menjaga keamanan dapat memberikan kekuatan yang setidaknya hampir menyamai kekuatan militer.

Dari senjata misalnya, Polri merupakan salah satu kelompok yang dapat dikatakan memiliki persenjataan lengkap. Spesifikasi alat yang dimiliki, tentu saja berbeda dengan militer. Akan tetapi, bukan berarti peralatan yang mereka miliki tidak berbahaya dan mematikan.

Kekuatan senjata ini, kini ditambah dengan impor senjata yang menimbulkan polemik beberapa waktu lalu. Menurut TNI dan banyak kalangan lain, senjata yang diimpor untuk kepolisian itu terlampau canggih untuk sekelas penjaga keamanan dalam negeri.

Senjata yang dikirim untuk korps Brimob ini, disebut-sebut setara dengan peralatan militer di dunia. Menurut TNI, mereka sendiri tidak memiliki senjata dengan tingkat kecanggihan seperti itu. Kelengkapan senjata ini, tentu membuat Polri dapat bersaing dengan TNI.

Polri juga memiliki jumlah pasukan yang cukup banyak. Pasukan ini tersebar di berbagai wilayah dengan berbagai kemampuan. Kekuatan tersebut bisa menandingi komando teritorial yang saat ini dimiliki oleh TNI. Kepolisian daerah (Polda) tersebar di seluruh provinsi di negeri ini. Hal ini membuat jejaring polisi bisa menyaingi tentara.

Dari segi keahlian, polisi juga memiliki pasukan elit dengan kemampuan mumpuni. Jika TNI punya Kostrad yang membuat Habibie khawatir atau Kopassus yang disegani dunia, maka Polri memiliki Brimob.

Satuan ini teruji dalam penanganan terorisme domestik, penanganan kerusuhan, penegakan hukum berisiko tinggi. Selain itu, persenjataan korps ini juga tergolong mutakhir dan mendekati senjata militer.

Polri juga memiliki pengalaman dalam melakukan operasi intelijen. Kemampuan mereka dalam dunia telik sandi telah teruji benar, karena harus mampu mengungkap berbagai kasus kejahatan tak kasat mata.  Sehingga tak heran bila Kepala BIN saat ini dipegang oleh seorang perwira Polri.

Baca juga :  MBG dan Runtuhnya 'Republik Tepung'

Kepiawaian mereka dalam menjalankan operasi intelijen tentu mampu menandingi militer. Di saat-saat genting, operasi telik sandi oleh polisi akan sangat berharga untuk mempertahankan suatu posisi.

Kelengkapan ini membuat kepolisian dapat membantu presiden jika terjadi ancaman keamanan. Ancaman seperti pemberontakan atau kudeta terhadap presiden akan mendapat hadangan berat dari satuan penjaga keamanan ini.

BG Menjadi Penyelamat

Jika ingin aman dari ancaman kudeta militer, salah satu solusinya adalah memilih wapres dari kalangan kepolisian. Kondisi-kondisi di atas menjadi bukti bahwa kepolisian dapat bersaing dengan militer. Meski begitu, tidak banyak nama petinggi satuan pengayom masyarakat ini yang memiliki ambisi politik.

Salah satu nama yang mengemuka adalah BG. Nama Mantan Ajudan Megawati ini tiba-tiba muncul dalam berbagai survei capres dan cawapres. Survei yang dirilis Polmark bahkan menempatkan pasangan Jokowi-BG sebagai pasangan nomor satu.

Bak gayung bersambut, belakangan beredar kabar PDIP akan menawarkan mantan Wakapolri tersebut pada Jokowi. Menjelang Rakernas PDIP di Bali, nama BG disebut-sebut menjadi salah satu nama yang ditimbang untuk mendampingi Jokowi. Ancaman kudeta militer bisa menjadi alasan PDIP untuk memaksakan bekas ajudan Megawati ini menjadi penamping Jokowi.

BG, Solusi Kudeta Jokowi

BG sendiri tergolong figur yang cukup berpengaruh di Polri. Ia diprediksi mampu mengendalikan petugas di bawahnya. Kondisi ini akan bermanfaat jika harus menghadapi ancaman kudeta oleh militer.

Kemampuan intelijen BG dan jejaringnya di kepolisian, diprediksi mampu meredam gejolak yang disebabkan oleh militer. Jika diperlukan, pasukan dengan persenjataan yang canggih bisa dikerahkan untuk menghadapi tentara.

Meskipun akan bermanfaat di kala genting, BG adalah sosok yang kontroversial. Sebelum menjabat sebagai Kepala BIN, ia sempat dicalonkan menjadi Kapolri. Meski begitu, langkah tersebut kandas setelah ia ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh KPK.

Setelah itu, saga perseteruan antara Polri dan KPK memanas. Polri disebut-sebut melakukan serangan masif pada komisi anti-rasuah tersebut. Serangan ini, disebut-sebut digawangi oleh orang-orang dekat BG. Salah satu nama paling sering disebut adalah Budi Waseso yang kala itu menjabat sebagai Kabareskrim.

Memilih BG sebagai pasangan, dapat menjadi solusi Jokowi dari ancaman kudeta militer. Akan tetapi, di sisi yang lain, Jokowi akan menghadapi amarah dari kelompok lain: rakyat. BG terlanjur dikenang sebagai sosok yang anti penegakan korupsi dan mendukung pelemahan KPK. Rakyat tentu tidak rela jika figur kontroversial itu duduk di kursi RI-2.

Kini bola ada di tangan Jokowi, apakah ia ingin pasangan yang dapat mengamankan kudeta atau pasangan yang lebih diterima rakyat. Atau jangan-jangan ada kandidat lain yang dapat mengombinasikan keduanya? Berikan pendapatmu. (H33)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...