HomeNalar PolitikAnime, Siasat Jepang “Kuasai” Dunia? 

Anime, Siasat Jepang “Kuasai” Dunia? 

Kecil Besar

Anime merupakan salah satu sumber hiburan paling populer di dunia saat ini. Mengapa bisa demikian? Dan mungkinkah ada unsur politik di baliknya? 


PinterPolitik.com 

Di zaman sekarang, sepertinya tidak ada orang yang tidak pernah mendengar tentang “Naruto”. Mulai dari remaja hingga generasi tua sekalipun, mereka pasti pernah mendengar kisah ataupun meme-meme tentang ninja berambut kuning dari desa Konohagakure itu. 

Tentu, Naruto hanya salah satu contoh dari produk budaya pop modern asal Jepang yang paling dikenal oleh orang-orang di seluruh dunia. Selain Naruto, anime-anime lain seperti One Piece, Dragon Ball, bahkan anime baru, seperti Jujutsu Kaisen, pasti tidak asing dari telinga orang-orang di zaman kini. Yap, anime sekarang jadi salah satu sumber hiburan yang paling populer di dunia. 

Tidak main-main, menurut klaim dari Brady McCollum, Chief Operating Officer (COO) Crunchyroll, sebuah platform streaming, terdapat 300 juta orang menonton anime di platformnya pada 2022 silam. Sementara, di platform streaming Netflix, jumlah akun yang menonton anime setidaknya sekali pada tahun 2021 berjumlah 220 juta orang. 

Tentu, pertanyaan besar yang muncul dengan kepopuleran anime yang begitu tinggi adalah, mengapa anime begitu populer? Dan bagaimana melihat fenomena ini dari aspek politik? 

image 7

Anime adalah Hasrat Manusia 

Kepopuleran anime kini jadi salah satu topik menarik dalam studi media dan komunikasi modern. Salah satu pengamatan yang menarik soal kepopuleran anime bisa kita ambil dari profesor Studi Komparatif Media, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Ian Condry, dalam bukunya The Soul of Anime. Di dalam buku ini, Condry menjelaskan setidaknya tiga alasan penting kepopuleran anime. 

Pertama, cerita-cerita kreatif yang universal. Banyak anime memiliki cerita-cerita yang mencakup tema-tema universal seperti persahabatan, cinta, keberanian, dan pencarian identitas. Pesan-pesan ini dapat dirasakan oleh penonton dari berbagai latar belakang budaya, menciptakan kesamaan nilai-nilai dan pengalaman hidup yang mendalam.  

Uniknya, anime bisa membungkus hal-hal “cliche” tersebut dalam bingkisan yang begitu menarik, seperti cerita percintaan pilot robot raksasa Gundam, hingga kisah persahabatan dua alien mahakuat seperti Goku dan Vegeta di anime Dragon Ball

Baca juga :  Menyikap Tubir Milbus

Kedua, kemampuan sampaikan ekspresi. Anime terkenal karena kemampuannya untuk menggambarkan ekspresi emosi dengan mendalam. Karakter-karakter anime mampu menyampaikan berbagai nuansa emosional, mulai dari kebahagiaan hingga kesedihan, dengan cara yang memukau dan mendalam. Ini menciptakan koneksi emosional antara penonton dan karakter, memungkinkan mereka merasakan dan memahami pengalaman yang digambarkan. 

Ketiga, kesuksesan strategi media Jepang. Dengan kemajuan teknologi, anime telah menjadi bahan hiburan populer yang lebih mudah diakses oleh penonton global melalui platform streaming online, ini memungkinkan penyebaran dan konsumsi anime dengan cepat.  

Menariknya, ada satu “dugaan konspirasi” juga yang muncul terkait mengapa begitu banyak platform yang menyediakan jasa menonton anime dengan gratis dan bahkan bajakan. Muncul satu asumsi bahwa sebagian hal tersebut memang dibiarkan oleh industri kreatif Jepang karena sejatinya mereka membantu kepopuleran anime itu sendiri. 

Namun, melihat pengaruhnya yang begitu luar biasa, bisa diasumsikan pula bahwa kepopuleran anime tidak hanya soal kesuksesan industri Jepang, tetapi juga politik. Mengapa bisa demikian? 

image 8

Soft Power yang Luar Biasa 

Anime dan manga Jepang telah muncul sebagai kekuatan dominan dalam ranah seni dan hiburan global, memperoleh dampak yang luar biasa sebagai senjata soft power atau kekuatan lunak yang tak terbantahkan dari Jepang.  

Konsep soft power, yang pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan politik Joseph Nye, merujuk pada kemampuan sebuah negara untuk mempengaruhi opini dan perilaku orang lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan institusi non-militer. Jepang, dengan anime dan manga sebagai aset utamanya, telah menggiring dirinya menuju puncak panggung global sebagai pemimpin dalam merekamkan dan menyebarkan soft power dalam bentuk anime dan manga. 

Pertama-tama, anime dan manga menciptakan jendela unik ke dalam budaya Jepang yang memungkinkan penonton internasional merasakan keindahan dan kekayaan tradisi Jepang.

Dengan menampilkan cerita yang berakar dalam warisan budaya mereka, seperti kehidupan sehari-hari, mitologi, dan seni bela diri, anime dan manga memberikan gambaran yang otentik dan mendalam tentang kehidupan Jepang. Ini membuka peluang bagi penonton internasional untuk lebih memahami dan menghargai keunikan budaya Jepang, mengokohkan citra positif Jepang di mata dunia. 

Baca juga :  Anies dan Dark Side of The Moon

Selanjutnya, anime dan manga menjadi jembatan antargenerasi dan antarbudaya. Dengan menciptakan narasi yang dapat dinikmati oleh orang dari berbagai latar belakang dan usia, anime dan manga memiliki daya tarik yang universal. Serangkaian nilai dan pesan universal disertakan dalam cerita-cerita ini, seperti persahabatan, keberanian, cinta, dan pencarian identitas diri.

Dalam prosesnya, karya-karya ini mempromosikan pemahaman saling antara berbagai kelompok masyarakat, memperkuat ikatan lintas budaya dan menjembatani kesenjangan antara masyarakat. 

Selain itu, anime dan manga juga berperan sebagai alat diplomasi kultural, menciptakan jalur komunikasi yang tak terbatas dan tanpa batas bagi Jepang. Di era globalisasi ini, media animasi dan komik mencapai audiens yang lebih besar daripada sebelumnya melalui internet dan platform streaming.

Dengan memanfaatkan teknologi modern, Jepang dapat menjangkau pemirsa di seluruh dunia tanpa batasan geografis. Ini memberikan negara tersebut keuntungan untuk menyampaikan pesan-pesan kultural dan menggambarkan nilai-nilai positif yang ingin mereka tonjolkan. 

Secara keseluruhan, anime dan manga Jepang tidak hanya meraih popularitas global, tetapi juga menjadi “senjata efektif” dalam melancarkan serangan kultur dan memperkuat posisi Jepang dalam geopolitik dunia. Dengan terus mengembangkan kreativitas dan meningkatkan diplomasi budaya, Jepang dapat memastikan bahwa warisan seni mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga terus menjadi kekuatan utama dalam pertarungan soft power di panggung dunia. 

Menariknya, kesuksesan anime sebagai soft power Jepang ini sesungguhnya merupakan sentilan bagi Indonesia sendiri. Sejujurnya, industri kreatif kita tidak kalah dengan industri anime Jepang, kita memiliki tokoh pahlawan mahakuat seperti Gundala, dan kisah horor yang menarik untuk menjadi plot cerita animasi ala Jujutsu Kaisen seperti cerita-cerita Khodam atau jin pelindung. 

Hal-hal ini sebetulnya adalah bahan dasar industri kreatif Indonesia. PR besarnya tentu tinggal sinergi antara industri kreatif Indonesia itu sendiri dan sokongan pemerintah. Kita harap, mendekati Pemilihan Umum 2024 (Pemilu 2024), para politisi masa depan kita juga bisa melihat potensi luar biasa ini agar industri kreatif Indonesia bisa mengejar kesuksesan industri kreatif Jepang. (D74) 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Supremasi Putih Rasialisme Argentina

Piala Dunia 2026 mengungkap pola berulang. FIFA menyelidiki dugaan pelecehan rasis terhadap YouTuber IShowSpeed oleh fans Argentina di Miami. Fans Argentina juga melempar bir ke pendukung Mesir dan mengibarkan bendera Israel ke pelatih Hassan yang pro-Palestina. Bahkan sesama negara Amerika Latin, dari Meksiko hingga Brasil, kerap mencap Argentina “sok Eropa” dan terkesan membenci tetangganya sendiri.

“Berkah” Adu Mekanik Penegak Hukum?

Dua institusi hukum saling bongkar kelemahan di depan publik — ternyata, sejak zaman Romawi, kegaduhan semacam ini justru menjadi tanda sistem sedang bekerja.

Pramono Main “Presiden-presidenan”?

Sejumlah kebijakan Gubernur Pramono Anung tampak pantulkan program pemerintah pusat. Kebetulan teknokratis atau ada logika yang sengaja dipasang? 

Sarat Makna Kavaleri Kuda Istana

Bukan sekadar pengawal tamu negara. Di balik 120 kavaleri kuda yang mengiringi Narendra Modi menuju Istana Negara Jakarta, tersimpan pesan tentang diplomasi, kekuasaan, dan martabat negara. Mengapa kuda masih relevan di era digital? Karena dalam politik modern, simbol sering kali berbicara lebih keras daripada kebijakan.

Cermin Retak di Zaman Pelangi?

Perpres 111/2025 memasukkan penyebaran budaya LGBTQ+ sebagai ancaman nonmiliter. Namun, mengapa nasibnya bisa beda dari komunis dan Tionghoa dulu?

Tito dan Sengkarut OTT

Sembilan kepala daerah terjaring KPK dalam enam bulan. Semua mata mengarah ke Tito sebagai Mendagri, terutama mata para anggota DPR. Lalu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh orang yang paling dekat dengan masalah ini?

Tapir Mesuji Hidup di Hati Rakyat

Satu ekor tapir yang tewas di Mesuji membongkar jarak lama antara kepedulian kota dan kenyataan hidup di pinggir hutan — dan pola yang sama ternyata terjadi di banyak negara lain.

Singapura dan ‘Benalu’ Complex

Prabowo jamu PM Lawrence Wong dalam Leaders' Retreat pada 6 Juli 2026. Namun, benarkah Singapura selama ini hidup dari getah tetangganya?

More Stories

“Berkah” Adu Mekanik Penegak Hukum?

Dua institusi hukum saling bongkar kelemahan di depan publik — ternyata, sejak zaman Romawi, kegaduhan semacam ini justru menjadi tanda sistem sedang bekerja.

Tapir Mesuji Hidup di Hati Rakyat

Satu ekor tapir yang tewas di Mesuji membongkar jarak lama antara kepedulian kota dan kenyataan hidup di pinggir hutan — dan pola yang sama ternyata terjadi di banyak negara lain.

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar.