Audio dibuatAudio dibuat menggunakan AI.
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis
KATA PEMRED #51
PinterPolitik.com
Tiga jet tempur mengawal pesawat Narendra Modi memasuki langit Indonesia, Senin sore itu. Di landasan Halim, Prabowo menyambutnya sendiri. Keesokan harinya, di Istana Merdeka, kamera merekam yang paling mudah dibaca. Kontrak sistem rudal jelajah BrahMos. Senjata supersonik, hasil patungan India dan Rusia, kini akan dimiliki Indonesia.
Itulah judul yang berkeliling dunia. Reuters, Washington Post, kantor berita India, semua menautkan kata Modi, Prabowo, dan rudal dalam satu tarikan napas.
Tetapi tanda tangan yang paling penting hari itu bukan pada rudal.
Di antara sejumlah perjanjian dan nota kesepahaman, ada satu yang nyaris tak dieja pers domestik. Kesepakatan membentuk usaha patungan pemrosesan mineral kritis di Indonesia. Termasuk nikel.
Kalimat itu pendek. Konsekuensinya panjang.
Bertahun-tahun hilirisasi nikel kita tumbuh di bawah satu bayangan besar. Modal dan teknologi pemroses datang, dalam porsi paling dominan, dari Tiongkok. Smelter berdiri di Sulawesi dan Maluku Utara. Angka ekspor melonjak. Jepang dan Korea sudah lama membeli olahan kita, jauh sebelum ledakan investasi itu. Tetapi struktur hilirnya menyimpan kerentanan yang jarang disebut. Konsentrasi yang tinggi pada satu ekosistem pemroses.
Angkanya keras. Satu ekosistem industri menguasai sekitar 68 persen pemurnian nikel dunia. Itu bukan monopsoni murni. Masih ada beberapa pembeli. Namun ketika satu ekosistem menentukan harga, teknologi, dan irama pasar sekaligus, posisi tawar penjual selalu lebih tipis dari yang tampak di angka ekspor.
Yang terjadi 7 Juli adalah salah satu retakan paling penting pada bayangan itu.
Pertanyaan yang jarang diajukan justru yang paling menjelaskan. Mengapa India sekarang, bukan lima tahun lalu? Jawabannya bukan Modi. India sedang menggenjot kebijakan industrinya sendiri dan membangun rantai pasok kendaraan listrik. India kekurangan mineral kritis. Indonesia memilikinya. Basis smelter hasil hilirisasi kita, yang beberapa tahun lalu belum ada, kini sudah berdiri. Baru kombinasi itu membuat patungan seperti ini masuk akal hari ini.
Lembaga pemeringkat global S&P Global mencatat pangsa Indonesia dalam produksi nikel dunia melonjak dari sekitar 31 persen pada 2020 menjadi di atas 60 persen pada 2024, dan diperkirakan menembus 74 persen pada 2035. Dengan kendali sebesar itu, Indonesia menjadi produsen penentu, pihak yang gerak-geriknya menetapkan arah harga dunia. Para pemroses global kini harus berebut bijih yang sama. Dari sinilah kekeliruan baca perlu diluruskan. Indonesia tidak sedang sekadar mendiversifikasi pembeli. Diversifikasi itu pasif. Yang dikerjakan jauh lebih tajam. Indonesia sedang menciptakan lelang di antara para pembeli.
Dua hal berbeda. Yang satu menyebar risiko. Yang lain mengubah siapa yang memegang kendali harga.
Ada satu hal yang akan dibaca Beijing, tetapi hampir luput dari pers kita. Menurut NITI Aayog, lembaga perencana pemerintah India sendiri, negeri itu kini bergantung sepenuhnya pada impor untuk nikel, litium, dan kobalt. Pasar baterainya diproyeksikan melonjak hampir 15 kali lipat menjelang 2030, dari 10,8 menjadi 160,3 gigawatt-jam. Tagihan impor mineral kritisnya lebih dari dua kali lipat hanya dalam tiga tahun. Dalam persekutuan ini, India membutuhkan Indonesia lebih besar daripada Indonesia membutuhkan India. Patungan itu bukan hadiah dari Jakarta. Ia bagian dari strategi bertahan hidup industri New Delhi.
Ada satu cara membaca seluruh manuver ini. Para pemikir punya istilah untuk ketergantungan yang dipersenjatai, ketika negara besar mencekik yang kecil lewat jalur pasokan. Yang kita saksikan justru pembalikannya, dari kursi penjual. Menolak bergantung pada satu pihak dengan cara menciptakan pilihan. Sebut saja opsi strategis. Ia bukan sekadar taktik dagang, melainkan doktrin. Kekuatannya tidak terletak pada satu kesepakatan, tetapi pada adanya banyak kesepakatan yang mungkin. Posisi seperti itu jauh lebih sulit dipatahkan daripada sekadar tawar-menawar harga.
Di sinilah rudal itu kembali masuk hitungan, bukan sebagai rel yang berjalan sendiri. Perdagangan membuka pintu, pertahanan menahannya tetap terbuka. Kontrak BrahMos memberi kredibilitas pada kesepakatan nikel. Ia menandakan kemitraan ini cukup dalam untuk menyentuh senjata, bukan hanya komoditas. Sebaliknya, akses ke sumber daya membuat penjualan rudal itu masuk akal bagi kedua pihak. Yang satu menjelaskan yang lain.
Lalu apa langkah balasan Tiongkok yang paling mungkin? Justru di situ taruhan sebenarnya. Responsnya barangkali bukan sekadar menurunkan harga atau mengunci kontrak. Yang lebih mungkin adalah gelontoran investasi baru, diskon teknologi, penyertaan modal yang lebih besar, dan pengikatan pasokan jangka panjang. Persaingan babak berikutnya bukan lagi soal membeli nikel Indonesia. Ia soal membeli kesetiaan industri Indonesia.
Di titik itulah opsi strategis membuktikan dirinya. Siapa pun yang memenangi perlombaan, Indonesia yang diuntungkan. Bila India berhasil membangun, kita punya mitra baru. Bila Tiongkok membalas dengan modal dan teknologi yang lebih besar untuk mempertahankan tempatnya, kita tetap yang menuai. Perlombaan itu sendiri adalah kemenangan, terlepas dari siapa yang menang.
Apa artinya bagi pembaca yang tak pernah menyentuh bijih nikel?
Ketika pembeli berlomba, harga transfer nikel olahan kita punya pembanding. Selama ini nilai sebenarnya kerap kabur di dalam pembukuan korporasi yang terpadu dari hulu ke hilir dalam satu bendera. Pembanding menaikkan posisi tawar, dan posisi tawar menentukan berapa banyak nilai tambah yang tinggal di republik ini. Bukan sekadar berapa banyak yang bekerja di smelter, tetapi lapisan mana yang kita pegang. Merakit, atau merancang.
Semua ini bermuara pada angka yang menyentuh dapur. Neraca dagang kita baru mencatat defisit pertama setelah 72 bulan surplus. Transaksi berjalan tertekan. Setiap dolar nikel yang benar-benar menetes ke penerimaan negara, bukan menguap ke rekening luar negeri, adalah selisih antara rupiah yang tegak dan rupiah yang goyah. Dan rupiah yang goyah, pada ujungnya, adalah harga barang di rak toko yang kita datangi tiap pekan.
Tentu, tanda tangan belum tentu eksekusi. Patungan bisa berhenti sebagai simbol jika kapital dan kapasitas pemrosesan tak menyusul. India harus membuktikan sanggup membangun apa yang selama ini dibangun modal Tiongkok. Indonesia harus memastikan diversifikasi ini tidak sekadar menukar satu ketergantungan dengan ketergantungan lain berbendera berbeda. Struktur kepemilikannya belum dibuka ke publik. Di situlah ujian sesungguhnya. Opsi strategis hanya berarti bila angkanya nyata, dan hanya menguntungkan bila negara sanggup mengelola persaingan yang ia ciptakan. Opsi yang tak terkelola berubah menjadi rebutan yang melelahkan.
Karena yang sebenarnya diperebutkan sudah bukan lagi nikel Indonesia. Yang diperebutkan adalah hak menjadi mitra industri utama republik ini untuk tiga dekade transisi energi berikutnya. Dan yang dipertaruhkan lebih besar dari Indonesia. Selama tiga puluh tahun, globalisasi bertanya, negara mana yang paling murah dan efisien. Kini pertanyaannya berganti: negara mana yang paling tak tergantikan. Negara menengah yang memegang banyak opsi tidak perlu memilih kubu. Ia justru membuat kubu-kubu besar bersaing menawar dirinya. Itu mengubah ceritanya. Dari jual beli komoditas, menjadi perebutan siapa yang ikut merancang arsitektur industri kita.
Ada detail kecil yang mudah terlewat. Modi dijadwalkan ke Yogyakarta, kemungkinan mengumumkan pemugaran Candi Prambanan yang didukung India. Kedua pemimpin menetapkan 2026 hingga 2027 sebagai tahun Tagore dan Dewantara. Sebuah candi tua dipugar, sementara di meja perundingan nikel berpindah tangan. Ikatan peradaban yang lama membungkus tawar-menawar yang sangat kini.
Barangkali di situlah seni bernegara yang sesungguhnya. Membuat perhitungan yang paling dingin terdengar seperti persahabatan yang paling hangat. Yang kita saksikan pekan ini bukan penjualan logam. Ia pelajaran tentang bagaimana sebuah republik belajar membuat banyak pihak memperebutkan tangannya, dan menyebut mereka semua sahabat.
Dan di balik setiap rudal yang berkilau di landasan, ada bijih yang jauh lebih menentukan nasib kita.
**********************
Tentang Penulis
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis
Hak cipta dilindungi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Penggandaan, pengutipan, atau penyebaran sebagian atau seluruh tulisan ini tanpa izin tertulis dapat dikenai ketentuan pidana Pasal 113.


