Cross BorderWagner, Kartu As Kemenangan Putin? 

Wagner, Kartu As Kemenangan Putin? 

- Advertisement -

Kontraktor militer swasta Rusia bernama Wagner Group dikabarkan mulai terlibat aktif dalam invasi Rusia ke Ukraina dan tampak memberikan dampak positif bagi deru kampanye militer Vladimir Putin. Mereka juga disebut-sebut akan menjadi intrumen titik balik kemenangan Rusia. Benarkah demikian? 


PinterPolitik.com 

Keterlibatan semakin aktif dan ofensif Private Military Company (PMC) atau kontraktor militer swasta Rusia bernama Wagner Group seolah menjadi babak baru invasi Vladimir Putin di Ukraina. 

Postulat itu sendiri bukan tanpa alasan. Pada pekan ini, seorang pejabat anonim Barat menyebut Wagner telah beralih dari bagian kecil perang ke komponen utama Rusia dalam konflik yang telah berlangsung alot selama hampir satu tahun terakhir 

Kota bernama Soledar disebut telah berhasil direbut dari tangan militer Ukraina berkat agresivitas Wagner. Meski di sisi lain kubu Volodymyr Zelensky dan Ukraina tegas membantah klaim itu. 

Sementara itu, pada bulan lalu, pemerintah Amerika Serikat (AS) membeberkan secuplik laporan intelijen yang mengatakan Rusia mengandalkan kelompok Wagner diperkuat oleh para tahanan dan melancarkan serangan di kota Bakhmut. 

Dalam beberapa bulan terakhir, Barat memang kerap mengeluarkan laporan bahwa Wagner merekrut ribuan narapidana Rusia dari penjara untuk bergabung dalam pertempuran di Ukraina. Ihwal yang membuat mereka dikenal tanpa ampun dalam pertempuran. 

Wagner sendiri dimiliki dan dipimpin oleh oligarki Rusia Yevgeny Prigozhin. Kontraktor tersebut telah beroperasi di banyak negara dan bekerja dengan pemerintahan Putin dalam proyek militer dan politik. 

Menariknya, administrasi Biden sebagai penyokong Ukraina seolah begitu khawatir atas eskalasi manuver Wagner. 

Sebuah kabel informasi yang diterima portal analisis yang berbasis di Virginia, AS, POLITICO, memberikan konteks anyar tentang bagaimana pemerintahan Biden terus menganalisis aktivitas kelompok paramiliter yang meningkat di negara-negara yang bergejolak secara politik. Terutama dalam pekan-pekan awal di tahun 2023 ini. 

Lantas, mengapa Wagner seolah begitu dikhawatirkan plus dapat menjadi game changer konflik di Ukraina? Mungkinkah ini menjadi titik balik kemenangan Putin atas Ukraina dan Barat secara tidak langsung? 

Wagner Paling Relevan? 

Selayang pandang mengenai PMC dapat ditelusuri pasca Uni Soviet runtuh dan terjadi pemangkasan personel NATO secara besar-besaran, dari sekitar 1,5 juta tentara menjadi hanya sekitar 750 ribu saja. 

Berbagai permasalahan dilihat berpotensi muncul dan PMC kemudian menjadi wadah yang menampung para tentara profesional dan berpengalaman ini. 

PMC merupakan suatu pola perubahan dari perkembangan modernisasi militer yang menyediakan penyewaan tentara militer swasta. Mereka yang terlibat dibayar, dilatih, dilengkapi dengan berbagai peralatan militer. 

image 48

Sebagai suatu pola perubahan dari modernisasi dan dinamika kebutuhan dalam konflik, aktivitas PMC dapat ditemui dalam konflik regional di negara-negara di Eropa, Timur Tengah, hingga Afrika sejak dekade 90-an. 

Baca juga :  Mungkinkah PDIP Jerumuskan Anies di Jakarta?

Fred Schreirer dan Marina Caparina dalam Privatising Security: Law, Practice and Governance of Private Military and Security Companies mendefinisikan PMC sebagai perusahaan atau kontraktor swasta yang mengkhususkan diri pada keterampilan militer. 

Tak hanya penyediaan tentara bayaran untuk operasi tempur, tetapi juga mencakup perencanaan strategis, aktivitas intelijen, dukungan operasional, logistik, pelatihan, pengadaan dan peralatan perawatan-perawatan senjata. 

Mengacu pada definisi tersebut, secara tersirat klien-klien PMC dapat dikatakan merupakan pemerintah suatu negara. Namun, pemberontak dan kelompok milisi bersenjata juga dapat menggunakan jasa PMC dengan nominal maupun barter kepentingan tertentu. 

Meski AS menjadi negara pionir PMC kelas dunia, Rusia dengan Wagnernya dalam satu dekade terakhir seolah tak mau kalah dari negara rivalnya itu. 

Wagner didirikan dan dinanai oleh Yevgeny Prigozhin, seorang pengusaha yang memiliki kedekatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. 

Prigozhin tak sendiri. Dia juga menjadikan mantan perwira intelijen Rusia Dmitry Utkin yang pernah terlibat dalam operasi di Georgia pada tahun 2008 sebagai elite Wagner, plus salah satu jejaring kepentingan dengan Putin. 

Tercatat aktif sejak Aneksasi Krimea pada tahun 2014, Wagner melebarkan sayapnya dengan terlibat dalam konsesi keuntungan politik dan finansial di sejumlah negara seperti Suriah, Sudan, Mali, Afrika Tengah, hingga krisis politik di Venezuela pada 2019. 

Ben Brimelow dalam sebuah publikasi berjudul Russia is using mercenaries to make it look like it’s losing fewer troops in Syria menyebut Wagner digunakan oleh pemerintah Rusia sebagai instrumen penyangkalan logis dalam konflik dan perebutan kepentingan tertentu, termasuk jumlah korban serta sokongan dana atas intervensi Rusia di negara lain. 

Akan tetapi, sentimen yang diberikan Brimelow terhadap Wagner dan Rusia tampaknya menjadi hakikat dari eksistensi PMC. Ihwal yang juga terjadi pada penggunaan PMC seperti Blackwater, Dyncorp, dan Halliburton oleh AS di Afhganistan dan Irak. 

Dalam case AS, PMC kerap disebut menjadi instrumen kebijakan luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah negeri Paman Sam seolah masih sedikit memiliki “kendali lebih” atas PMC dibanding sebaliknya. 

Itu yang diniliai oleh sejumlah analis tak terlihat dari relasi Wagner dengan Putin. Benarkah demikian? Lalu, apakah itu akan menjadi keuntungan atau kerugian bagi Putin? 

image 47

Putin Dipengaruhi Wagner? 

Sebagaimana dikatakan William D. Coplin dalam Introduction to International Politic : Model of Decision Making Process, terdapat aktor-aktor yang memengaruhi perilaku politik luar negeri suatu negara atau disebut sebagai “policy influencer system“. 

Perilaku itu termanifestasi sebagai hubungan timbal balik kompleks dan mereka merupakan sumber dukungan satu sama lain. 

Coplin kemudian mengkategori para policy influencer system itu ke dalam empat aspek, yakni bureaucratic inluencers, partisan influencers, interest inluencers, dan mass influencers

Mengacu pada relasi yang terjadi di antara Putin dan Wagner sejak kongsi keduanya di Krimea hingga Suriah,  di titik ini sang PMC tampak berperan sebagai bureaucratic inluencers sekaligus interest inluencers.  

Baca juga :  Mengapa Kaesang Ngebet ke Anies?

Interpretasi itu berangkat dari konsep “bisnis militer” seperti yang dianalisis Dario Azzelini dan Boris Kanzleiter dalam bukunya La Empresa Guerra mengenai tiga alasan dasar penggunaan PMC. 

Pertama, dinamika konflik yang dipengaruhi eksistensi sumber daya alam berharga. Kedua, perekonomian perang akan berlandaskan pada tatanan sosial baru dengan relasi informal-personal. Ketiga, selain berkontribusi pada dinamika perang itu sendiri, perekonomian perang akan membentuk kepentingan-kepentingan para pelakunya. 

Peran Wagner sebagai bureaucratic inluencers dan interest inluencers sendiri kiranya dapat ditelusuri dari riwayat relasi mereka dengan Putin di Suriah yang tak terlepas dari kepentingan pengamanan produksi minyak. 

Prigozhin yang berperan sebagai “policy influencer system” memengaruhi perilaku politik dengan hubungan timbal balik dengan para elite di Rusia.  

Sedangkan Putin yang berperan sebagai aktor utama, selain mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad juga memanfaatkan relasi kedekatannya dengan Prigozhin dan para petinggi elite komunitas intelijen Rusia yang mendanai aliran dana tahunan sebesar 350 juta dolar AS atas penggunaan tentara Wagner. 

Amy Mackinnon dalam Putin’s Shadow Warriors Stake Claim to Syria’s Oil menyiratkan kemunculan nominal kontrak sebesar 25 persen dengan General Petroleum Corp adalah bukti bahwa apa yang diharapkan dari keuntungan Prigozhin penjagaan produksi minyak dari pengaruh ISIS di Suriah menjadi benang merah relasi keduanya. 

Lalu, apa kepentingan Wagner di konflik Ukraina saat ini? 

Jawaban dari pertanyaan tersebut kiranya tak lepas dari simbiosis mutualisme. Bagi Putin, selain sebagai penyangkalan logis atas tuduhan “serangan yang berlebihan”, eksistensi Wagner dalam konflik juga dapat menjadi tambahan tenaga cukup berarti. 

Itu dikarenakan, deru Rusia seolah begitu alot selama ini dan bukan tidak mungkin Rusia mendapatkan momentum positif saat Wagner mulai terlibat secara aktif dan masif. 

Sementara bagi Wagner, selain probabilitas alasan ideal seperti nasionalisme, Ukraina adalah teritori yang familiar dan “menggiurkan”. Membangun tatanan sosial dan perekonomian perang, bagi Wagner merupakan peran yang cukup tepat. 

Barter pengamanan jalur pipa gas hingga sumber daya alam lain seperti tambang garam dan lain sebagainya kemungkinan menjadi pemantik semangat Wagner. 

Namun demikian, sekali lagi, peperangan dan konflik merupakan sesuatu yang tak pernah diinginkan oleh masyarakat sipil secara umum di belahan bumi manapun.  

Variabel eksistensi PMC yang seolah “memperkeruh” konflik kiranya memang perlu dievaluasi secara global. Meskipun pada realitanya itu cukup sulit terjadi mengingat negara seperti AS dan Rusia sebagai pemegang veto dan memiliki kepentingan dengan PMC kiranya tak akan semudah itu untuk mewujudkan hal tersebut. (J61) 

spot_imgspot_img

More from Cross Border

Nuklir Oppenheimer Justru Ciptakan Perdamaian?

Film Oppenheimer begitu booming di banyak negara, termasuk Indonesia. Menceritakan seorang Julius Robert Oppenheimer, seorang ahli fisika yang berperan penting pada Proyek Manhattan, proyek...

Oppenheimer, Pengingat Dosa Besar Paman Sam?

Film Oppenheimer baru saja rilis di Indonesia. Bagaimana kita bisa memaknai pesan sosial dan politik di balik film yang sangat diantisipasi tersebut?  PinterPolitik.com  "Might does not...

Zelensky Kena PHP NATO?

Keinginan Ukraina untuk masuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mendapat “hambatan” besar. Meski mengatakan bahwa “masa depan” Ukraina ada di NATO, dan bahkan telah...

Eropa “Terlalu Baik” Terhadap Imigran?

Kasus penembakan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian terhadap seorang remaja imigran telah memicu protes besar di Prancis. Akan tetapi, kemarahan para demonstran justru...

More Stories

Ridwan Kamil, Kunci Golkar 2029?

Golkar masih menimbang-nimbang soal kemungkinan Ridwan Kamil (RK) alias Kang Emil untuk maju di Pilkada Jakarta atau Pilkada Jawa Barat.

Royal Rumble Pilkada: Jokowi vs Mega vs Prabowo

Pilkada 2024 akan makin menarik karena melibatkan pertarungan perebutan pengaruh para elite. Ini penting karena kekuasaan di level daerah nyatanya bisa menentukan siapa yang paling berpengaruh di level elite.

Mengapa Risma Bisa Saingi Khofifah?

Nama Tri Rismaharini (Risma) diwacanakan untuk jadi penantang bagi Khofifah Indar Parawansa di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2024.