HomeCelotehSandi Ogah Jadi Malin Kundang?

Sandi Ogah Jadi Malin Kundang?

“Sebagai kader Gerindra, tentunya saya sangat menghormati dan mengikuti arahan dari Ketua Umum, Bapak Jenderal Prabowo, dan beliau menugaskan saya untuk fokus dalam tugas di kementerian” – Sandiaga Uno, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra


PinterPolitik.com

Politik itu dinamis, kadang kenyal seperti daging dan bisa juga seketika berubah keras seperti tulang.

Ungkapan di atas menjadi adagium yang telah mendarah daging dalam ranah politik. Oleh karena itu, sekali kita terjun dalam dunia politik, maka seketika itu pula harus bisa mengikuti role of the game.

Jika tidak, kita hanya akan menjadi buih dari luasnya samudera, menjadi embun dari derasnya hujan.

Nah, karena politik itu dinamis, beberapa waktu terakhir muncul wacana kalau sejumlah pengurus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di berbagai daerah menyatakan dukungan terhadap Sandiaga Uno.

Mereka mendorong Sandi untuk mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pilpres 2024.

Inilah penyebab panas-panas dalam tubuh Partai Gerindra, sontak beberapa kader partai menyatakan kritik kepada Sandi yang dianggap genit. Meski sebenarnya sih agak salah sasaran, kan yang minang partai lain. Hehehe.

Di sisi lain, pinangan ini cukup masuk akal karena di atas kertas sulit bagi Sandi untuk bisa mencalonkan diri dari Partai Gerindra. Semua orang tahu bahwa bicara capres Gerindra senafas dengan nama Prabowo Subianto.

Prabowo sebagai Ketua Umum (Ketum) Gerindra, telah mendapat dukungan dari hampir seluruh pengurus dari pusat hingga daerah. Elektabilitas Prabowo juga masih jauh di atas Sandi.

image 47
Sandi, Siap Salah?

Merespons desas-desus pencalonannya, Sandi enggan bicara banyak mengenai dukungan dari PPP. Bahkan menegaskan bahwa dirinya taat kepada tugas yang diberikan Prabowo.

Sontak, pernyataan ini ingin menegaskan komitmen Sandi yang dianggap hampir saja menjadi “Malin Kundang” bagi Prabowo dan Gerindra.

Anyway, istilah politik Malin Kundang ini bukan hal yang baru loh. Meski secara historis Malin Kundang hidup pada sastra Melayu, tetapi jejaknya saat ini muncul di jagat politik produk demokrasi modern.

Politik Malin Kundang adalah politik yang lupa daratan. Ketika kader partai melakukan pembangkangan terhadap pimpinannya, layaknya Malin Kundang yang menampik ibunya setelah dia kaya raya.

Bisa juga diumpamakan dengan istilah lain, “Kacang lupa akan kulitnya” yang telah menjadi bagian dari karakter para kader politik di tanah air.

Apa yang diperagakan oleh Sandi untuk enggan menjadi Maling Kundang, sebenarnya adalah upaya untuk menegakkan fatsun politik atau sopan santun politik. Dengan kata lain, Sandi tetap taat fatsun politik yang berlaku di Gerindra.

Hmm, untung ya Sandi tetap taat kepada prabowo sebagai good boy. Karena kalau dipikir-pikir lagi, seandainya Sandi blunder, maka kutukan berkepanjangan yang akan menimpanya.

Enggak kebayang sih, kalau kutukan politik Malin Kundang itu dapat berefek pada karier politik Sandi ke depan, tidak hanya di Gerindra bahkan di partai-partai lain.

Perlu diingat, politik selain dinamis juga perlu pengorbanan, dan itu adalah ketaatan politik, taat terhadap fatsun. Hehehe. (I76)


Kelas Revolusi Baru, Jalan Nadiem Menuju Pilpres
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...