Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Saatnya Minum “Jamu” ala Jokowi?

Saatnya Minum “Jamu” ala Jokowi?


A43 - Friday, July 30, 2021 12:00
Joko Widodo (Jokowi) kala masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta mencicipi segelas ramuan jamu ketika melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sebuah kios jamu yang terletak di Pasar Perumnas Klender, Jakarta, pada tahun 2013 silam. (Foto: Istimewa)

0 min read

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) untuk acuan pembangunan bila terjadi pergantian pemerintahan setelah pemilihan umum (Pemilu). Apakah GBHN ini “jamu” ala pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) untuk jadi obat mujarab pembangunan Indonesia?


PinterPolitik.com

Gaes, pernah tahu nggak sih kalau ternyata ada sejumlah negara yang katanya memiliki produk Coca-Cola yang berbeda? Mimin juga baru tahu lho. Katanya sih, Coca-Cola yang dijual di Meksiko punya rasa yang berbeda dengan produk Cola pada umumnya.

Mimin baru tahu setelah iseng-iseng scrolling video-video yang ada di halaman recommended YouTube mimin. Ngomong-ngomong soal YouTube nih, video-video buatan mimin juga pasti ada dong di recommended kalian. Kalau belum tahu video-videonya mimin, cek aja tuh channel PinterPolitik TV. Hehe.

Oke oke, balik lagi ke cerita Coca-Cola tadi. Jadi, katanya sih, Cola yang diproduksi di negara Amerika Tengah itu masih menggunakan formula asli yang digunakan perusahaan itu sejak zaman dulu kala. Makanya, ada yang bilang kalau di Meksiko itu, Cola-nya adalah the real Cola.

Hmm, mimin jadi penasaran nih buat nyobain. Soalnya nih, jujur aja ya, mimin tuh suka banget sama minuman-minuman berkarbonasi macam Cola. Sampai-sampai, mimin biasanya beli tuh tiap hari di kantin sekolah pas masih zaman SMA. Peace ya, Om Deddy Corbuzier. Mimin tahu kok kalau itu nggak sehat sama sekali. Hehe.

Makanya, ibu mimin itu suka ngelarang kalau misalnya mimin ketahuan beli Cola atau soda-soda manis lainnya. Karena sayang, ibu mimin khawatir tuh kalau minuman itu nantinya bisa berujung ke macam-macam persoalan kesehatan – mulai dari obesitas, diabetes, sampai penyakit-penyakit lainnya.

Ya, daripada soda-soda macam Cola, ibu mimin lebih suka kalau mimin minum jamu tuh. Maklum lah, kan mimin terlahir di keluarga Jawa. Gimana-gimana, mimin pun harus tuh minum jamu yang dibikinin sama ibu mimin.

Baca Juga: Mengapa Puan ‘Mirip’ Teh Botol?

Kotak Pandora Jokowi GBHN

Tapi nih, ngomong-ngomong soal minuman Cola nih, kalian tahu kan kalau minuman jenis ini juga diproduksi oleh merek-merek yang berbeda? Nah, mereknya itu namanya Pepsi. Hubungan kedua merek ini sering tuh menimbulkan perdebatan soal mana yang lebih enak – berujung menjadi sebuah rivalitas tuh.

Dulu sih mimin lebih suka yang Pepsi sih soalnya rasanya agak beda gitu. Ya, meski begitu, gimana lagi, gaes? Pepsi udah nggak dijual lagi di Indonesia. Eh, tapi, ternyata ada lho orang yang menilai Pepsi dan Cola ini sama aja. Beliau adalah Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti.

Dalam acara Seminar dan Dialog 50 Tahun CSIS Indonesia pada Senin (26/7) kemarin, Pak Abdul bilang Pepsi dan Cola ini rasanya mirip-mirip meskipun beda merek. Rasa yang mirip-mirip ini berlaku tuh dalam arah pembangunan negara ala Amerika Serikat (AS).

Intinya sih, Pak Abdul bilang kalau pergantian presiden di negeri Paman Sam ini mirip-mirip sama Pepsi-Cola – beda merek tapi satu rasa. Nah, maka dari itu, Pak Sekretaris Umum PP Muhammadiyah bilang Indonesia juga perlu tuh menggunakan jenis “minuman” yang sama, yakni Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Hmm, kalau di Indonesia kan, udah nggak ada Pepsi nih, Pak. Gimana kalau jenis “minuman” ini diganti sama yang selalu ada tuh, yakni jamu. Kan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sukanya jamu tuh. Bahkan, katanya, Pak Jokowi minum jamu hampir tiap hari.

Bisa jadi tuh, kalau udah ada jamu GBHN, presiden-presiden setelah Pak Jokowi akhirnya bisa minum minuman yang sama nanti. Ya, meski jamu sendiri ada banyak macamnya ya – mulai dari sinom hingga beras kencur, pemerintah nanti tetap aja minum jamu yang rasanya pahit nan pedas tapi sehat tuh. Hehe.

Siapa tahu kan nanti pembangunan Indonesia jadi lebih sehat juga tuh dengan kehadiran “jamu” bersama itu? Tapi, ingat ya, minumannya harus jamu – bukan teh botol (colek Ketua DPR Puan Maharani). Hehe. (A43)

Baca Juga: Perlukah GBHN Kembali?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait